Persepsi Merupakan Resepsi Pancaindera Yang Objective
Rangsang2 kepada pancaindera kita tidak selalu diterima sesuai dengan
rangsangnya, karena rangsang2 ini bisa diubah gambarannya oleh pengaruh
kepercayaan, keyakinan, maupun perasaan2 subjective lainnya.
Oleh karena itu, pendidikan utama dalam menjadi peneliti, scientist, dan
pengamat ditujukan untuk melatih diri untuk bisa menerima persepsi se-objective
mungkin. Namun disamping itupun harus disertai pengulangan pengamatan oleh
ahli2 lain untuk memastikan bahwa hasilnya tetap sama.
Penciptaan alat2 teknologi juga bertujuan untuk membantu persepsi yang
objective ini mendapatkan hasil2 yang lebih akurat atau sesuai dengan
realitasnya.
Persepsi bias, atau penyesatan persepsi, atau penipuan persepsi adalah ciri
utama dari penanaman keimanan, kepercayaan, keyakinan, dan penanaman konsepsi
segala bentuk dongeng2 sebagai brainwashig.
> Arif Budi utomo <budiutomoa...@...> wrote:
> Betulkah ? betulkah manusia mampu
> untuk membebaskan diri 'secara
> murni' seperti kata anda ?
> Seberapa objecktive-kah pikiran
> manusia> itu ? mampukah ilmuan
> itu terbebas dari presepsi-nya
> sendiri?
Enggak perlu didiskusikan, karena bisa atau tidak bisa manusia membebaskan diri
dari keyakinan, kepercayaan dan subjectivitasnya bukan masalah besar dalam
science karena selalu ada scientist lainnya yang juga ikut menelitinya sebagai
saksi lain.
Tapi bukan cuma begitu aja, alat2 teknologi yang kita ciptakan juga merupakan
alat bantu persepsi kita yang juga pasti lebih objective.
Selalu dalam science itu semua experiment di-ulang2 sepanjang zaman diseluruh
dunia oleh semua ahli2 yang berbeda, kalo ada perbedaan hasil maka akan
dilakukan pengamatan ulang oleh team2 lain yang dibentuk sehingga betul2 bisa
didapatkan hasil persepsi yang bebas dari subjectivitas.
Pedidikan menjadi scientist juga merupakan bagia latihan untuk berpikir dan
melatih persepsi yang objective bukan berarti mematikan subjectivitasnya.
Jadi ngalor ngidul debat kusir anda lainnya tidak akan saya bahas disini.
Tidak ada kaitan urusan psiko-analisa. Juga tak perlu diskusi kusir tentang
"atheist", karena "atheist" ini juga bukan istilah science, hanya istilah untuk
object umat beragama menamakan target yang dibencinya. Atheist itu bukan agama
bukan ideologi, dan bukan kelompok pemikiran. Atheist itu sama sekali tidak
ada definisi yang konsistent karena setiap agama menggunakan istilah atheist
untuk target kebencian yang ber-beda2. Atheist itu tidak punya buku suci,
tidak punya cara2 beribadah, tidak mengenal dakwah, jadi sebenarnya tidak
pernahada "atheist" dalam arti sebenarnya yang bisa didefinisikan dengan
persepsi objective yang sama bagi umat semua agama.
Mampu atau tidak mampu seorang ilmuwan melakukan persepsi yang objective
menjadi tingkat reliability penilaian seorang ilmuwan, karena objectivitasnya
bisa di-check dan re-check objectivitasnya oleh ilmuwan lain dan juga dengan
pembuktian peralatan teknologi.
Jadi memang, tidak ada persepsi yang sempurna, dan penciptaan alat2 bantu
teknologi justru bertujuan meningkatkan objectivitas atau penyempurnaan
persepsi tadi dari segala subjectivitas dan bias.
Ny. Muslim binti Muskitawati.