Kenapa Bilqis Akhirnya Mati ???
                                                       
Jawabnya juga gampang! Yaitu matinya karena infeksi pernapasan yang disebut 
sebagai "Nosocomial Infection" yang artinya infeksi yang terjadi karena 
kesalahan, kealpaan, dan fasilitas minim dari rumah sakitnya, perawatnya, dan 
dokter2nya.

team dokter RS Karyadi enggak mampu mencangkok hati seperti yang diakuinya 
secara bohong bahwa bisa mencangkok hati.

Kalo reputasi pengalaman mencangkok hati aja belum ada, gimana bisa dipercaya 
pengakuan takaburnya ini???

Bilqis akhirnya mati karena enggak di-apa2in.  Kalo matinya cara begini, enggak 
perlu-lah dibawa ke RS Karyadi, tapi ditidurin dikuburan sepi enggak perlu 
di-apa2in juga matinya sama.

Lebih murah mati dikuburan dibandingkan ongkosnya mati tidur di RS. Karyadi.  
Tapi celakanya dokter2 penyembah Allah ini malah mengkambing hitamkan Rumah 
Sakit di Singapore dan Amerika, yang dituduhnya terlalu lambat mengirimkan 
hasil pemeriksaan darah Bilqis.

Harusnya khan RS Karyadi ini membangun Lab pemeriksaan darahnya sendiri bukan 
malah dikirim ke Singapore atau Amerika.  Padahal RS Karyadi ini termasuk RS 
terbesar dan terlengkap di Indonesia, apalagi MenKes juga turun tangan 
menyiapkan langsung segalanya.  Tapi memang dokter2 di Indonesia enggak ada 
yang ngerti bahasa Inggris, lebih banyak yang paham bahasa Arab.

Padahal, kalo memang sudah sanggup mencangkok hati Bilqis, kenapa periksa 
darahnya aja enggak bisa sehingga harus dikirim ke RS di Singapore dan Amerika 
yang akhirnya dijadikan kambing hitam kematian Bilqis.

Matinya Bilqis itu khan karena infeksi pernafasan bukan karena terlambat 
diperiksa darahnya.

Naaaah....  sekarang marilah saya ajak pembaca untuk menganalisa darimana 
datangnya infeksi pernafasan ini ????

Penyebab terjadinya infeksi pernapasan adalah yang disebut "Nosocomial 
Infection", yaitu infeksi yang terjadi akibat salah perawatan di Rumah sakit, 
yang kalo terjadi diAmerika maka RS-nya akan dituntut oleh pasiennya.  Di 
Amerika kasus infeksi ini cukup tinggi yaitu 10%, tapi di Indonesia 
dirahasiakan karena menyangkut reputasi rumah sakitnya.  Tapi bisa diduga, dari 
pengalaman saya kerja di Rumah Sakit, maka kasus Nosocomial Infection ini 
berkisar antara 85% hingga 95%.  Yang salah disini adalah perawatan di Rumah 
Sakit itu sendiri oleh perawat dan dokter2nya.  Tetapi yang bertanggung jawab 
tentunya dokter2nya, karena dokter2 inilah yang harusnya memberi perintah2 
medis kepada para perawat2nya.

Mencegah terjadinya Nosocomial Infection ini juga bukan susah kecuali 
dokter2nya alpa, atau memang sudah direncanakan agar pasiennya mati aja 
sehingga duit sumbangan bisa di-bagi2.  Dan yang begini inilah akan 
menguntungkan semua pihak dan lagi pula Bilqis-nya juga enggak ngerti cuma 
pasrah aja.

http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=4590
http://jama.ama-assn.org/cgi/content/abstract/274/8/639
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/000293439190346Y
http://www.jstor.org/pss/4452606
http://www.wrongdiagnosis.com/n/nosocomial_infections/stats.htm

Demikianlah, jadi bukan asal ngoceh aja, benar2 yang saya bilang ini, nasib 
Bilqis lebih panjang umurnya kalo ditidurin dikuburan.  Tentu umurnya jadi 
lebih panjang lagi kalo dirawat ibu bapaknya dengan penuh kasih sayang.

Tapi apa mau dikata, Rumah Sakit, team dokter, dan orang tua Bilqis sama2 
untung bisa bagi2 warisan Bilqis yang lebih dari satu milyard rupiah ini.

Mungkin duit ini bisa dianggap halal bukan dianggap sebagai uang korupsi.....  
cuma setan lah yang tahu.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke