> hendri simatupang <bang_...@...> wrote: > Anda pernah katakan nama dari Bintang > dan Planet berasal dari Dewa-dewa, nah > kalo begitu sejarah Dewa-dewa tentu > sudah ada dari dulu..pertanyaan menjadi > dari mana dimulai cerita tsb ?
Iya... bukan sejarang tapi dongeng2 kepercayaan Yunani Kuno. > Apakah Dewa-dewa tsb adalah jenis > malaikat atau berdiri sendiri tentu > akan menarik. Bila anda punya tulisan > sejarah lain yang berbeda..tulislah tetap, itu namanya kepercayaan, rujukannya bisa jadi tradisi budaya bukan sejarah. Namun memang dulunya antara sejarah, budaya dan agama terkadang sulit dilepaskan keterkaitannya. Oleh karena itu kalo mau ditulis harus diingatkan kalo hal itu merupakan dongeng2 bukan sejarah karena bisa salah menafsirkan jadinya. Dan ini malah jadi problem di Indonesia yang enggak ada pemecahannya. contoh saja tentang raja Ken Arok dan Ken Dedes, menurutku itu cuma dongeng, tapi ada yang menganggapnya bukan dan masuk sejarah. Juga ratu calon arang, kurang kuat untuk dianggap sejarah. Jadi susah di Indonesia, campur aduk semuanya itu. Ini lebih parah lagi jadinya karena agama Islam wajib diajarkan disemua sekolah diseluruh Indonesia, bahkan negara pun membiayai projek agama disekolah ini. Jadi enggak heran kalo kacau enggak bisa dibedaka mana ilmu pengetahuan dan mana agama. > kritisimu, tidak perlulah kau > marah-marah begitu...santai saja. Lhoo.... kapan aku marah2??? ada2 aja kamu ini!!! > Bila anda mengaku pakar > sejarah buat saja sumber > data penelitianmu..nah > Jangan bicara ilmiah - > ilmiahanlah ..masa mengaku > lulusan Phd - Amerika, > tapi Journal saja ga punya > referensinya cuma dari > googling dan wikipedia.. > payah Hasil penelitian sendiri atau hasil analisis sendiri adalah referensi yang paling kuat. Kalo menggunakan referensi orang lain sama sekali sama dengan jiplak ide orang lain. Amerika referensi kayak gitu enggak pernah dianjurkan. Mungkin karena di Indonesia enggak ada peneliti sehingga harus membonceng referensi buatan ahli2 lain malah cara begitu lebih dihargai. Lain disini, setiap orang punya penelitian sendiri sehingga pendapatnya itulah yang ditonjolkan kemuka bukan pakai referensi orang lain. Referensi itu cuma digunakan kalo kita melanjutkan penelitian orang lain, bukan untuk mencari pembelaan pendapatnya agar bisa diterima, itu namanya jiplak. Apalagi, referensi itu harusnya diterima umum oleh semua orang, artinya referensi itu merupakan fact bukan opini ahli lainnya. Celakanya, para sarjana lulusan Indonesia, sangat lemah kemampuannya dalam membedakan antara "fact" dan "opini". Malah quran dan bible dijadikannya juga referensi padahal keduanya itu bukanlah "fact" sehingga tak mungkin dinamakan referensi. > ________________________________ > From: muskitawati <muskitaw...@...> > To: [email protected] > Sent: Mon, April 12, 2010 4:53:59 AM > Subject: [parapemikir] Dongeng, Sejarah, Agama dan Ilmu Pengetahuan Semua > Sama ??? > > > Dongeng, Sejarah, Agama dan Ilmu Pengetahuan Semua Sama ??? > > Begitulah kurikulun pendidikan di Indonesia: Dongeng2 dalam agama dijadikan > sejarah, kemudian mistik2 dan tahyul2 dalam agama dijadikan ilmu pengetahuan. > > Begitulah bedanya, kalo lulusan sarjana pendidikan negeri2 maju menghasilkan > sarjana2 ber IQ tinggi yang bisa menciptakan berbagai produk untuk membantu > meringankan beban hidup, menambah kebahagiaan dan mengurangi penderitaan, > maka sebaliknya: > > Lulusan pendidikan di-Indonesia menghasilkan sarjana2 ber EQ tinggi yang > pandai menciptakan berbagai macam malapetaka yang memberatkan beban hidup, > mengurangi kebahagiaan dan menambah penderitaan. > > Hal ini dikarenakan faktor IQ itu berbeda dari faktor EQ. Kalo IQ itu > memperkuat logika dalam otaknya, maka EQ itu meninggikan tahyul2 dalam > keimanannya. > > > hendri simatupang <bang_iut@ .> wrote: > > Sejarah awal Lucifier juga sangat > > menarik..wanita cantik, > > Saya belum pernah baca atau menemukan dalam buku sejarah manapun tentang > Lucifer sebagai figur sejarah ???? > > Setahu saya, Lucifer itu adalah nama setan dalam dongeng2 dalam Bible seperti > halnya nama Arjuna dalam dongeng2 dalam kitab suci agama Hindu. > > Entahlah, mungkin sudah ada yang menemukan bahwa Lucifer dan Arjuna itu > merupakan figur sejarah yang lupa dicatat dalam buku sejarah. Memang di > Indonesia tercampur aduk antara dongeng, sejarah, kepercayaan, dan science. > Semuanya jadi satu paket dalam dunia pendidikan wajib disekolah diseluruh > Indonesia. > > Kuliah2 Harun Yahya yang dinegara asalnya di Turki dilarang, ternyata di > Indonesia jadi bahan ilmu pengetahuan wajib yang harus diajarkan disemua > sekolah diseluruh Indonesia. > > Jadi susah nantinya untuk lulusan Indonesia dalam melanjutkan sekolah belajar > diluar negeri. Susah membedakan bedanya dongeng dan sejarah, dan membedakan > science dari agama. > > Ny. Muslim binti Muskitawati. >
