http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=16577
2010-04-16 53 Negara Bentuk "Infrastructure Fund" Asing Siap Garap Megaproyek RI [JAKARTA] Investor asing sangat tertarik menggarap sejumlah megaproyek yang tengah ditawarkan Pemerintah Indonesia dalam acara Infrastructure Development 2010. Mereka menilai, iklim investasi dinilai semakin kondusif di Tanah Air. Salah satu di antara megaproyek itu adalah Jembatan Selat Sunda (JSS) yang diperkirakan menelan investasi senilai US$ 10 miliar. Demikian rangkuman wawancara dengan Presiden Direktur PT Bangungraha Sejahtera Mulia (BSM) Agung Prabowo, Presiden Direktur PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid, Executive Vice Chairman MEC Holdings Madhu Koneru, dan Vice President Intel Corporation John Davies di Jakarta, Kamis (15/4). Mereka menyatakan minatnya menggarap proyek JSS yang juga melibatkan Pemda Lampung-Banten dan Artha Graha Network. Agung Prabowo mengatakan, pengusaha Tiongkok lebih serius dibanding investor lainnya. Pembangunan JSS diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$ 10 miliar. Pembangunan proyek akan dimulai tahun 2012 dan ditargetkan selesai pada 2017. Luas proyek ini mencapai sekitar 29 kilometer (km). Madhu Koneru menjelaskan, dukungan pemerintah sangat signifikan untuk merealisasikan berbagai proyek yang sedang ditawarkan. Pemerintah harus memahami nilai dan manfaat yang timbul dari hasil pembangunan proyek di berbagai daerah. Madhu mengungkapkan, MEC berencana membangun fasilitas industri terpadu di Kalimantan Timur. Sementara itu, John Davies mengakui, iklim investasi Indonesia semakin membaik. Hal itu ditandai berbagai perbaikan regulasi yang terkait dengan kondisi politik, keamanan, dan ekonomi. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menawarkan sebanyak 42 proyek infrastruktur senilai Rp 157 triliun. Ke-42 proyek itu mencakup 30 proyek jalan tol, 10 proyek air minum, dan dua proyek pengolahan sanitasi, serta limbah. Dalam Konferensi dan Pameran Infrastructure Asia 2010, empat megaproyek infrastruktur senilai lebih dari US$ 5 miliar siap ditawarkan lewat kerja sama pemerintah swasta (KPS) atau public private partnership/PPP)."Target dari acara Infrastructure Asia ini adalah mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia telah siap menerapkan public private partnership. Pola kerja sama ini sudah menjadi perhatian Presiden, Wakil Presiden, dan semua pemangku kepentingan (stakeholders)," jelas Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy Supriadi Priatna. Dia menjelaskan, keempat proyek tersebut meliputi pembangunan jalur rel kereta api untuk batu bara di Kalteng senilai US$ 1 miliar, power plant di Jateng sebesar US$ 3 miliar, dan pembangkit listrik olahan sampah US$ 240 juta di Jabar. Proyek lain terdapat di Jatim, yakni water supply air bersih di Umbulan sebesar US$ 1 miliar. Pendanaan Terkait dengan pendanaan, sebanyak 53 negara kawasan Asia Pasifik anggota United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (Unescap) sepakat membentuk pendanaan bersama atau infrastructure fund. Ketua Panitia Pelaksana Asia Pasific Ministerial Conference (APMC) 2010 Bastary Pandji mengungkapkan, gagasan pembentukan infrastructure fund di tingkat komite senior (dirjen) sudah bulat. "Pada 17 April 2010 akan disepakati di tingkat menteri yang kemudian dilanjutkan pembentukan task force untuk merealisasikan ide itu," katanya. Menurut Bastary yang juga Direktur Pengembangan Ker-jasama Pemerintah Swasta (KPS) Bappenas itu, forum Unescap juga menargetkan keberhasilan pembentukan asosiasi atau kesepakatan bersama mengenai bidang infrastruktur di Asia Pasifik. [ID/H-12] --------------------------------------------------------------------------------
