Pembimbing Adalah Paling Bertanggung Jawab Dalam Plagiarisme !!!
                                        
Sikap rektor ITB betul2 menyesatkan, dia tidak mengerti prosedural atau 
protokol dalam penyusunan disertasi.  Sikap rektor ITB sangat mencurigakan, 
kelihatannya beliau juga belum pernah menyusun disertasi atau bahkan mungkin 
juga melakukan plagiarisme yang sama sehingga buta tata cara atau protokol 
penyusunan disertasi ini.

Pernyataan Rektor ITB bahwa pembimbing tidak terlibat sudah betul2 "out of the 
responsibility".  Sebuah team netral harus memeriksa semua track record ilmiah 
dari rektor ITB.

Dalam setiap penyusunan disertasi, tidak pernah seorang calon doctor langsung 
membuat sendiri makalahnya untuk kemudian meminta pembimbingnya memeriksa 
apabila ada kesalahan yang perlu dikurangi atau ditambahkan.

Setiap calon doctor harus mengajukan problem2 yang dipilih bersama para 
pembimbingnya untuk kemudian mendapatkan persetujuan dari para pembimbingnya.  
Dalam banyak hal, para pembimbing inilah yang karena banyak pengalamannya 
memberi advis atau nasihat kepada calon doctor ini untuk memfokuskan kepada 
sebuah masalah yang perlu dicari solusinya.  Umum bagi semua pembimbin adalah 
juga pernah atau aktif memegang sebuah proyek dibidangnya, sehingga meminta 
bantuan sang calon untuk memecahkan masalah2 yang dihadapinya.  Demikianlah 
dengan kerja sama si calon doctor dan pembimbingnya akan menghasilkan suatu 
produksi disertasi yang spektakuler spesifik memberi solusi problem ilmiah yang 
real ada realitas nya dilapangan.

Bagaimana mungkin si pembimbing bisa tidak tahu dari mana sumber2 si calon 
doctor itu mengambil subyek yang ditelitinya ???  Apalagi, kalo bisa dibuktikan 
bahwa para pembimbingnya juga bukan spesialisasinya di subyek disertasi yang 
disusun calon doctor tsb, maka hal ini lebih membuktikan lagi bahwa disertasi 
Zuliansyah ini memang cuma sandiwara saja.

Memang benar, pengalaman saya sebagai pembimbing mahasiswa hanya terbatas pada 
tingkatan S1 saja bukan tingkatan doctoral, tetapi persyaratan dan kewajiban 
seorang atau team pembimbing sebenarnya sama saja hanya scope dari 
permasalahannya yang bisa berbeda.

Sebagai seorang pembimbing, saya bisa memastikan disertasi dari murid yang saya 
bimbing itu adalah plagiart hanya dari menilai susunan bahasa Inggris yang 
digunakan sang murid.  Setiap murid memiliki ke khasan yang ber-beda2 dalam 
penggunaan bahasa Inggris dalam menyusun makalah.  Oleh karena itu, cukup dari 
susunan bahasa Inggris yang diluar kebiasaan sang murid bisa saya pastikan 
bahwa semua itu bukan hasil karya ybs.

Demikianlah apa yang terjadi dengan Zuliansyah, dia tidak memahami cara2 
menggunakan dan menyusun makalah dalam bahasa Inggris sehingga dia menelan 
bulat2 atau mengcopy bulat2 seluruh isi buku dari textbook yang disusun ahli 
lain.

Di Amerika banyak Universitas2 kacangan yang menjual disertasi, umumnya para 
pedagang disertasi itu adalah para pembimbing yang sudah berpengalaman, mereka 
melayani berbagai pesanan disertasi dengan mengubah susunan kata2 bahasa 
Inggris, memutar balik judulnya dan mengalihkan atau mengubah fokus 
permasalahan maupun solusinya.  Hal2 seperti ini lebih susah dilacak karena 
isinya se-olah2 sama sekali berbeda karena keahlian si pembimbing dalam 
penggunaan bahasa inggrisnya.

Tidak demikian dengan kasus Zuliansyah, dia bukan menyusun apapun, melainkan 
hanya mengcopy-nya saja yang oleh para pembimbingnya yang juga tidak mengerti 
hanya ditelan bulat2 saja.

Tidak bisa tidak, si pembimbing harus dituntut, dia diduga menjual disertasi 
kepada Zuliansyah sebagai pembelinya.  Juga dalam hal ini rektor ITB harus 
dipecat karena dialah yang harus bertanggung jawab atas tindakan bawahannya 
itu.  Bahkan dari pernyataan2 nya itu sendiri sudah mengarahkan bahwa dia 
sendiri juga bandar pelaku perdagangan disertasi, apalagi dia juga melindungi 
para pembimbingnya itu.

Majalah IEEE yang jadi korban pemalsuan disertasi oleh Zuliansyah bukanlah 
lembaga resmi ilmu pengetahuan, melainkan hanya lembaga persatuan professiona 
Electrical Engineering yang membantu mendistribusi berita2 terbaru dalam 
pengembangan teknologi electrical engineering.  Kalo sampai hal ini diteruskan 
kepada lembaga ilmu pengetahuan dunia, maka ITB sudah harusnya dibubarkan.  
Namun kebetulan karena ITB tidak termasuk rating atas, maka pihak IEEE tidak 
merasa perlu menindak lanjuti masalah ini.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke