Refleksi :SBY bisa sepuh lidah tentang kemaslahatan untuk rakyat, tetapi 
bagaimana dengan harta hasil korupsi Suharto yang disembunyikan di berbagai 
pelosok dunia dan juga kasus bank Century? Bukankah kedua hal ini terkait 
kepentingan rakyat banyak?

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=16764

2010-04-19
Kemaslahatan untuk Rakyat Banyak 
Oleh : Wim Tangkilisan


Akhir-akhir ini, sebuah tema sering diulang oleh Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) dalam berbagai kesempatan berpidato. Kadang, tema itu diangkat 
pula dalam percakapan pribadi, sehingga siapa pun bisa merasakan bahwa itu 
bukan sekadar retorika, melainkan benar-benar sebuah ide yang patut disimak dan 
menjadi dasar seluruh pemikiran SBY.


SBY mengatakan dalam demokrasi, landasan bagi seluruh tujuan pemerintah dalam 
segala programnya adalah bagaimana memberikan kemaslahatan terbesar bagi 
sebagian besar rakyat. "To provide the greatest good to the greatest number of 
people." Hal serupa seharusnya menjadi tujuan setiap partai yang 
mendeklarasikan diri sebagai pembela demokrasi. 


Dengan sangat hati-hati ditegaskan Presiden, dalam demokrasi, hukum harus 
ditegakkan. Namun, pada saat sama, ketika kekuatan koersif hukum tidak cukup 
kuat untuk mempertahankan sebuah masyarakat yang bergerak dalam kebebasan, maka 
pertimbangan akal sehat (reason) harus menjadi penopang sistem demokrasi. Sebab 
itu, berbicara tentang demokrasi, tidaklah cukup bila komponennya hanya 
mencakup aturan hukum (rule of law), namun harus dibarengi pertimbangan akal 
sehat (rule of reason). 


Di dalamnya, kebebasan dan pengelolaan negara harus dirasakan secara penuh oleh 
rakyat. Misalnya, pemberian pelayanan sosial yang sangat mendasar bagi rakyat 
banyak, yang hidupnya bergantung pada pelayanan yang dapat meningkatkan 
kualitas hidup mereka.

Pemikir Cerdas
Dengan menggemakan tema "kemaslahatan terbesar bagi jumlah terbesar", Presiden 
SBY berada dalam barisan pemikir cerdas. Pada 1961, dalam perayaan 
pelantikannya, Presiden John F Kennedy menyatakan kalimat terkenal ini. "Jika 
sebuah masyarakat bebas tidak bisa menolong orang miskin yang jumlahnya begitu 
banyak, maka ia tidak dapat menyelamatkan sedikit mereka yang kaya," "If a free 
society cannot help the many who are poor, it cannot save the few who are rich."
Sebenarnya, kalimat seperti itu tidak hanya diucapkan para pemimpin politik 
saja. Selama berabad-abad, agama-agama mengajarkan keharusan mempraktikkan 
kemaslahatan bagi orang miskin, sebagai salah satu bentuk ekspresi menghadirkan 
kerajaan Surga di bumi. 


Pemerintah tentu saja tidak sedang mengharapkan balasan surgawi untuk kebaikan 
yang dilakukan selama di bumi. Tapi, yang jelas dan pasti, kesuksesan atau 
kegagalan dari sistem sosiopolitik yang mereka ciptakan akan dinilai dari 
seberapa banyak hal itu membawa kebaikan kepada sebanyak mungkin orang. 


Tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah juga harus tunduk pada sebuah etika, 
yaitu etika imperatif yang membatasi pemerintah untuk hanya memfokuskan diri 
melakukan sebanyak mungkin kebaikan bagi sebanyak mungkin orang di bawah 
kepemimpinannya. Dari manakah etika imperatif itu berasal? Itu mungkin sesuatu 
yang melekat dalam intuisi manusia. Sebuah intuisi yang dihasilkan oleh evolusi 
manusia dan atau pun karena dimitoskan di dalam tulisan-tulisan para filsuf 
masa pencerahan Prancis, yang kemudian dikenal dengan istilah kontrak sosial 
antara pemerintah dan yang diperintah. 

Etika Utilitarian
Adalah Jeremy Bentham, seorang intelektual Inggris yang hidup pada abad 19 
mengungkapkan hal itu dalam kalimatnya yang terkenal, yang dengan itu dia 
dikenal sebagai seorang moralis. "Kemaslahatan terbesar bagi jumlah terbesar 
orang adalah ukuran dari kebenaran dan kesalahan". It is the greatest good to 
the greatest number. That is the measure of right and wrong.


Dalam terang pemahaman inilah mengapa korupsi dinilai sebagai sesuatu yang 
sangat menjijikkan. Sebab, hasil korupsi itu hanya dinikmati oleh sedikit 
individu sementara pada saat yang sama, tak terhitung jumlah orang yang sangat 
kekurangan atau tidak mendapat bagian dari kekayaan yang seharusnya 
terdistribusi secara merata kepada mereka. 


Kemudian, dalam kapasitasnya sebagai filsuf politik dan ahli hukum, Bentham 
menulis kalimat terkenal yang membuat dia digelari sebagai Bapak 
Utilitarianisme. Bentham menulis, "kebahagiaan terbesar masyarakat banyak 
adalah landasan bagi moral dan perundang-undangan". The greatest happiness of 
the greatest number is the foundation of morals and legislation." Dengan 
prinsip itu, setiap orang dinilai bermoral sejauh dia melayani kebahagiaan 
sebanyak mungkin orang lain.
Jasad Bentham telah diawetkan dengan keajaiban ilmu pembalseman dan disimpan di 
University College, Inggris. Pemikirannya mengenai pemerintah telah diawetkan 
dengan lebih baik dalam kredo tugas pelayanan publik oleh pemerintah yang 
kemudian dikenal dengan ungkapan "dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat."


Mitra Bentham, James Mill, memiliki putra yang terlatih dengan baik dalam 
membawa obor British utilitarianism. Anak itu, bernama John Stuart Mill, yang 
telah berkarya dan kemudian dikenal sebagai Bapak Libertarianisme modern. 
Pemikiran-pemikiran mereka itu, pada dewasa ini menjadi dasar bagi advokasi 
hak-hak asasi manusia dan kebebasan fundamental.

Tanda Tanya Besar
Tidaklah salah kalau dikatakan, ide dan pemikiran SBY tentang "kemaslahatan 
terbesar bagi sebagian besar rakyat" memiliki silsilah agung dengan merujuk 
pada pemikiran para tokoh besar itu. Namun, pertanyaan besarnya terletak pada 
persoalan apakah Presiden SBY mempraktikkan apa yang diucapkannya. Menurut 
saya, jawaban atas pertanyaan itu ada pada rakyat Indonesia sendiri yang telah 
memilih SBY sebagai presiden.


Pada periode pertama, SBY mengadopsi sebuah kebijakan ekonomi yang tanpa 
ragu-ragu, pro-bisnis, pro- lapangan kerja, dan pro-orang miskin (pro-business, 
pro-job creation, and pro-poor). Itu adalah kebijakan yang tepat dan sejalan 
dengan 'hati' Bentham.


Kini semua menjadi jelas. Tidak hanya bagi Bank Dunia dan Dana Moneter 
International. Tetapi, juga kepada rakyat Indonesia sendiri, kebijakan itu 
ternyata berhasil. Kebijakan itu membawa pertumbuhan ekonomi yang dinamis lebih 
dari 6 persen dan juga penguatan pada jaring pengaman sosial negeri ini.
Bisa dikatakan, salah satu bukti pelayanan terbaik pemerintahan SBY adalah 
terhindarnya mayoritas rakyat Indonesia, melalui manajemen yang sukses, dari 
penularan dampak krisis ekonomi dan keuangan global belum lama berselang.


Dengan pertumbuhan sekitar 5 persen akhir tahun lalu, ekonomi Indonesia tidak 
hanya berhasil melewati masa krisis dengan baik, tetapi sekaligus juga 
menempatkan Indonesia bersama-sama dengan Tiongkok dan India, sebagai negara 
dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia. Pertumbuhan itu merupakan sebuah 
kewajaran, karena besarnya pangsa konsumen. Berjuta-juta masyarakat, telah 
ditolong dengan berbagai program kredit mikro dan keuangan mikro dari 
pemerintah. 

Berbagi Visi
Saat ini, SBY bertekad mengurangi jumlah rakyat Indonesia yang hidup di bawah 
garis kemiskinan, dari sekitar 20 juta menjadi 16 juta di akhir tahun. Upaya 
itu dilakukan melalui penganggaran Rp 37 triliun dana APBN untuk program 
kesejahteraan sosial dan keamanan sosial (social security).


Presiden SBY juga mengalokasi sekitar Rp 144,4 triliun dana APBN untuk subsidi 
guna melindungi wong cilik. Program-program itu secara langsung akan 
menguntungkan berjuta-juta orang miskin. Namun, tidak cukup bila hanya ada 
pengangguran, jumlah anggarannya sendiri harus rasional untuk menggerakkan 
seluruh kegiatan pembangunan. Yaitu, tersedianya anggaran yang cukup bagi 
pendidikan, pembangunan infrastruktur dan pembangkit listrik. Itu juga berarti, 
rasionalisasi sektor pertambangan dan tenaga kerja dan mungkin ke depan, 
rasionalisasi sektor investasi.


Ketika anggaran penting itu tersedia, dan pada sisi lain, hukum yang bijaksana 
berada di tempatnya, maka dipastikan akan terjadi eksekusi dan implementasi 
kebijakan yang efektif dan efisien. Dengan demikian, kita bisa berharap, 
korupsi dapat diberantas atau setidak-tidaknya berkurang secara drastis.
Harapan kita, pesan Presiden SBY harus diwujudkan oleh seluruh aktivitas 
pemerintahan dan atau siapa pun yang terlibat dalam politik, harus berjuang 
untuk mewujudkan "kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar" itu dengan segenap 
hati. Itu adalah pesan yang valid, yang telah diturunkan kepada setiap orang 
sebagai warisan rohani dan intelektual dari pemikiran-pemikiran besar yang 
melintasi segala zaman, yang oleh itu juga, dapat menuntun Indonesia menuju 
kebesarannya.


SBY telah melakukan semampunya apa yang diucapkannya. Tetapi, dia tidak dapat 
melakukannya sendirian. Semua orang, tidak hanya kabinet atau partainya, tetapi 
seluruh pihak yang terlibat dalam pelayanan masyarakat, harus memperhatikan 
seruan itu. Akan menjadi sebuah tragedi bagi Indonesia, jika seruan Presiden 
untuk "kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar" itu hanya menjadi teriakan 
nyaring di padang belantara.

Penulis adalah Pemimpin Umum Harian "Suara Pembaruan"

Kirim email ke