Aku Muslimah Yang Terjebak Oleh Syariah-Discrimination
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Wahai ikhwan wa akhwat yang
senantiasa tabayyun,
Pada tahun 1987, baru kira2 dua tahun aku menjabat jadi dosen tetap, mendadak
aku ditunjuk sebagai petugas screening untuk penerimaan assistent baru
dikampus. Hasil akhir test dari sekian puluh pelamar berakhir dengan dua
kandidat dimana hanya satu yang harus aku pilih. Prestasi keduanya hampir sama
karena masing2 memiliki kelebihan2 dan kekurangan2 yang berbeda.
Kandidat pertama bernama "Ahmed" keturunan Jordania beragama Islam, sedangkan
kandidat kedua bernama "Derenik" keturunan Bosnia beragama Kristen.
Sebagai muslimah yang taqwa yang mematuhi perintah2 Allah dalam Quran, tidak
ragu lagi, aku memilih "Ahmed" karena dia beragama Islam dan Quran mewajibkan
umatnya untuk saling tolong menolong, saling membantu, tidak boleh memfitnah
atau membuka kejelek2an sesama muslim. Ahmed juga tahu kalo aku beragama Islam
dan dia tahu kalo aku memilih dia karena sesama Islamnya. Akhirnya "Derenik"
gagal terpilih dan bekerja di perusahaan Arab di Los Angeles. Setiap tahun
selalu dia datang beberapa kali ke-kantorku untuk menanyakan lowongan2 baru
yang mungkin terbuka untuknya.
Satu sebab penting yang mendorong aku memutuskan menerima "Ahmed" ini adalah
karena dia seorang muslim dan dia direferensikan di mesjid dimana aku menjabat
sebagai pengumpul dana.
Baru satu tahun si Ahmed menjadi assisten professor, mendadak aku mendapat
berita bahwa si Ahmed sudah 6 bulan yang lalu menjadi "murtad", dia masuk agama
"Kristen Evangelist" yaitu aliran Kristen yang paling fundamentalist dan paling
ekstreem di Amerika yang sangat membenci Islam. Si Ahmed mengaku kepadaku
bahwa dia memang sangat tertarik terhadap ajaran Kristen, dia bilang dia
terpanggil oleh Tuhan Yesus.
Dua tahun kemudian, kembali aku terkejut, si Derenik yang dari Bosnia itu
datang menjenguk aku menanyakan apakah ada lowongan baru untuk posisi
assistent. Sambil ngobrol, si Derenik bercerita bahwa dia sekarang sudah
menjadi muslimin karena baru saja dia balik dari Bosnia karena menikah dengan
gadis ditanah airnya yang beragama Islam.
Aku jadi merintih, minta keadilan Allah, si Ahmed yang aku tolong karena sesama
Islam malah murtad masuk Kristen. Sebaliknya si Derenik yang aku tendang
karena beragama Kristen malah masuk Islam.
Aku bertahajud menanyakan kepada Allah, kenapa semuanya ini bisa terjadi???
Ternyata bukan Allah yang menjawab, tapi seorang pemuda Yahudi yang sekarang
menjadi suamiku, dia bilang bahwa memilih Assistent dosen itu bukan seharusnya
pake kriteria agama Islam, tapi harus pake kriteria kualitas seseorang.
Ini adalah pengalamanku yang berharga, kalo saja perbuatanku diketahui oleh
professor atasanku, pasti aku dipecat karena memilih berdasarkan religious
prejudice yang merupakan larangan keras disemua tempat pekerjaan di Amerika.
Akhirnya aku menyadarinya, bahwa kita tidak boleh mem-beda2kan manusia dari
agamanya, karena kalo memang dia dipanggil Yesus... jadilah dia Kristen, atau
dia dipanggil Allah, maka jadilah dia muslimin.
Ternyata aku terpanggil menjadi ilmuwan dan menjadikan Islam hanya sebagai
tradisi keluarga peninggalan nenek moyang sebagai tempat kita ber-kumpul2 dalam
suasana yang tidak bisa melupakan masa kanak2 darimana kita berasal.
Semoga pengalamanku ini bisa menjadi renungan anda semua, bahwa mendiskriminasi
agama seseorang selain resikonya kita dipecat, sedangkan hasilnya sia2, karena
si Ahmed murtad masuk Kristen tentunya aku enggak jadi dapat pahala malah
mendapatkan dosa karena menendang si Derenik yang ternyata dipanggil Allah
sebagai muslimin.
Ny. Muslim binti Muskitawati.