Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr yang sampai
sekarang
sudah dikunjungi lebih dari 601 260 kali

                    Mari  kita kumandangkan lagi

                    Internasionale pada Hari 1 Mei



Tidak lama lagi, kaum buruh sedunia akan merayakan hari besar kemenangannya
yang jatuh pada tanggal 1 Mei. Seperti biasanya, sejak berpuluh-puluh tahun,
hari buruh 1 Mei ini diperingati secara besar-besaran di berbagai benua
(Eropa, Asia, Afrika, Australia dan Amerika Latin) dengan macam-macam cara.
Ada yang berbentuk rapat-rapat umum besar-besaran, ada yang dilakukan dengan
mengadakan demonstrasi atau pawai yang megah, ada juga yang dengan
pesta-pesta kegembiraan dalam berbagai bentuk, yang semuanya diadakan kaum
pekerja di macam-macam bidang lapangan dan oleh berbagai golongan di dunia.



Di banyak negeri di dunia, Hari Buruh 1 Mei merupakan peristiwa untuk
memperingati kemenangan perjuangan kaum buruh  dalam membela kepentingan
atau hak-haknya melawan penindasan,  kesrakahan, penghisapan, penipuan, dan
pemerasan kaum kapitalis reaksioner nasional maupun internasional, yang
merupakan tulang punggung neoliberalisme atau imperialisme.



Di negeri kita Indonesia sendiri, sekarang ini berbagai kalangan di
macam-macam golongan buruh atau pekerja, juga sedang mempersiapkan perayaan
Hari Buruh 1 Mei ini.  Sejak jatuhnya rejim militer Suharto dalam tahun
1998, Hari Buruh 1 Mei bisa dirayakan dalam skala  yang berbeda-beda dari
tahun ke tahun.



Sedangkan, seperti masih sama-sama kita ingat, selama rejim Orde Baru yang
32 tahun itu Hari Buruh 1 Mei dilarang dirayakan dalam bentuk apapun juga.
Karena,  para penguasa rejim militer Suharto, menuduh (dengan sembarangan
atau keliru dan bodoh)  bahwa Hari Buruh 1 Mei diidentikkan dengan gerakan
atau kegiatan yang menguntungkan PKI saja atau hanya menyuburkan
komunisme/PKI.



Ini berlainan sekali dengan sikap politik Bung Karno, yang sebagai
nasionalis, Muslimin dan juga Marxis, sejak ia muda belia menghargai
perjuangan kaum buruh Indonesia dan buruh sedunia, dan memandang Hari Buruh
Sedunia 1 Mei sebagai peristiwa penting bagi rakyat Indonesia dan rakyat
berbagai negeri yang menentang kapitalisme dan imperialisme. Karena itu,
tanggal 1 Mei diresmikan sebagai hari libur nasional.





Bung Karno : kaum buruh adalah soko guru revolusi



Dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia sebelum kemerdekaan RI, dan juga
sesudah revolusi 45, nyatalah bagi kita semua bahwa tidak adalah pemimpin
Indonesia yang mempunyai sikap pro kepentingan buruh yang begitu jelas
seperti yang diemban Bung Karno sampai wafatnya. Bung Karnolah yang
menganggap dan juga menjadikan kaum buruh sebagai soko guru revolusi,
mendorong kaum buruh sebagai bagian utama front Nasional, dan wakil-wakilnya
duduk dalam DPR-GR, MPR, DPA  dan badan-badan atau lembaga-lembaga penting
lainnya.



Boleh dikatakan bahwa hati Bung Karno adalah betul-betul satu dengan hati
kaum buruh Indonesia dalam perjuangan bersama menentang kapitalisme dan
kolonialisme atau imperialisme. Karena itu, SOBSI (gabungan serikat-serikat
buruh seluruh Indonesia) pernah menjadi kekuatan yang perkasa dan berwibawa,
baik di tingkat nasional maupun internasional.



Sejak  revolusi 1945 nyanyian kaum buruh sedunia « Internasionale » telah
bertahun-tahun berkumandang di tiap pertemuan-pertemuan penting kaum buruh
atau kaum kiri umumnya. Namun, dalam jangka lama sekali, lagu ini tidak
terdengar lagi, karena dilarang disuarakan oleh pemerintahan militer
Suharto.  Kerterlaluan !!! Sedangkan lagu ini disuarakan di berbagai negeri
di dunia, termasuk di Amerika Serikat dan juga di berbagai negara Arab.



Padahal, ketika zaman kolonial Belanda pun, lagu « Internasionale » (yang
sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) masih bisa terdengar, meskipun
secara sembunyi-sembunyi di berbagai daerah (terutama daerah Blitar, Kediri,
dan Malang).



Sekarang tidak ada tokoh nasional yang pro gerakan buruh


Sekarang, dalam masa transisi sesudah jatuhnya Orde Baru, gerakan buruh
Indonesia setapak-setapak mulai mendapat kebebasan untuk melakukan  berbagai
kegiatan, dalam batas-batas tertentu yang dimungkinkan oleh berbagai sistem
pemerintahan yang pada pokoknya masih didominasi oleh kepentingan
neo-liberalisme.



Nyatalah,  bahwa gerakan buruh Indonesia, yang terdiri dari macam-macam
golongan dan aliran politik (nasionalis, agama,  komunis atau sosialis)
masih perlu terus berusaha menyatukan diri dalam perjuangan bersama  untuk
menentang neo-liberalisme dalam bentuknya yang sekarang, baik di tingkat
nasional maupun internasional.



Karena, sejak lama sampai sekarang, dari berbagai « pemimpin nasional » atau
tokoh-tokoh penting macam-macam partai politik di pemerintahan atau DPR
tidak bisa diharapkan ada yang betul-betul  sebagai pembela kepentingan kaum
buruh/pekerja, maka tidak bisa lain, kaum buruh sendirilah – dengan dukungan
berbagai gerakan demokratis lainnya – yang harus berjuang dengan segala cara
dan jalan, untuk menggalang kekuatan, sehingga setidak-tidaknya mencapai
kekuatan gerakan buruh di bawah pemerintahan  Bung Karno.



Seperti yang bisa kita amati bersama-sama, terutama oleh kalangan peneliti
sejarah sosial, gerakan buruh Indonesa memang berkembang besar-besaran di
bawah pemerintahan Bung Karno. Simpati Bung Karno kepada gerakan buruh,
sebagai bagian dari kekuatan revolusioner di Indonesia, sudah sering sekali
kelihatan selama ia bertindak sebagai Pemimpin Besar Revolusi.



Bung Karno menyanyikan « Internasionale » di Istana Negara


Dalam kaitan ini pulalah kita bisa melihat mengapa Bung Karno menyanyikan
lagu « Internasionale » di Istana Negara pada tanggal 13  September 1966,
dalam amanatnya di depan pertemuan dengan para anggota Angkatan 45. (Menurut
cuplikan amanat Bung Karno tersebut, yang dimuat dalam buku « Revolusi Belum
Selesai » jilid II halaman 313)



Harap diperhatikan bahwa Bung Karno menyanyikan lagu « Internasionale »  di
Istana Negara ini ketika setahun sesudah terjadinya G30S, dan ketika jutaan
para anggota serta simpatisan PKI, dan ratusan ribu pimpinan dan aktivis
serikat buruh dari berbagai tingkat di seluruh Indonesia, dibunuhi, atau
dipersekusi dan dipenjarakan.  Bung Karno menyanyikan lagu «
Internasionale » di Istana Negara ketika PKI sudah dinyatakan sebagai partai
terlarang berikut penyebaran ajaran-ajaran Marxismenya. Itulah Bung Karno
!!!



Sekarang, lagu « Internasionale » mulai terdengar lagi di Indonesia,
meskipun masih sayup-sayup dan masih sporadis di sana-sini. Kiranya, sudah
waktunyalah,  mulai sekarang, lagu « Internasionale » dikumandangkan lagi
dengan gegap gempita oleh seluruh  gerakan gerakan buruh Indonesia seperti
sebelum 1965, tidak peduli dari golongan yang manapun juga dan aliran
politik yang apapun juga.



Lagu « Internasionale » yang dikumandangkan di Indonesia akan merupakan
bagian dari lagu yang bergema di banyak tempat di dunia (antara lain :
Amerika Serikat, Amerika Latin, Asia, Australia, Afrika, dan Eropa), yang
memanifestasikan juga rasa setiakawan besar-besaran dalam skala dunia untuk
menentang exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation des nations
par les autres nations (menurut ajaran revolusioner Bung Karno)



Lagu « Internasionale » yang disuarakan Bung Karno di Istana Negara pada
tanggal 13 September 1966 patut sekali (dan, bahkan, perlu sekali !!!)
diperingati, dijiwai, atau dipanuti sebagai bagian dari ajaran-ajaran
revolusionernya, untuk meneruskan revolusi yang belum selesai dewasa ini.
Dan juga untuk menyatukan diri dengan gerakan revolusioner di dunia (
seperti di Venezuela, Bolivia,  atau di benua-benua lainnya) yang menentang
neo-liberalisme dalam segala bentuknya.



Paris, 24 April 2010



A . Umar Said














Kirim email ke