Refleksi : Kebiasaan penguasa rezim kleptokratik ialah suka menghayal untuk 
memperindah kesuksesan kekuasaan mereka, ibarat muka bopeng dipercantik dengan 
lapisan bedak.

http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/13162/Kwik-Khayal-Target-Pertumbuhan-RI-versi-Pemerintah.jp


Kwik: Khayal, Target Pertumbuhan RI versi Pemerintah 
[sumber: Jakartapress.com]
Jumat, 23/04/2010 | 14:18 WIB 
 


Jakarta - Pengamat ekonomi Kwik Kian Gie menilai target pertumbuhan ekonomi 7 
persen oleh pemerintah di tahun 2014 tidak masuk akal. Pemerintah dinilai hanya 
menebar mimpi tanpa realisasi.

"Pemerintah mengehendaki pertumbuhan ekonomi 7 persen pada tahun 2014. Itu 
artinya butuh investasi Rp 10.000 triliun dalam lima tahun atau US$ 200 miliar 
dalam setahun," papar Kwik dalam dialog bertajuk "Membedah Program Pro Rakyat 
Pasca Rakernas Tampaksiring" di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (23/4/2010).

Kwik mengaku terkejut mendengar target yang diputuskan dalam Rakernas 
Tampaksiring 19-21 April 2010 lalu. Kwik menilai target tersebut terlalu berat. 
"Saya sangat terkejut uangnya akan didapat darimana, darimana uang sebanyak 
itu. Waktu saya tanya, kata orangnya Pak Boediono belum tahu, kenapa cuma 7 
persen tidak sekalian 14 persen kalau cuma mimpi yang fantastis yang tidak tahu 
realisasinya," kritik Kwik.

Presiden SBY mengadakan Rakernas dengan pemerintah pusat dan daerah di Istana 
Tapaksiring, Bali, 19-21 April lalu. Presiden menargetkan pertumbuhan ekonomi 7 
persen di akhir masa pemerintahannya, selain itu Presiden juga menargetkan 
pengurangan kemiskinan dan pengangguran yang signifikan.

Tak Sanggup Penuhi Produksi Minyak 965 Ribu Barel
Kementerian ESDM dan Badan Pelaksana Hulu Migas (BP Migas) mengusulkan agar 
target lifting dan produksi minyak dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2010 diturunkan dari 965.000 barel per hari 
(bph) menjadi 955.000 bph.

"Perubahan besaran angka lifting menjadi 955.000 bph dari sebelumnya yang 
tertuang di APBN 2010 sebesar 965.000 bph," ujar Menteri ESDM Darwin Zahedy 
Saleh dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, di Gedung DPR, 
Senayan, Jakarta, Kamis malam (22/4/2010).

Menurut Darwin, usulan tersebut didasari data historis selama 4 bulan terakhir 
dan satu tahun yang lalu. Selama 4 bulan terakhir, angka rata-rata produksi 
minyak nasional  mencapai 954.000 bph. Pertimbangan lainnya adalah keberhasilan 
para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam melaksanakan  program kerja dan 
anggaran selama tahun 2009.

Kepala BP Migas R Priyono akhirnya juga sepakat untuk menurunkan target lifting 
dan ptoduksi minyak tersebut. "Angka 955.000 bph masih dalam rate BP Migas, dan 
jika dibantu semua pihak, BP Migas menyatakan siap," kata Priyono.

Rapat  pembahasan mengenai PNBP Sektor Migas dan Minerba, Asumsi Makro (lifting 
minyak bumi dan harga minyak mentah Indonesia (ICP)) untuk RAPBN-P Tahun 
Anggaran 2010 memang berlangsung alot. Pemerintah dan Komisi VII DPR masih 
tarik menarik soal target produksi dan lifting minyak, karena sebelumnya Kepala 
BP Migas Priyono menyatakan pihaknya hanya optimis target produksi minyak hanya 
bisa mencapai 917.000 bph dan menetapkan 965.000 bph sebagai target pesimis BP 
Migas.

Pernyataan dari Kepala BP Migas tersebut, membuat Komisi VII DPR meminta kepada 
pemerintah untuk menetapkan target lifting dan produksi minyak yang lebih 
realistis. Rapat yang berlangsung sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 24.00 Wib 
itu pun masih belum mendapatkan hasil karena Komisi VII DPR belum menyetujui 
usulan baru dari pemerintah dan BP Migas tersebut.

Menurut Wakil Ketua Komisi VII Effendy Simbolon, pihaknya meminta pemerintah 
memberikan argumen dan data pendukung mengapa muncul angka tersebut. "Jadi kami 
bisa menilai secara obyektif," kata politisi PDIP ini. Rencananya, Komisi VII 
DPR akan mengagendakan rapat kembali dengan pemerintah terkait keputusan 
lifting tersebut. Pasalnya, lifting minyak menjadi tulang punggung ABPN selain 
sektor pajak. "Paling lambat Senin pekan depan," kata dia.

Target Lifting Turunkan Penerimaan Rp 3 Triliun
Penurunan target lifting dan produksi minyak dalam RAPBN-P 2010 dari 965.000 
barel per hari (bph) menjadi 955.000 bph diperkirakan akan menurunkan 
penerimaan negara sekitar Rp 2,5-3 triliun. "Kalau turun 10.000 bph itu nanti 
akan menurunkan penerimaan Rp 2,5-3 triliun," ujar Direktur Eksekutif 
Refor-Miner Institute, Pri Agung Rakhmanto, Jumat (23/4/2010).

Sementara jika target lifting sebesar 955.000 bph disetujui DPR dan ternyata 
realisasinya malah sesuai dengan yang diusulkan BP Migas sebesar 917.000 bph, 
maka akan menambah defisit sekitar Rp 10-12,5 triliun. "Perhitungan itu dengan 
menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) 
sebesar US$ 80 per barel dalam RAPBN-P 2010 disetujui," kata dia.

Pri Agung menilai, usulan penurunan target lifting menjadi 955.000 bph tersebut 
bisa dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, jika dibandingkan dengan target 
lifting sebelumnya sebesar 965.000 bph dan melihat realisasi produksi sebesar 
minyak hingga pertengahan April 2010, produksi rata-rata minyak nasional 
mencapai 955.980 barel per hari, maka angka itu dinilai realistis. "Namun kalau 
melihat pernyataan Kepala BP Migas yang  hanya optimis target produksi minyak 
917.000 bph maka target baru pemerintah tersebut sebagai angka politik atau 
dipaksakan," kata dia.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha menyatakan pihaknya belum 
bisa memberikan persetujuan atas usulan baru dari pemerintah tersebut, karena 
masih menunggu data-data teknis terkait usulan itu. "Jangan sampai kita beli 
ayam dalam karung. Kami tidak ingin angka ini sebagai political number saja, 
yang ternyata di akhir tahun target ini tidak tercapai dan malah menambah 
defisit," ungkapnya.

Seperti diketahui, Kementerian ESDM dan BP  Migas telah mengusulkan agar target 
lifting dan produksi minyak RAPBNP 2010 diturunkan dari 965.000 bph menjadi 
955.000 bph. Menurut Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, usulan tersebut didasari 
data historis selama empat bulan terakhir dan satu tahun yang lalu. Selama 
empat bulan terakhir, angka rata-rata produksi minyak nasional mencapai 954.000 
bph. Pertimbangan lainnya adalah keberhasilan para kontraktor kontrak kerja 
sama (KKKS) dalam melaksanakan  program kerja dan anggaran selama tahun 2009.

Rapat  pembahasan mengenai PNBP Sektor Migas dan Minerba, Asumsi Makro (lifting 
minyak bumi dan harga minyak mentah Indonesia (ICP)) untuk RAPBN-P Tahun 
Anggaran 2010 memang berlangsung alot. Pemerintah dan DPR masih tarik menarik 
soal target produksi dan lifting minyak ini, karena sebelumnya Kepala BP Migas  
R Priyono menyatakan pihaknya hanya optimis target produksi minyak hanya bisa 
mencapai 917.000 bph dan menetapkan 965.000 bph sebagai target pesimis BP Migas.

Pernyataan dari Kepala BP Migas tersebut, membuat Komisi VII DPR meminta kepada 
pemerintah untuk menetapkan target lifting yang lebih realistis. Rapat yang 
berlangsung sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 24.00 Wib itu pun masih belum 
mendapatkan hasil karena Komisi VII DPR belum menyetujui usulan baru dari 
pemerintah dan BP Migas tersebut. Rencananya rapat akan dilanjutkan pada Senin 
(26/4/2010) mendatang. (*/dtc/re

<<Kwik-Khayal-Target-Pertumbuhan-RI-versi-Pemerintah.jpg>>

Kirim email ke