Buka Jilbab Boncengan Motor Dempet2an Bukan Muhrimnya !!!
Padahal dalam Islam dilarang, malah menjadi makin garang, persis pastor2
Katolik yang dilarang nikah sehingga jadi garang terjang sana terjang sini.
> "sunny" <am...@...> wrote:
> Rayakan lulus sekolah rame2
> siswi yang biasanya diharuskan
> menggunakan jilbab, saat konvoi
> tidak lagi menggunakan jilbab.
> Bahkan jilbab para siswi ini
> dijadikan bendera sambil
> berboncengan dengan teman
> laki-laki mereka.
>
Mereka khan semuanya muslimin, tapi kenapa tingkah lakunya lebih parah dari
orang kafir. Jelas yang salah orangnya bukan agamanya, cuma yang jadi
pertanyaan kenapa harus yang Islam begitu padahal khan udah dididik keimanan.
Terjadinya malah dilingkungan yang paling Islamiah, apakah enggak jadi tanda
tanya hal seperti ini???
Inilah contohnya, bukan contoh kesalahan tingkah lakunya tapi kesalahan yang
menyalahkan tingkah laku seperti itu. Untung aja kita bukan negara Syariah,
kalo kita negara Syariah bisa dibayangkan banyaknya korban2 anak2 yang jatuh
akibat hukuman dari Allah.
Dempet2an pegang2an barangkali juga kobok2an sambil bermotor itu memang asyik
tetapi berbahaya bisa ditabrak mobil bisa nabrak mobil tapi yang kasihan kalo
nabrak orang lain.
Ini jelas akibat ajaran Islam meskipun se-olah2 tidak ada diajarkan seperti ini
malah sebaliknya. Jadi sebabnya adalah larangan itu sendiri yang ber-lebih2an
tidak pada porsinya. Yang dilarang pasti dilawan, dan ini sering dialami
didunia Islam. Katolik juga dengan pastor2nya, gejalanya sama, dilarang kawin
malah menjadi binal terjang sana terjang sini seperti harimau dikandang ayam.
Gejala diatas sebenarnya akibat kebebasan yang dibelenggu, sekali ada
kesempatan untuk melampiaskannya maka seperti sapi gila mereka ber-lomba2
menunjukkan keberaniannya mempertontonkan apa saja kepada siapa saja tak perlu
punya muhrim dulu.
Justru dinegara yang bebas hal seperti ini enggak pernah ada, karena kalo mau
cium2an enggak perlu tunggu waktu peluang yang baik, setiap hari kalo sama2 mau
bisa direncanakan di taman, dimotel, ataupun dihotel. Meskipun bebas, para
guru tetap mengajarkan bahwa hal itu tidak baik selain merugikan diri sendiri
juga merugikan orang tuanya. Jadi dididik bukan dengan paksaan dengan hukuman
rajam, potong kepala, dibotakin dll. tapi dididiknya dengan contoh2 tanpa
ancaman hukuman sama sekali.
Ny. Muslim binti Muskitawati