Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr yang sampai
sekarang
sudah dikunjungi lebih dari 604 050 kali
Perkembangan yang menarik
tentang Hari Buruh 1 Mei 2010
Hari Buruh Sedunia 1 Mei telah dirayakan di banyak tempat di Indonesia,
dengan sejumlah hal yang menarik untuk diperhatikan oleh kita semua, karena
bisa mempunyai arti yang penting bagi perkembangan situasi bangsa dan negara
kita di kemudian hari.
Pertama-tama adalah betapa besarnya partisipasi kalangan mahasiswa dalam
berbagai kegiatan untuk merayakan hari besar gerakan buruh ini. Kedua,
banyaknya kalangan buruh dari berbagai macam golongan yang mengadakan pawai
atau demonstrasi di banyak kota negeri kita.. Ketiga, ikut sertanya kalangan
Islam dalam jumlah yang lumayan besarnya. Ke-empat makin banyaknya bendera
merah yang dikibarkan di banyak tempat. Ke-lima makin tingginya dan luasnya
isi tuntutan yang disuarakan dalam aksi-aksi pada Hari Buruh 1 Mei.
Semua itu menunjukkan bahwa situasi di negeri kita sudah mulai berubah,
walaupun perlahan-lahan dan belum banyak dan masih terbatas, dibandingkan
dengan masa yang sangat gelap dan pengap sekali selama masa Orde Baru.
Sebagian dari hal-hal itu dapat disaksikan dalam siaran TV oleh pemirsa di
seluruh negeri, sehingga bisa merupakan pendidikan untuk meningkatkan
kesedaran politik bagi rakyat banyak.
Bersatunya gerakan mahasiswa dengan gerakan buruh
Dari tayangan TV, ditambah dengan banyaknya berita-berita dalam media cetak,
kelihatan jelas adanya perkembangan yang menggembirakan, yaitu partisipasi
yang makin besar kalangan mahasiswa di negeri kita dalam aksi-aksi politik
dan sosial. Kalau dalam menghadapi kasus-kasus korupsi (contohnya BLBI,
kejahatan di kalangan POLRI, penyelewengan di Kejaksaan ; kasus besar
perpajakan, Bank Century, Gayus Tambunan, Syahril Johan dll dll) berbagai
aksi telah dilancarkan selama ini, maka partisipasi kalangan mahasiswa yang
massif dalam perayaan Hari 1 Mei 2010 menunjukkan perkembangan yang penting
bagi kemudian hari kehidupan bangsa kita.
Di banyak kota-kota di seluruh Indonesia, kalangan mahasiswa dari berbagai
aliran politik dan ideologi (nasionalis, agama, kiri atau progressif) mulai
menyatukan perjuangan mereka dengan perjuangan gerakan buruh. Bersatunya
gerakan mahasiswa dengan gerakan buruh merupakan pendorong yang amat
penting untuk berkembangna perjuangan revolusioner rakyat menuju
perubahan-perubahan besar dan fundamental.
Sebab, bersatunya gerakan mahasiswa dengan gerakan buruh mengindikasikan
menjauhnya jarak mereka dari partai-partai politik (yang duduk dalam DPR dan
pemerintahan), dan mendorong mereka untuk menjadi kekuatan rakyat yang lebih
independen, dan bukan hanya embel-embel atau kakitangan atau alat dari
golongan yang berkuasa saja.
Aksi-aksi bersama di seluruh negeri
Aksi-aksi bersama yang bisa diadakan oleh berbagai kalangan masyarakat di
banyak kota besar dan kota kecil di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
Nusa Tenggara dll dll untuk merayakan Hari Buruh 1 Mei 2010 mengindikasikan
juga perkembangan lainnya yang menarik dan penting.
Ini berarti bahwa Hari Buruh 1 Mei yang selama puluhan tahun dilarang rejim
militer Suharto, dan banyak kalangan tadinya menganggapnya berbahaya ( !)
untuk negara dan bangsa, sekarang ini sudah mulai mendapat simpati yang
makin meluas.
Aksi-aksi di berbagai kota besar dan kecil pada pokoknya sudah tidak bisa
lagi dilarang oleh penguasa-penguasa di Pusat maupun di daerah, baik polisi
maupun militer. Kalau ada larangan atau pembatasan-pembatasan yang
keterlaluan, sudah tidak digubris lagi. Pemerintah sudah tidak « berwibawa »
lagi dan tidak bisa bertindak sewenang-wenang pula menghadapi aksi-aksi
bersama dari berbagai golongan ini.
Partisipasi kalangan Islam adalah penting sekali.
Fenomena yang patut juga diperhatikan adalah partisipasi (walaupun belum
besar dan masih sporadis atau terpencar-pencar) dari kalangan Islam dalam
kegiatan Hari Buruh 1 Mei. Contoh yang cukup penting adalah pertemuan para
pimpinan aktivis buruh dari berbagai organisasi yang berkumpul di aula
kantor pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jl Kramat Raya 164 Jakarta,
dalam rangka persiapan aksi merayakan "May Day' 1 Mei .2010. Ketua PBNU KH
Abbas Muin dalam kesempatan itu ikut berbicara.
Di Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Makasar,
Medan, Lampung dan banyak kota-kota lainnya , golongan Islam dalam kalangan
mahasiswa dan buruh, ikut secara aktif dalam berbagai kegiatan.
Hal ini juga juga menggembirakan, kalau mengingat bahwa dalam jangka yang
lama sekali di masa yang lalu, kalangan Islam dalam berbagai golongan
umumnya bersikap memusuhi atau menjauhi gerakan buruh yang merayakan Hari
Buruh 1 Mei.
Partisipasi golongan Islam dalam gerakan buruh adalah amat penting,
mengingat bahwa sebagian terbesar kaum buruh Indonesia, yang ditindas atau
diperas oleh klas reaksioner nasional maupun internasional justru terdiri
dari pemeluk Islam. Jadi perjuangan menghadapi penghisapan dan ketidakadilan
oleh neo-liberalisme beserta antek-anteknya di dalam negeri adalah satu
perjuangan dan satu tujuan, antara golongan Islam dan non-Islam (termasuk
golongan kiri).
Bendera merah berkibar di banyak tempat
Pemandangan yang menunjukkan arti penting lainnya adalah banyaknya bendera
merah yang dikibarkan oleh berbagai golongan dalam pawai atau demonstrasi
dimana-mana. Ini berarti bahwa bendera merah yang sudah lama dianggap «
momok » oleh kalangan pendukung rejim militer Suharto sekarang sudah mulai
juga berobah menjadi kebanggaan bagi mereka yang berjuang untuk melawan
penindasan, pemerasan dan ketidakadilan.
Bendera merah yang banyak dikibarkan oleh gerakan buruh di dunia, dan oleh
gerakan revolusioner atau gerakan kiri pada umumnya, sudah menjadi simbul
perjuangan bersama, di banyak tempat di Indonesia dalam merayakan Hari 1
Mei.
Ini berarti bahwa bendera merah bukanlah lagi hanya milik golongan kiri
saja, melainkan sudah menjadi milik bersama dari semua golongan yang
melakukan perjuangan dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat banyak,
terutama sekali rakyat miskin.
Tuntutan politik dan sosial-ekonomi kaum buruh
Sesuai dengan keadaan politik, ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh kaum
buruh atau rakyat dewasa ini di negeri kita, maka Hari Buruh 1 Mei 2010
telah digunakan untuk menyuarakan protes dan tuntutan kaum buruh serta
rakyat luas tentang berbagai masalah besar yang mendesak.
Contohnya, kepada pemerintah dituntut agar berani melakukan
perombakan-perombakan mendasar terhadap kebijakan ekonomi yang saat ini
dianut, agar tidak menambah panjang jumlah korban pengangguran, sistem
outsourcing serta PHK sepihak
Contoh lainnya, tuntutan supaya tanggal 1 Mei dijadikan hari libur nasional
juga disuarakan, antara lain oleh pengunjuk rasa dari kota Malang, kabupaten
Malang dan kota Batu, yang tergabung dalam Forum Perjuangan Rakyat Malang.
Dalam aksi-aksi di banyak tempat lainnya (Jakarta, Bandung, Jogya, Semarang,
Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Lampung dll dll) telah disuarakan
tuntutan segera dihentikannya perampasan upah, tanah dan kerja. Soal tanah
kaum buruh menolak penggusuran, sedangkan soal upah mereka menuntut upah
yang layak. Juga dituntut pendidikan gratis di semua jenjang pendidikan.
Dalam aksi-aksi yang dilakukan di Jakarta oleh 54 elemen (macam-macam
organisasi, serikat buruh, LSM) telah dikumandangkan berbagai kritik pedas
terhadap situasi politik, ekoinomi dan sosial dewasa ini sebagai akibat
buruk dari sistem pemerintahan SBY, termasuk berbagai sikap yang terlalu
menguntungkan neo-liberalisme.
Gerakan extra-parlementer mulai muncul.
Dari semua itu kiranya dapat kita lihat mulai munculnya perkembangan baru
(walaupun belum banyak) di negeri kita. Perkembangan baru ini, walaupun
masih sedikit, sudah makin tidak menguntungkan lagi bagi kekuatan-kekuatan
sisa-sisa Orde Baru.
Lahirnya perkembangan baru ini didorong oleh menghebatnya di seluruh negeri
gerakan berbagai golongan masyarakat (terutama kalangan muda, mahasiswa,
buruh, tani, perempuan) melawan korupsi dan bermacam-macam kejahatan besar
lainnya oleh kalangan atas.
Sudah menjadi pengetahuan umum bagi banyak orang bahwa kebanyakan korupsi
yang melanda negeri kita -- jangan lupa : sejak lama ! -- justru dilakukan
oleh orang-orang (sipil maupun milliter, dan juga swasta) yang biasanya pro
Orde Baru dan reaksioner, yang anti berbagai politik Bung Karno, dan yang
karenanya juga pro neo-liberalisme.
Dari segi ini pulalah kita bisa melihat bahwa gerakan besar-besaran -- oleh
bermacam-macam golongan dalam masyarakat --untuk melawan korupsi dan
berbagai ketidakberesan dewasa ini juga mengandung arti melawan sisa-sisa
buruk Orde Barunya Suharto.
Gerakan besar-besaran ini , yang dimotori terutama oleh gerakan buruh dan
tani dan mahasiswa, bisa nantinya menjadi gerakan extra-parlementer. Negara
dan bangsa kita sangat membutuhkan adanya gerakan extra-parlemneter yang
kuat, dan yang mendapat dukungan yang luas dari rakyat. Gerakan
extra-parlementer yang besar dan kuat adalah senjata, payung, dan sekaligus
juga benteng bagi perjuangan rakyat dalam membela
kepentingan-kepentingannya.
Sebab, berbagai indikasi sudah menunjukkan bahwa rakyat sudah tidak
bisa juga tidak boleh !!! menggantungkan nasibnya hanya dan melulu kepada
pemerintah, atau DPR, atau partai-partai politik, yang tidak pro-rakyat,
terutama rakyat miskin.
Paris, 3 Mei 2010
A. Umar Said