Bung Karno Menikahi Yurike Sanger Gadis SMP
                                            
Yurike Sanger dinikahi Sukarno padahal umurnya jauh lebih muda dari Megawati.  
Gadis menado ini masih duduk di SMP waktu dilamar Bung Karno, apakah ini 
termasuk pedofili...  silahkan anda jawab sendiri.  Ini termasuk sunah nabi 
SAW, Alhamdulilah !!!

Dibawah ini saya persilahkan pembaca untuk mendengar sendiri pengakuan Yurike 
Sanger yang perkawinannya dengan Bung Karno hanya berusia 3 tahun untuk 
kemudian diceraikan bapak rakyat ini.

To Bambang Widjanarko, his eight-years personal assistant, he spoke, "Yes, I 
love to see beautiful women. I will feel more guilty if I pretend by saying no 
or act as if I don't like them. To pretend is hypocrite and I don't like to 
become one." At the different moment he also said, "I honor the Big Prophet 
(Mohammed SAW). I study his words carefully. So, the moral for me: it is not a 
sin or impolite if someone admires a beautiful woman. And I am not ashamed to 
do so, because by doing it basically I admire God and His creations."

Cinta Mati Gadis Remaja Kepada Bung Karno !

http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com/2010/04/cinta-mati-gadis-remaja-kepada-bung.html

Kunjungan Soekarno ke Amerika Serikat (Dok. GATRA)Menjadi istri Bung Karno 
merupakan suratan nasib dan kehendak Tuhan. Begitulah Yurike mengawali 
kisahnya. Ia mengaku, hal itu sama sekali bukan kemauannya sejak awal, juga 
bukan jenis impian murid SMA yang pada waktu itu masih senang bermain karet 
gelang. Lagi pula, sejak awal mengenal Bung Karno, Yurike yang bukan 
siapa-siapa itu merasa sangat tidak pantas menerjemahkan isyarat yang 
ditampakkan Bung Karno sejak awal sebagai rasa cinta seorang lelaki kepada 
seorang perempuan. Perjalanan nasib pula yang membuat Yurike harus melupakan 
impiannya menjadi pramugari.

Berawal dari kedatangan seorang bintang film bernama Dahlia ke sekolahnya pada 
awal 1963. Rupanya, sang bintang film itu sudah lama mengamati dan mengincar 
Yurike untuk dijadikan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kelompok 
remaja berjumlah 50 pasang yang tampil mengenakan pakaian adat Indonesia pada 
acara-acara kepresidenan.

Babak baru dalam kehidupannya makin jelas terasa setelah benar-benar masuk 
dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika itu. Setelah mendapat bimbingan dan 
pengarahan secukupnya, ia pun resmi menjadi anggota. Pertama kali terjun dalam 
kelompok itu pada sebuah acara kepresidenan yang digelar di Istora (Istana 
Olahraga) Bung Karno. "Aku yang merupakan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika 
termuda tampil dengan kebaya Jawa," tulis dia mengenang peristiwa itu.

Kejutan berikutnya berlangsung ketika pertama kali tampil itu. Yurike mengaku 
sangat canggung karena ini merupakan pengalaman baru. Keringat dingin terasa 
mengalir di tengkuknya pada saat Bung Karno justru berhenti tepat di hadapannya 
ketika melewati Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpa diduga, sang presiden malah 
menyapa dan menyempatkan diri berdialog singkat dengannya.

"Bermimpikah aku? Bung Karno memperhatikanku lebih dari sekilas. Barangkali 
karena tahu aku pendatang baru dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika, (Bung Karno) 
lalu bertanya, 'Siapa namamu?'." Yurike menjawab semua pertanyaan singkat 
presiden dengan perasaan campur aduk: bingung, malu, dan bangga. Apalagi, Bung 
Karno sempat terkecoh oleh posturnya yang bongsor, sehingga menyangka Yurike 
yang masih duduk di bangku SMP itu seorang mahasiswi.

Dalam perkenalan singkat itu juga, sebelum berlalu, Bung Karno mengatakan 
kepadanya sebaiknya tidak memakai nama dengan akhiran "ke" atau "ce". "Pakai 
Yuri saja. Nama dengan embel-embel 'ke' atau 'ce' itu kebarat-baratan, tidak 
sesuai dengan kepribadian nasional kita." Yurike pun hanya mengangguk 
mengiyakan.

Yurike tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya sejak tatapan pertama dengan 
Bung Karno itu. "Matanya yang jernih dan terang itu sepertinya hinggap ke pusat 
mataku dan sampai kapan pun tak bisa kulukiskan dengan jelas. Bicaranya mantap, 
wajahnya tampan, dan makin tampak gagah dengan jas cokelat tua yang dipenuhi 
atribut resmi di kedua pundak dan dada kirinya. Secara kebetulan pula, warna 
cokelat tua memang warna favoritku," tulis dia.

Seiring dengan keterlibatannya yang makin intens dalam kegiatan Barisan 
Bhinneka Tunggal Ika, makin sering pula ia bertemu dengan Bung Karno. Yurike 
mengungkapkan beragam perhatian khusus yang diberikan Bung Besar itu kepada 
dirinya. Bermula dari sekadar menyuruh duduk di dekatnya ketika ada acara resmi 
di istana, juga dengan mengambilkan kue tradisional dari meja.

Untuk itu, Yurike menulis kenangannya. "Perhatian Presiden Soekarno kepadaku 
memang terasa agak khusus. Di antara puluhan gadis yang tergabung dalam Barisan 
Bhinneka Tunggal Ika, menurut pengamatanku, jarang sekali yang menerima 
perlakuan demikian. Aku tidak pernah berpikir bahwa hal itu akan berlanjut 
menjadi hubungan yang lebih serius."

GATRA (Dok. GATRA)

Diantar Pulang Bung Karno
Suatu ketika di Istana Bogor, setelah acara resmi usai, Yurike bersantai 
seperti biasa ia lakukan: mengobrol dengan para pengawal. Tiba-tiba Bung Karno 
berteriak-teriak memanggil namanya. Pada saat itu, Presiden Soekarno sedang 
menikmati makan malam satu meja dengan tamu-tamunya. Ia diminta duduk di sebuah 
kursi yang tampak sengaja dikosongkan persis di sebelah RI-1 itu.

Pada saat yang lain, ia didatangi kepala pool kendaraan istana yang 
menyampaikan perintah Bung Karno kepadanya. Yurike disuruh memakai salah satu 
mobil istana untuk antar-jemput setiap kali mengikuti agenda Barisan Bhinneka 
Tunggal Ika. Yurike tampaknya ingat betul momen itu. "Tawaran menggunakan mobil 
istana tersebut disampaikan beberapa hari menjelang peristiwa fenomenal dalam 
dunia olahraga: Games of the New Emerging Forces (Ganefo) I yang upacara 
pembukaannya dilakukan pada 1 November 1963 di Stadion Utama Gelora Bung 
Karno," tulis dia.

Malah peristiwa berikutnya pada masa itu makin di luar dugaan Yurike. 
Keistimewaan yang didapatkannya terus diikuti dengan keistimewaan lain yang 
lebih besar. Pada saat pembukaan Ganefo itu, petugas protokol meminta Yurike 
menjadi penjemput presiden ketika turun dari mobil kepresidenan. Ini jelas 
menyimpang dari kebiasaan acara protokoler yang umum disaksikannya pada masa 
itu.

Di lain pihak, peristiwa itu memberi bekas sangat dalam pada dirinya. "Dan, 
mata kami bertemu. Kurasa, hati kami juga bertemu. Kutangkap kemilau yang 
seolah menyimpan magnet tersebut. Sementara, tanpa sadar, aku melempar senyum 
lewat mataku. Biarpun hal itu cuma hadir selintasan, peristiwa yang amat 
menggetarkan itu lama sekali berlabuh teduh di lembah kenangan."

Isyarat perhatian khusus dan mendalam Bung Karno kian kentara pada masa-masa 
selanjutnya. Sampai suatu ketika, di tengah acara ramah-tamah presiden dengan 
pengurus Front Nasional di Istana Merdeka, ajudan Bung Karno meminta dia tidak 
pulang dulu usai acara. "Soalnya, Bapak yang mau mengantarkan pulang," katanya.

Percaya atau tidak percaya, ternyata begitulah adanya. Yurike duduk 
bersebelahan dengan Bung Karno di jok belakang sedan Lincoln itu. Perasaan 
kikuk menyelimuti dirinya selama perjalanan pulang. "Jok besar itu lebar 
sekali. Kurasa, untuk empat orang pun masih lega. Terbelenggu oleh sikap segan 
yang demikian besar, juga rasa malu yang sungguh tak teratasi, dudukku seolah 
menyatu dengan pintu."

Penampilan Bung Karno pada saat mengantarkannya pulang malam hari sekitar pukul 
11 itu pun tidak biasa. Bercelana biru tua, kemeja lengan pendek biru muda, 
bersandal kulit hitam, dan tanpa peci. "Kepala yang biasa berpeci itu agak 
mengubah sedikit raut wajahnya. Dahinya tampak lebar sekali dan seolah 
menyambung dengan bagian tengah kepalanya yang botak."

Tanpa sungkan-sungkan pula, Yurike menuturkan bahwa penampilan yang lain dari 
biasanya itu sempat membuat ayah-ibunya terkecoh. Mereka menyangka, yang datang 
mengantar hanyalah kepala rumah tangga istana. Malah ayahnya sempat bersikap 
sinis dan agak kurang sopan ketika menyambut sang pengantar. Setelah tahu yang 
datang Bung Karno, suasana pun berubah sama sekali.

GATRA (Dok. GATRA)

Bung Karno Menyatakan Cinta
Pada hari-hari berikutnya, seperti bisa ditebak, hubungannya dengan Bung Karno 
makin dekat. Sang presiden, dalam sebuah perjalanan diam-diam keliling kota 
pada malam hari, meminta Yurike memanggilnya "Mas", bukan "Pak". Kembali 
beragam perasaan berkecamuk dalam dirinya. Apalagi, dia sendiri punya pacar: 
Wisnu namanya.

"Sudah terbalikkah bumi ini? Sudah sedemikian kacaukah pendengaranku? Sudah tak 
berlakukah norma atau etika kepantasan yang menempatkan sikap hormat sebagai 
keharusan? Mustahil presiden yang usianya di atas ayahku minta dipanggil 'Mas' 
oleh seorang gadis SMA. Bagaiamanapun beraninya aku, lidahku pasti mendadak 
beku sebelum sepotong kata itu keluar dari tenggorokan."

Perjalanan diam-diam keliling kota yang diistilahkan Bung Karno sebagai 
perjalanan incognito itu semakin sering dilakukan. Hingga suatu malam, sebuah 
kejutan lain yang lebih besar dialami Yurike ketika diajak ke tepi pantai. 
Dimulai dari pertanyaan Bung Karno soal suami idaman Yurike, obrolan mereka 
makin menjurus ke soal pribadi. Akhirnya Bung Karno berujar dengan wajah 
serius: "Apa Adik tidak tahu Mas mencintai Adik?"

"Sepertinya langit runtuh. Kepala semakin berpendar-pendar bagai kejatuhan 
benda yang berat sekali. Mengingat sikap-sikapnya, pernyataan demikian memang 
bisa muncul sewaktu-waktu. Tetapi, tak urung, rasa kaget menerkamku," tulis 
Yurike mengungkapkan perasaannya ketika itu.

Lalu ia melanjutkan, "Tak pernah aku segemetar seperti saat itu. Raut wajah 
Ibu, Ayah, saudara, guru-guru di sekolah, kerabat, famili, orang-orang yang ada 
di sekitar Bung Karno, terakhir kekecewaan Wisnu, bergantian menghiasi pelupuk 
mata. Semula samar-samar, lalu menjadi jelas. Sejujurnya kuakui, rasa banggaku 
membukit. Pada detik-detik tersebut, aku merasa bukan anak gadis remaja, tapi 
sepenuhnya menjadi seorang perempuan yang menerima pernyataan cinta seorang 
lelaki."

Dan saat itu pun tiba, ketika Bung Karno menyatakan niatnya memperistri Yurike. 
"Kurenungi laut angan-angan sepuasnya. Pikiran terbang bebas sebebas-bebasnya, 
jauh meninggalkan apa yang selama ini tampak menakutkan. Gerak kehidupan baru 
menuju dunia kenyataan rasanya semakin dekat manakala Bung Karno, berselang 
tidak lama, menyatakan niatnya memperistriku. Bung Karno ingin tahu jawabanku 
saat itu juga. Tetapi, bagaimana mungkin? Masalah perkawinan tidak bisa 
kuputuskan sendiri. Aku minta waktu dengan suara tersendat untuk 
membicarakannya dengan orangtuaku."

GATRA (Dok. GATRA)

Peristiwa Menjelang Pernikahan
Pernyataan Bung Karno soal keinginannya memperistri Yurike berulang di istana. 
Kejadiannya berlangsung beberapa hari setelah upacara pemancangan tiang pertama 
pembangunan Wisma Nusantara, Rabu 1 April 1964. Setelah acara yang diikutinya 
selesai, seorang ajudan memintanya menunggu di teras belakang istana karena 
"Bapak" ingin memberi kenang-kenangan.

Ternyata Presiden Soekarno menghadiahi Yurike sebuah kalung dari koleksinya 
yang berjajar di sebuah ruangan di istana. Malah lelaki itu sendiri yang 
memilihkannya untuk sang pujaan hati. Ini boleh saja dibaca sebagai lamaran 
tidak resmi sang presiden.

Lamaran resminya disampaikan Bung Karno kepada orangtua Yurike, beberapa waktu 
kemudian. Bung Karno rupanya mengatur hal itu sejak awal, karena beliaulah yang 
minta makan malam bersama dengan keluarga Yurike. "Selesai makan, tanpa 
disangka-sangka Bung Karno menyampaikan niatnya untuk memperistriku. Persisnya: 
Bung Karno melamar! Kubaca keterkejutan yang terpeta di wajah orangtuaku. 
Kurasakan luluh segenap sendi tulangku."

Orangtua Yurike jelas sangat terkejut. Ayahnya, tidak bisa lain, menyampaikan 
rasa terima kasih karena anaknya mendapat tempat istimewa di hati Bung Karno. 
Dia pun minta waktu untuk memberi jawaban. "Mohon kami diberi waktu untuk 
berunding, terutama dengan Yurike sendiri. Sebagai orangtuanya, kami tidak bisa 
membuat keputusan sepihak karena hal demikian akan kurang baik bagi 
kehidupannya nanti," demikian sang ayah menanggapi lamaran itu.

Yurike sendiri pada saat itu pun seperti didera kebimbangan berkepanjangan. 
"Aku hanyalah gadis yang baru dijemput ambang remaja. Di sekolah, aku tidak 
lebih hanya seorang murid yang masih tidak ingin terlambat datang untuk 
mengikuti jam pelajaran pertama, masih senang jajan es mambo pada jam 
istirahat. Lalu tiba-tiba saja seorang lelaki melamarku, dan dia justru seorang 
presiden yang selalu memiliki daya tarik luar biasa."

Ujungnya, lamaran Bung Karno itu diterima orangtua Yurike. Ini membawa suasana 
lain. Sejak Bung Karno tahu lamarannya diterima, napas kegembiraan sering 
terlontar dari kerjap matanya. "Alhamdulillah," serunya pertama kali. 
"Berkuranglah bebanku selama menunggu jawaban itu. Semoga Tuhan selalu 
memberkahi langkah kita dan memberi kebahagiaan terhadap kita," ucap Bung Karno.

Seiring dengan itu, perlakuan Bung Karno terhadap Yurike otomatis makin 
istimewa pula. Bung Karno, misalnya, tidak lagi membahasakan dirinya dengan 
sebutan "saya", tetapi "aku". Beliau juga tidak pernah luput meminta Yurike 
memanggil dirinya dengan sebutan "Mas" setiap kali perempuan itu keceplosan 
menyapa "Pak" atau "Bapak".

Dalam kaitan ini, Yurike juga tak menyembunyikan sedikit pun rasa kagumnya 
kepada Bung Karno. Ia menilai Bung Besar itu benar-benar seorang kekasih yang 
arif. Dia tahu persis kapan harus langsung ke titik urusan dan kapan diperlukan 
diplomasi agar tidak terkesan mendikte atau memaksakan diri.

Selain itu, "Bung Karno pandai menempatkan diriku pada tempat yang semestinya. 
Bung Karno benar-benar berusaha dengan penuh kesabaran menjadikan aku calon 
istrinya. Lambat laun, hal itu membawa perubahan amat berarti bagiku. Perasaan 
kami jadi semakin tidak berjarak. Aku bisa cepat menyesuaikan diri sehingga 
segala kekakuan yang merintangi sikapku cair dengan sendirinya."

Tapi, di balik hubungan yang makin dekat itu, Yurike harus menelan pil pahit. 
Suatu ketika, Bung Karno meminta dia berhenti bersekolah. Dan itu sungguh 
mengejutkan. Tapi, "Memang ini salahku sendiri. Aku mulai berani mengadu 
kepadanya seputar bisik-bisik yang berkembang di sekolah yang berkembang 
menjadi aneka komentar yang disampaikan secara terang-terangan."

Walhasil, keputusan yang diambil adalah keluar dari sekolah. Pada waktu itu, 
Yurike masih duduk di kelas II SMA. Ayahnya datang ke sekolah dan secara khusus 
bicara empat mata dengan kepala sekolah. Alasan keluar tentulah karena Yurike 
akan menikah dengan Bung Karno. Lelaki itu juga mewanti-wanti agar sang kepala 
sekolah merahasiakan hal itu.

Yurike sendiri mengungkapkan kegundahannya atas keputusan tersebut. "Sejak itu, 
aku kehilangan napas duniaku yang amat kukenali selama bertahun-tahun, bahkan 
sejak kelas I sekolah rakyat. Di satu sisi, aku bisa bebas sebebas-bebasnya 
dalam arti sudah tidak terbebani kewajiban, tapi kenyataannya malah terbalik: 
aku justru terpasung di tengah kebebasan atau terbelenggu di tengah pesona 
kenikmatan yang diberikan orang lain."

Yurike didera kesepian. Apalagi setelah frekuensi kegiatannya di Barisan 
Bhinneka Tunggal Ika makin dikurangi. Ia merasa, Bung Karno secara tidak 
langsung mengatur hal ini. "Kukatakan secara tidak langsung karena Bung Karno 
tidak pernah menanyakan mengapa aku tidak hadir di antara keanekaragaman 
pakaian daerah seperti waktu-waktu sebelumnya."

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Yurike yang sudah jenuh dengan 
hubungan lewat perjalanan incognito malam-malam hari ke pantai di kawasan 
Tanjung Priok itu makin mendapat kepastian. Pada Kamis 6 Agustus 1964, yang 
disebutnya hari termanis itu, Bung Karno resmi menikahinya secara Islam.

Ia pun mencatat saat-saat paling istimewa sepanjang hidupnya tersebut. "Sikapku 
serba-gugup. Waktu terasa merangkak lambat sekali. Detik demi detik, menit demi 
menit. Kucoba sekuat mungkin mempertenang diri, tapi sia-sia. Kucoba alihkan 
pikiran ke masalah lain, tapi percuma. Masih terbayang jelas kunjungan calon 
penghulu kami kemarin malam ke rumah. Maksudnya tidak lain, untuk melatihku 
agar upacara benar-benar dapat berlangsung khidmat dan lancar."

Tepat pukul 10.00, Bung Karno hadir dengan pengawalan yang jauh dari ketat. 
Tidak terkesan sama sekali bahwa beliau adalah presiden yang bergelar Panglima 
Tertinggi ABRI sekaligus Pemimpin Besar Revolusi. Pakaiannya sederhana sekali. 
Kemeja biru muda lengan pendek, celana biru tua, sepatu hitam, dan peci hitam 
ciri khasnya dirasakan Yurike benar-benar mempercerah penampilan lelaki itu. 
"Acara yang paling penting dalam sejarah hidupku dimulai," tulis dia.

GATRA (Dok. GATRA)

Duka Istri Presiden
Ternyata menjadi istri orang nomor satu di suatu negeri tidak selamanya enak. 
Kesepian yang menerpa dirinya bukannya berkurang. Makin lama, makin terasa 
menyesakkan. "Hari demi hari bergulir sesuai dengan kehendak sang waktu. Kadang 
kurasakan hari merangkak lambat manakala kami tidak saling bertemu. Kadangkala 
bagai sekejap manakala napas kerinduan harus runtuh oleh arus perpisahan yang 
menerjang," tulis dia meluapkan perasaan itu.

Selama beberapa waktu, Yurike masih tinggal bersama orangtuanya sampai Bung 
Karno memberinya sebuah rumah di kawasan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. 
Rumah itu diakui Bung Karno sebagai rumah sitaan kejaksaan milik seorang 
manipulator yang jadi buronan. Kesepian ternyata kian meradang berada di rumah 
besar itu. Apalagi, ia tidak bisa bebas keluar-masuk halaman yang dikelilingi 
pagar tertutup cukup tinggi.

Untuk mengusir rasa sepi, Yurike mengaku kerap melampiaskannya dengan berbagai 
cara. Salah satunya, menghabiskan waktu bergurau dengan para pengawal. "Dasar 
masih remaja, aku mengajak para pengawal bermain perang-perangan. Aku dan salah 
seorang adikku berada dalam satu kelompok, mereka dalam kelompok pihak lawan. 
Mereka dengan sabar mengikuti kemauanku." Terkadang, ia juga menghabiskan waktu 
dengan ikut main gaple bersama para pengawal.

Tapi hal yang paling mengagetkan dirasakannya adalah pada saat-saat Bung Karno 
terbakar api cemburu. Ini dialami Yurike ketika menjalani perawatan selama tiga 
pekan di Rumah Sakit Husada karena mengalami hamil di luar kandungan. Ia harus 
menjalani operasi untuk mengangkat janin itu. Ketika masuk rumah sakit hingga 
beberapa lama dirawat, kebetulan Bung Karno sedang bermuhibah ke luar negeri.

Ceritanya, selama dirawat, ada seorang dokter yang memberi perhatian khusus dan 
istimewa kepada Yurike. Dokter muda itu kerap menjenguknya sembari membawa buah 
atau yang lain. Terakhir, dokter muda bernama Arifin itu membawakan televisi 
dan majalah asing agar Yurike dapat mengusir rasa jemunya. Majalah asing itu 
juga cukup kontroversial: melaporkan pertemuan mesra Bung Karno dengan bintang 
seksi asal Italia, Gina Lolobrigida.

Begitu Bung Karno tahu, ia tampak sangat murka. Lucunya lagi, ulah si dokter 
itu dihubung-hubungkan dengan antek neokolonialisme (nekolim). Dengan suara 
lantang menggeledek, dia memerintahkan pengawalnya membuang semua itu. Bahkan, 
sebagai buntut kecemburuannya, Bung Karno konon menyuruh tim khusus memanggil 
dokter itu ke istana dan memeriksanya.

"Kesimpulan yang kudengar, sejauh tentang statusku sebagai istri Bung Karno, 
dia sama sekali tidak mengetahuinya. Dia juga tidak terbukti ditunggangi 
nekolim --sebagaimana kecurigaan Bung Karno. Alhasil, tidak ada alasan untuk 
menahannya. Kendati demikian, tugasnya secara mendadak dipindahkan ke rumah 
sakit lain, hari itu juga."

GATRA (Dok. GATRA)

Saat-saat Terakhir
Langit tidak selamanya cerah. Ada saat-saat gumpalan awan hitam 
bergulung-gulung, bahkan tanpa celah sinar barang sejengkal. Keadaan bersih 
juga tak selamanya tergambar di langit karena tiba-tiba bisa keruh, menakutkan, 
kadangkala diwarnai suara petir yang menggelegar seolah sanggup merobek bumi. 
Demikian pula cerminan kehidupan Bung Karno.

Suatu hari, Bung Karno datang tanpa memberi kabar lebih dulu. Pada saat itu, 
Yurike mestinya merasa senang dan menerima sang suami dengan hati 
berbunga-bunga. Tapi tidak pada hari itu. Kehadiran tersebut merupakan sebuah 
kabar buruk. Dia datang naik jip yang dikawal beberapa anggota polisi militer. 
Wajahnya datar, jauh dari ungkapan kegembiraan.

Itulah yang terjadi beberapa waktu setelah Soeharto dilantik menjadi penjabat 
presiden, persis pada 12 Maret 1967. Negara membutuhkan istana karena penjabat 
presiden akan melaksanakan tugas kenegaraannya dari tempat itu. Tidak ada jalan 
lain, Bung Karno harus angkat kaki dari istana yang telah dihuninya selama 
bertahun-tahun.

Meredupnya kekuasaan Bung Karno ikut mempengaruhi kehidupan yang dijalani 
Yurike. Tahun 1968 menjadi tahun yang dianggapnya paling memprihatinkan. 
Kondisi keuangannya kian tidak menentu. Tambahan lagi, kini tidak ada lagi 
aliran dana kerumahtanggaan presiden untuk menggaji para pembantu yang jumlah 
totalnya ada 20-an orang.

Efek yang lebih menyesakkan, sudahlah Bung Karno hidup dalam isolasi di Wisma 
Yaso, Jakarta Selatan, Yurike pun harus angkat kaki dari rumah di Cipinang 
Cempedak. Berkali-kali pihak kejaksaan meminta dia mengosongkan bekas rumah 
pengusaha buronan bernama King Gwan itu, berkali-kali pula ia menolak. Ia baru 
angkat kaki setelah menerima pesan singkat Bung Karno yang ditulis di atas 
kertas bungkus rokok. "Dik, lebih baik tinggalkan rumah itu, toh bukan milik 
kita."

Yang lebih menyesakkan, Bung Karno bahkan menyarankan agar Yurike mengajukan 
permintaan cerai. Ini mengguratkan suasana haru yang menyelimutinya pada saat 
itu. "Aku sedih. Betul-betul sedih. Tidak kubayangkan perkataan itu keluar dari 
bibir Bung Karno," katanya.

Menurut Bung Karno, situasi politik dalam negeri dan kondisi kesehatannya yang 
memburuk bisa berefek kurang baik bagi kehidupan Yurike selanjutnya secara 
lahir-batin. Awalnya ia menolak, dengan menegaskan hanya ingin hidup selamanya 
dengan Bung Karno. "Saya tidak minta apa-apa lagi. Mata Bung Karno 
berkaca-kaca. Hatiku pun menangis sejadinya," tulis dia.

Akhirnya, Yurike memang bercerai dari Bung Karno secara baik-baik. Peristiwa 
yang sungguh mengharukan karena mereka masih sama-sama saling mencintai. Sebuah 
perpisahan yang justru terjadi ketika mereka tengah dekat dan sangat rapat.

Tapi, di atas segala kepedihan itu, yang paling menyesakkan tentulah ketika ia 
mendengar kabar wafatnya "sang penyambung lidah rakyat Indonesia" itu pada 21 
Juni 1970. "Kata orang, aku tidak sekadar meratap, tetapi histeris. Aku tidak 
peduli. Berkali-kali kupanggil namanya hingga suaraku tak terdengar lagi...."

Erwin Y. Salim
[Ragam, Gatra Nomor 22 Beredar Kamis, 8 April 2010]
http://www.shvoong.com/books/biography/1839705-wives-sukarno-1st-president-indonesia/


Kirim email ke