Refleksi : Meraka adalah sahabat kental, ibarat burung sama bulu, jadi kompromi 
bukan hal baru bagi mereka.  Ical pernah menjadi menteri pada pemerintahan  SBY 
yang lalu, jadi tidak ada yang baru  nan istimewa dalam persekutuan dan 
aplikasi politik mereka di masyarakat.

http://www.gatra.com/artikel.php?id=137641


Kompromi Politik SBY-Ical

Tergusurnya Sri Mulyani dari kabinet memuluskan kompromi politik SBY-Ical 
(Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Aburizal Bakrie). Menurut bisik-bisik 
peserta, sebelum pertemuan dengan seluruh partai koalisi, terjadi pertemuan 
empat mata Presiden SBY-Ical di ruangan sebelah. Singkat cerita, pada awal 
pertemuan itu, SBY menyampaikan pembentukan Sekretariat Gabungan (Setgab) 
Partai Koalisi. Ketuanya SBY, dan Ical ditunjuk menjadi ketua harian.

Dalam rapat itu, menurut sumber Gatra, tidak ada permintaan persetujuan 
hadirin. "Semua sudah disepakati SBY dan Ical. Yang lain tinggal terima jadi," 
kata sumber Gatra. Hatta Rajasa yang sebelumnya jadi Ketua Tim Kampanye 
SBY-Boediono, menurut sumber Gatra, terlihat murung. Kepalan tangan kanannya 
kerap menempel di bibir.

Beberapa partai koalisi, masih kata sumber Gatra itu, sebenarnya galau atas 
penunjukan Ical pada tempat lebih istimewa di atas partai lain. Pasalnya, 
Golkar tidak ikut berkeringat memenangkan SBY dalam pemilu presiden lalu. 
Golkar bergabung pasca-pemilu.

Terlebih, dalam banyak kesempatan, elite Golkar kerap sesumbar: tidak akan 
berkoalisi dengan Demokrat, seperti lima partai koalisi yang lain. Tetapi 
Golkar berkoalisi langsung dengan Presiden SBY. Alasan kedua, dalam Pansus 
Century, sikap Golkar berseberangan dengan Demokrat, turut menghabisi 
pemerintah bersama oposisi: PDI Perjuangan, Hanura, dan Gerindra.

Penunjukan Ical itu dinilai tidak mencerminkan koalisi yang "meritokratif": ada 
reward pada partai yang setia dan punishment pada partai yang nakal. Posisi itu 
juga dikhawatirkan memberi akses lebih pada Ical untuk mengeruk keuntungan 
politik-ekonomi.

Karena itu, di kalangan partai koalisi sempat beredar opsi agar ketua harian 
ditempati politikus Demokrat saja. Opsi kedua, tanpa ketua harian, dan SBY-lah 
yang memegang kendali koalisi. Sedangkan posisi semua ketua umum partai setara. 
Tapi kegelisahan itu hanya bergumam jadi unek-unek. Pernyataan resmi sejumlah 
elite partai mengungkapkan, penunjukan Ical itu telah disetujui semua ketua 
umum partai koalisi.

Sekongkol elite ini dikhawatirkan memetieskan skandal Century dan pajak yang 
bikin panas-dingin lingkaran dalam SBY dan Ical. Namun Sekjen Golkar, Idrus 
Marham, yang mantan Ketua Pansus Century, menyebut kebijakan Golkar tentang 
Century belum berubah. "Tidak ada kebijakan yang tidak sepengetahuan sekjen," 
katanya. "Saya yakin, Priyo tidak sungguh-sungguh mengatakan itu."

Idrus membantah anggapan bahwa keterlibatan Golkar dalam penguatan koalisi itu 
adalah buntut mundurnya Ani. "Terlalu kecil koalisi ini hanya mengurusi Sri 
Mulyani,'' ujarnya.

Dipilihnya Ical sebagai ketua harian itu dianggap wajar. Sebab ketua umum 
partai lain --PPP, PAN, dan PKB-- sudah masuk kabinet. Tinggal Golkar dan PKS 
yang tidak sibuk di kabinet. Priyo menambahkan pertimbangan: Golkar peraih 
suara kedua dan Ical politikus paling senior.

Pernyataan Ical di markas Golkar, Minggu lalu, pada saat ditemui Gatra, mirip 
pernyataan awal Priyo bahwa proses politik kasus Century dianggap cukup, tapi 
proses hukumnya didorong terus. "Proses politik itu sudah selesai, apa lagi?" 
kata Ical. "Tidak perlu hak menyatakan pendapat. Cukup dengan tim pengawas, 
semua rekomendasi Pansus Century diselesaikanlah."

Soal anggapan mundurnya Ani sebagai kemenangan Golkar, Ical berkomentar, "Aneh. 
Itu orang-orang yang sinis saja. Penempatan Sri Mulyani itu bagus." Ical 
mengakui intensitas komunikasi politiknya dengan SBY. "Ya, intens. Kami partai 
koalisi, ya, tentu kami mesti intens," katanya.

Asrori S. Karni, Anthony Djafar, Sandika Prihatnala, dan Sukmono Fajar Turido
[Laporan Utama, Gatra Nomor 27 Beredar Kamis, 13 Mei 2010] 

Kirim email ke