http://www.riaupos.com/new/artikel.php?act=full&id=17&kat=7

M Nazir Fahmi, Wakil Pemimpin Redaksi

Belajar ke Cina
16 Mai 2010
M Nazir Fahmi
  
KANTOR Badan Operasi Bersama (BOB) dipindahkan Pertamina ke Jakarta. Sangat 
wajar tokoh-tokoh Riau bereaksi keras atas keputusan ini. Bumi Riau dikuras, 
hasilnya dibawa terbang ke pusat kekuasaan di Jakarta. Kalau sebelumnya kantor 
BOB ada di Pekanbaru, belakangan kantornya pun dibawa terbang ke Jakarta.
  
Saya tidaklah akan mengungkapkan kemarahan atas kepindahan kantor BOB tersebut 
ke Jakarta. Saya berprasangka baik saja. Mungkin Pertamina lagi efisiensi dan 
menggabungkan semua kantornya ke Jakarta. Berhemat, mungkin itu ceritanya.

Hanya saja, Jakarta ini yang kini jadi persoalan. Sebagai pusat pemerintahan, 
kita sudah tahu Jakarta sudah sangat padat. Arus urbanisasi seakan tidak 
terkendali, migrasi dari berbagai tempat di nusantara ini. Tujuannya Jakarta 
lagi.

Nah, Pertamina pun menambah parah Jakarta dengan memindahkan kantor BOB. 
Otomatis karyawan yang ada di Riau boyongan ke Jakarta. Wah, bertambah padat 
tuh Jakarta. Terlihat di sini Pertamina kurang peduli dengan dampak negatif 
urbanisasi. Padahal, dengan kantor BOB di Pekanbaru, cukup membantu mengurangi 
dampak urbanisasi ke Jakarta.

Kita di Indonesia ini kurang belajar dengan cara Cina mengurangi dampak negatif 
urbanisasi di kota-kota besar utamanya. Padahal, rata-rata orang Indonesia 
bergaul dengan orang Cina, walaupun itu sebatas keturunan. Malah, Rasulullah 
SAW pun memerintahkan kita untuk belajar walau ke negeri Cina. Cina adalah 
negara yang paling berhasil menekan arus urbanisasi.

Untuk menghidupkan seluruh kota dan desa, Cina membuat kebijakan yang ketat 
soal tanah. Kalau di kota, semua tanah adalah milik negara. Mau berusaha atau 
bangun rumah, harus menyewa kepada pemerintah. Lain hal di desa, tanah dijual 
murah dan bisa jadi hak milik. Makanya, banyak investor dari kota 
berlomba-lomba ke desa. Alhasil, kota dan desa sama-sama maju.

Untuk mendukung semua ini, pemerintah Cina menyelesaikan semua infrastruktur 
jalan. Hingga ke desa-desa jalannya mulus dan dibuat dengan sistem highway. 
Jadi jangan heran, di Cina, tol-tolnya sampai ke desa-desa. Perekonomian desa 
pun bergairah. Industri tumbuh di mana-mana. 2/3 perusahaan harus bangun usaha 
dan kantornya di kota kecil. Jadi wajar saja kalau saat ini pasar dunia 
dikuasai oleh Cina. Kalau kita kan terbalik. Semuanya harus diselesaikan di 
Jakarta. Semuanya dibangun tak jauh dari tugu Monas. Kantor-kantor perusahaan 
yang mengeruk minyak di tepi Sungai Mandau pun menjulang tinggi di jalan utama 
Kota Jakarta. Tambah pusinglah Fauzi Bowo, Gubernur DKI menyikapi semua ini. 
Jakarta tambah semrawut. Daerah-daerah hanya bisa gigit jari dan kian sulit.***

[email protected]

www.mhd-nazir-fahmi.blogspot.com

Kirim email ke