http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010051707524916

      Senin, 17 Mei 2010 
     

      BURAS 
     
     
     

Bangkok Tercekam Kekerasan Militer!


       
      "BANGKOK kian mencekam!" ujar Umar. "Setelah Rabu 12 Mei aksi protes 
puluhan ribu massa Kaus Merah genap dua bulan melumpuhkan Ibu Kota Thailand 
itu, militer sejak Kamis mengepung dan menyerbu dengan peluru tajam! Sampai 
Sabtu sore, kekerasan militer itu menewaskan 17 orang! Sabtu malam dan Minggu, 
tewas lagi 25 orang, luka parah lebih 180 orang!" (Metro TV [16-5])

      "Selain menahan truk bantuan logistik pemrotes, tentara juga merazia 
identitas warga yang masuk kota guna memastikan tak bergabung pemrotes!" kata 
Amir. "Terhentinya dukungan logistik dan massa penting bagi tentara karena 
mayoritas pemrotes yang masih bertahan terdiri dari massa miskin dari luar 
kota!"

      "Tapi pengepungan dan pencegatan logistik bisa berakibat lebih buruk!" 
tegas Umar. "Selama dua bulan ini pemrotes relatif sportif, jika terdesak 
kelaparan bisa merusak! Jika pengrusakan dihadapi tentara dengan kekerasan 
seperti dilakukan empat hari terakhir, korban jiwa bisa lebih masif--bisa 
menyulut perang saudara!"

      "Itu tak terelak, karena tekad massa Kaus Merah berjuang sampai titik 
darah penghabisan!" timpal Amir. "Pemimpin mereka Jatuporn Prompan, Sabtu 
(15-5), menegaskan, 'Kematian takkan menghentikan perjuangan warga sipil!" 
(Kompas [16-5])

      "Klaim Kaus Merah sebagai perjuangan warga sipil jelas, massa itu 
pendukung Thaksin Sinawatra yang dikudeta militer 19 September 2006!" ujar 
Umar. "PM Thailand sekarang, Abhisit Vejjajiva, memang hasil pemilu, tapi 
dianggap boneka militer! Ini inti masalahnya, yang justru semakin nyata dengan 
tindakan militer menghabisi Kaus Merah dengan segala cara!"

      "Kunci penyelesaian konflik ini tinggal pada titah Raja Bhumibol 
Aduljadej!" tegas Amir. "Tapi selain raja selama ini cenderung lebih dekat 
dengan militer yang berfungsi sebagai pengawal tahta, juga ada isu seolah 
Thaksin ingin mengakhiri sistem monarki! Sehingga, chaos fatal pun raja mungkin 
tak bertindak!"

      "Karena itu, Abhisit memilih menghabisi pemrotes dengan kekerasan 
militer! Ini pelajaran dari nasib PM yang ia gantikan, Somchai Wongsawat, jatuh 
November 2008 akibat massa Thaksin menguasai Bandara Swarnabhumi, didukung 
putusan Mahkamah Konstitusi memecat Somchai dan membubarkan tiga partai 
pemerintah!" tegas Amir. "Apakah Abhisit mampu menghabisi perjuangan warga 
sipil dengan kekerasan militer dan mempertahankan kursi PM, lalu lolos dari 
mahkamah internasional atas pelanggaran HAM berat untuk pembunuhan massal itu, 
sejarah sedang diukir lewat tindakannya!"

      H. Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke