http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=showpage&kat=7

[ Kamis, 20 Mei 2010 ] 

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010 

Menutup Aib, Menyingkap "Gaib" 

Oleh: Soetrisno Bachir 

SUDAH lebih dari seratus tahun kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional 
sejak berdirinya Boedi Oetomo 20 Mei 1908. Saat itu, mulailah para cerdik 
pandai bangsa ini berpikir keras dan berusaha mati-matian untuk memerdekakan 
diri dari belenggu penjajah. Segala upaya dilakukan sampai akhirnya pada 17 
Agustus 1945 bangsa Indonesia melalui Soekarno dan Mohammad Hatta mampu 
memproklamasikan kemerdekaannya. 

Proses dari sebuah gagasan untuk bersatu menjadi satu bangsa yang padu dan 
bersama-sama merebut kemerdekaan harus menunggu selama 37 tahun. Tentunya, itu 
merupakan sebuah perjalanan yang panjang dan pasti mengorbankan nyawa serta 
biaya yang juga tidak sedikit. Sebuah pengorbanan para pendiri bangsa yang 
semestinya kita teladani bersama.

Salah satu upaya untuk meneladani jasa para pendiri bangsa ini adalah dengan 
cara terus melakukan upaya yang bersifat memperbaiki kehidupan berbangsa dan 
bernegara. Sayangnya, fenomena yang terjadi belakangan ini kurang menunjukkan 
ke hal-hal yang demikian. Salah satu realitas yang tampak nyata adalah adanya 
kecenderungan untuk saling membuka aib orang lain untuk konsumsi publik. 
Fenomena tersebut terjadi hampir di semua elemen masyarakat. Baik di tingkat 
petinggi penyelenggara pemerintahan, alat negara, politisi, partai, organisasi 
massa, hingga para pesohor yang bernama selebriti.

Setiap saat kita disuguhi sebuah tayangan yang membongkar aib orang lain. 
Berita politik berisi saling memfitnah dan menjelek-jelekkan. Berita hiburan 
yang ada adalah gosip murahan yang berisi perceraian dan perselingkuhan. 
Lama-kelamaan bangsa ini bisa sakit. Membongkar kejahatan adalah mulia. Namun, 
kalau tujuannya hanya untuk saling menjelekkan, kemuliaan itu jadi hilang.

Rekonsiliasi Sebuah Keharusan 

Bangsa ini sudah terlalu letih untuk menyelesaikan masalahnya yang bejibun. 
Kita semua berharap jangan sampai masalah terus bertambah yang akhirnya hanya 
akan membebani generasi mendatang. Momen Hari Kebangkitan Nasional ini 
hendaknya bisa kita jadikan sebuah Gerakan Rekonsiliasi Nasional. Sebuah 
gerakan untuk saling memaafkan antarelemen masyarakat. Terutama para 
penyelenggara negara, pembuat kebijakan, dan para politikusnya. Termasuk 
seluruh elemen masyarakat pada umumnya.

Gerakan rekonsiliasi itu diperlukan agar energi bangsa ini tidak habis hanya 
untuk mengorek-orek kesalahan tanpa sempat berpikir jernih menghasilkan sebuah 
solusi. Tidak ada di antara kita yang tidak pernah bersalah pada masa lalu. 
Biarkanlah kesalahan masa lalu itu menjadi catatan dan pelajaran masa 
mendatang. Bila kesalahan masa lalu tersebut harus diselesaikan melalui hukum, 
ya segera diputus dan kemudian dimaafkan.

Sebagai sebuah bangsa yang mengaku bangsa religius, akan lebih baik bila lebih 
mengutamakan maaf daripada dendam. Rasulullah SAW dalam doanya pun selalu 
meminta agar aib diri dan umatnya ditutupi. Aib bukan sesuatu yang pantas 
dibawa-bawa ke muka publik. Kalau kita pandai-pandai menutupi aib orang lain, 
insya Allah, Allah akan menutupi aib kita, baik di dunia maupun di akhirat. 
Gerakan rekonsiliasi bisa dimulai dari menutupi aib orang lain dan memaafkannya.

Bagaimana kita mau maju kalau kita terus sibuk mengungkap aib orang lain, 
sedangkan bangsa lain terus bergerak memperbaiki diri dan menyiapkan bangsanya 
untuk terus berpikir kreatif, bertindak efektif membuat dan memproduksi barang 
dan jasa yang siap dikonsumsi serta digunakan bangsa-bangsa lain. Indonesia 
yang punya segalanya seharusnya lebih siap bersaing karena didukung manusianya 
yang tidak pernah kehabisan akal dan ide cemerlang serta limpahan kekayaan alam 
yang (mungkin) paling besar di dunia. 

Bagaimana kita mau membangun bangsa kalau orang-orang cerdasnya dengan 
kemampuan kelas dunia tidak punya tempat di negeri sendiri. Para ilmuwan dan 
penelitinya lebih suka mencari kerja di luar negeri yang memang memberikan 
penghargaan lebih daripada berkarya di dalam negeri. Ini bukan soal 
nasionalisme atau patriotisme. Ini soal penghargaan. 

Kalau bangsa ini tidak letih karena bertikai untuk kepentingan jangka pendek, 
bangsa ini sangat berpeluang menjadi bangsa besar. Sangat bisa menyusun program 
jangka panjang untuk bangsa dan siap menampung serta memberi tempat untuk 
putra-putri terbaik bangsa yang dimiliki untuk berkarya membuat kemakmuran bagi 
bangsa sendiri.

Marilah, dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional yang sudah seratus dua kali ini 
kita peringati, kita melakukan rekonsiliasi nasional dengan hal yang paling 
sederhana, yaitu menutup aib orang lain dan mengungkap kegaiban. Mari kita coba 
pada diri sendiri untuk selalu berusaha menutupi aib orang lain. Kalau kita 
mampu menutupi aib orang lain, insya Allah, Allah akan menutupi aib kita. Kalau 
banyak di antara kita yang menutup aib, insya Allah perjalanan bangsa ini akan 
lebih tenang, sehingga kita mampu mengungkap kegaiban. 

Kegaiban yang dimaksud tentu bukanlah kegaiban yang berbau klenik atau 
perdukunan. Kegaiban yang dimaksud adalah tanda-tanda alam yang telah Tuhan 
tunjukkan melalui berbagai fenomena alam. Menyingkap kegaiban berarti membaca 
tanda-tanda ilahiah di alam ini.

Tuhan melalui alam selalu memberikan sinyal-sinyal untuk kita baca dan kita 
perhatikan. Orang-orang dulu begitu bijak membaca tanda-tanda alam karena 
mereka mempunyai kesantunan dan kesalehan sosial, baik terhadap Tuhan, sesama 
manusia, serta kepada alam sekitar. Kehidupan begitu harmonis. Masyarakatnya 
pun bekerja dengan hati, sehingga mampu menghasilkan karya cipta yang 
mengagumkan untuk bangsa.

Bangsa yang mampu mengungkap kegaiban juga bisa diartikan bangsa yang visioner. 
Bangsa yang mampu melihat masa depannya karena memang sudah mempunyai 
perencanaan yang matang. Masa depan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dibuat 
sejak sekarang. Tinggal kita mau atau tidak. Selama kita masih bergaduh dengan 
urusan aib orang lain, jangankan mikir masa depan, masa sekarang pun bisa tidak 
jelas. 

Mudah-mudahan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun depan tidak lagi 
sekadar seremoni yang membosankan yang diulang setiap tahun. Namun, bisa 
membuat bangsa Indonesia berekonsiliasi menjadi bangsa yang bervisi untuk 
kemakmuran rakyatnya. Amin. (*)

*) Soetrisno Bachir, pendiri Solusi Bangsa Center 

Kirim email ke