http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55568:ilusi-optik-ekonomi-1--mistik-pertumbuhan-ekonomi&catid=78:umum&Itemid=139

      Ilusi Optik Ekonomi (1) ; 
      Mistik Pertumbuhan Ekonomi      
      Oleh : Benri Saut Nauli Sihombing



      Pertumbuhan ekonomi adalah sebuah senjata ekonomi dalam lingkup 
makro-ekonomi. Yang juga merupakan andalan bagi pemerintah dalam mengukur 
kinerja ekonominya. 

      Dalam beberapa hal, pertumbuhan ekonomi ini merupakan senjata ilusi yang 
paling pas digunakan untuk kampanye ataupun berita internasional.

      Pengertian pertumbuhan ekonomi yang dipergunakan dalam laporan resmi 
perekonomian Indonesia sebenarnya adalah pertumbuhan Produk Domestik Bruto 
(PDB) riil atau PDB atas dasar harga konstan. Pada tahun 2007, PDB (Rp 
1,964,327.3 Milyar) meningkat sebesar 6,3 persen terhadap tahun 2006 (Rp 1, 
847,126.7 Milyar), bertambah sebesar proporsi itu dibandingkan dengan tahun 
2006. PDB tahun 2008, sebesar Rp 2, 082,315.9 Milyar, meningkat sebesar 6,1 
persen terhadap tahun 2007. Dan tahun 2009 sebesar Rp 2,176,975.5 Milyar, 
meningkat 4,5 persen dari tahun 2008.

      Angka yang lebih sering dianalisa oleh para ekonom adalah PDB riil, PDB 
menurut harga konstan tahun dasar tertentu, atau PDB atas dasar harga konstan. 
PDB riil dihitung dengan menghilangkan faktor fluktuasi harga dengan deflator 
dari PDB Nominal, atau sering disebut PDB berdasarkan harga berlaku. Sehingga 
yang diperbandingkan antar tahun adalah benar-benar kuantitas produksi, dimana 
nilai uang hanya bersifat satuan ukuran yang memungkinkan dilakukannya 
penjumlahan. GDP Nominal tahun 2009 adalah Rp 5.417.222,2 Milyar.

      Angka-angka ini sebenarnya tidak berarti apa-apa. Namun bagi pemerintah, 
angka-angka ini sangat penting untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dan 
kinerja perekonomiannya. Definisi singkat dari Produk Domestik Bruto (PDB) 
adalah nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam 
perekonomian selama kurun waktu tertentu. Pengertian perekonomian merujuk 
kepada wilayah suatu negara. Pengertian kurun waktu tertentu biasanya adalah 
satu tahun. Lazimnya, perhitungan PDB dilakukan dengan dua pendekatan. 
Pendekatan arus barang dan penghasilan/biaya, dimana keduanya akan menghasilkan 
angka yang sama.

      Dengan pendekatan penghasilan, PDB merupakan jumlah balas jasa yang 
diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di 
suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa 
faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan 
keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung 
lainnya. 

      Dalam definisi ini, PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung 
neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi). (Namun, BPS (Badan Pusat 
Statistik) hanya melakukan perhitungan yang menggunakan pedekatan arus barang 
atau produksi dan pengeluaran atau konsumsi, dan belum ada data yang disajikan 
dengan pendekatan penghasilan).

      Namun, dicara yang sama, penghasilan ini dapat diketahui menurut 
Pendekatan Pengeluaran. PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri 
dari : pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, 
pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, 
perubahan inventori, dan ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi 
impor). Tahun 2009, Pendapatan Nasional adalah sebesar Rp 4.970.511,7 Milyar. 
(PDB Nominal setelah dikurangi Pajak tidak langsung neto dan penyusutan).

      Dapat pula dianalisa angka-angka pendapatan nasional selain PDB, seperti: 
Produk Nasional Bruto (PNB). Perbedaannya dengan PDB adalah, PDB mencakup satu 
wilayah, dalam hal ini Negara Indonesia. Sedangkan PNB, hanya milik sebuah 
negara. Lantas, mengapa kita tidak menggunakan PNB? PNB selalu lebih kecil dari 
PDB, nilai produksi orang asing di Indonesia lebih besar daripada nilai 
produksi orang Indonesia di luar negeri. Ini merupakan fenomena umum bagi suatu 
negara berkembang. Bagi negara-negara maju, PNB mereka biasanya lebih besar 
dari PDB-nya.

      ***

      Jean Babtiste Say (1767-1832), seorang ekonom Prancis yang hidup di 
revolusi industri pernah mengatakan, "pengetahuan tentang fakta-fakta, tanpa 
mengetahui relasi mutualnya, tanpa menunjukkan mengapa yang satu adalah 
penyebab dan mengapa yang satu adalah akibat, jelas tidak lebih baik ketimbang 
informasi mentah dari seorang petugas klerek" "kita selalu disesatkan dalam 
ekonomi politik apabila kita memandang fenomena berdasarkan perhitungan 
matematika".

      Jelas, PDB bukan milik rakyat Indonesia sepenuhnya. Sisi lainnya, akal 
sehat pun bisa menangkap bahwa PDB adalah angka agregat, yang bersifat 
keseluruhan. Angka agregat sama sekali tidak mencerminkan distribusinya. PDB 
misalnya, hanya akan menghasilkan angka rata-rata jika dibagi dengan jumlah 
penduduk. PDB Nominal Rp 5.417.222,2 Milyar bila dibandingkan dengan 225 Juta 
penduduk, maka rata-rata peng hasilan Rp 24.076.543,09 Atau, Pendapatan 
Nasional adalah sebesar Rp 4.970.511,7 Milyar dibagi rata, maka untuk tiap satu 
jiwa memiliki pendapatan mencapai Rp 22.091. 163,08. Jika ada yang 
berpenghasilan milyaran rupiah, maka akan "menambahi" rata-rata bagi yang 
berpenghasilan ratusan ribu rupiah, bahkan bagi yang tak memiliki penghasilan 
sama sekali.

      Pertumbuhan ekonomi ang ka-angka ini seperti tidak memiliki kolerasi kuat 
dengan masalah kemiskinan, pengangguran, ataupun upah buruh. Untuk tahun 2010, 
BPS juga memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia saat ini sebanyak 235 juta 
orang.

      Pendapat ini mungkin keliru, karena yang dimasukkan dalam perhitungan PDB 
adalah memang orang-orang yang berhubungan langsung dengan proses ekonomi atau 
faktor-faktor produksi. Artinya, orang yang tidak bekerja tidak terlibat 
didalam angka itu. Statistiknya barangkali tidak keliru dan tak dimanipulasi, 
namun memang bersifat pukul rata. Lagi pula, BPS bukanlah departemen yang 
tugasnya menyelesaikan masalah ekonomi atapun sosial. Dan juga, tidak semua 
data dari sektor-sektor rill yang bisa diidentifikasi oleh BPS. 

      ***

      Tapi, bagaimana dengan si miskin? Memang ada penurunan dari tahun 
sebelumnya, dan tahun 2007 ada 37.168. 300 jiwa, tahun 2008 ada 34.963.300 
jiwa. Sedangkan untuk tahun 2009 berjumlah 32.530.000 jiwa. Lalu, apakah karena 
perbandingan statistik jumlah si miskin ini dengan jumlah penduduk saat ini 
sebanyak 235 juta jiwa (proyeksi 2010) merupakan cermin bahwa hanya sekitar 7 
persen-lah si miskin di Negara ini? Atau sebaliknya, jumlah orang dari sisanya 
(proyeksi dikurangi dengan jumlah kemiskinan) memang akan atau sudah layak 
secara ekonomi? Pertumbuhan ekonomi adalah angka agregat, yang tidak bisa 
dirasakan secara agregat dengan perhitungan-perhitungan seperti itu. 

      Perkembangan perekonomian suatu Negara tidak bisa ternikmati dengan 
ukuran jangka waktu yang pendek. Tetapi mari kita ikuti, dan tetap mendukung. 
Sampai dimana angka-angka komputer ini bisa memberi pengaruh yang nyata akan 
apa yang bisa sesungguhnya dinikmati. IMF memperkirakan perekonomian Indonesia 
tumbuh 6 persen pada 2010 dan 6,25 persen pada 2011. Prediksi IMF itu melampaui 
asumsi pertumbuhan ekonomi yang disepakati pemerintah dan DPR, yaitu 5,8 
persen. Pemerintah juga menargetkan, pada tahun 2014 nominal produk domestik 
bruto atau PDB mencapai Rp 10.000. **
     

Kirim email ke