Salam, Ini email dari Arfah, salah seorang pengajar di Sekolah Rumah Mentari, Bandung. Tentang Sekolah Rumah Mentari bisa dibaca di:
http://marfahd.wordpress.com/2010/05/24/sekolah-rumah-mentari/ http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=139426 http://alifmagz.com/wp/2010/04/01/sekolah-rumah-mentari-komunitas-belajar-gratis-di-bandung-utara/ Terima kasih. Imam H. Usman www.hitam-merah.blogspot.com yang utama ialah hidup, sekalipun hidup melarat kejahatan memalukan, bukan kemiskinan (multatuli, max havelaar) --- On Fri, 5/28/10, M. Arfah D. <[email protected]> wrote: From: M. Arfah D. <[email protected]> Subject: Fwd: Yuk, Bikin Tas Mentari! To: [email protected] Date: Friday, May 28, 2010, 5:04 PM Yuk, Bikin Tas Mentari! Maret lalu, saat saya satu kamar dengan keponakan saya di Tangerang, menjadi bulan yang menyenangkan baginya, meski terkadang melelahkan bagi saya. Namanya Ziyad, kelas dua Sekolah Dasar yang senang makan nasi dan omelet tanpa sayur. Dia juga senang menggambar lelaki dengan rambut liar berduri seperti kulit durian, yang dia sebut “pung” meski dia tulis “punk”. Tiap sore, sebelum jadwal mengaji atau main sepedanya tiba, dan televisi sedang tidak menyiarkan kartun apapun, dia sibuk menggambar di atas kertas yang sudah saya sediakan. Kadang saya kesal, sebab baru segaris, dia sudah ambil kertas baru. “Gambarnya jelek, mau ganti,” alasannya. Saya jadinya memotong kertas itu menjadi dua bagian, agar dia punya ruang lebih tanpa harus boros kertas. Dia menggambar kadal tiga kepala, dia menggambar Spongebob tanpa Patrick, dia menggambar ayahnya terdampar di pantai seperti Tom Hanks di Cast Away, sementara ibunya memancing dari perahu tanpa layar. Dia gambar dengan pensil, lalu dia tambahkan dengan crayon atau pensil warna jika ia merasa perlu. Jika dia sedang cemberut karena ibunya minta dia segera menyelesaikan PR Matematika, saya akan menggambar di sampingnya. Saya menggambar rumah di tengah deretan gedung-gedung tinggi, termasuk sekolahnya dan kantor ayahnya. Saya langsung menggunakan crayon, dan dia melihat ini sebagai cara yang unik. “Ini rumah Ziyad, dekat ama sekolah dan kantor ayah, jadinya bangun gak harus subuh kan,” kata saya dan dia mulai senyum. Saya lalu nodai bantal jari-jari saya dengan crayon hitam, lalu saya gesekkan depan deretan bangunan di gambar saya. Dia heran, lalu bertanya, “Itu bikin apa, Om?” Ini aspal, warnanya abu-abu, jadi harus di-giniin, kata saya. Saat gambar saya sudah penuh warna, dia teriak ke ayahnya, “Ayah, gambar Om Arfah bagus!” Dia minta saya menambahkan Spiderman yang sedang menclok di atap salah satu gedung, yang kemudian saya laksanakan dengan gagal. Dia tidak peduli. Yang penting gambar saya yang ber-Spiderman harus jadi miliknya, jika tidak ayahnya bisa turun tangan. Otomatis, niat saya menyenangkan dia terlampau sukses dan PR Matematika-nya jadi berantakan. Atas permintaan saya, di tiap gambar dia selalu dia bubuhkan tandatangan, hari dan tanggal produksinya. Tandatangannya “ZYD”, dan dia bilang ini keren. Terkadang saya menemaninya menulis cerita atau memberinya soal perkalian, meski karya jenis ini sangat sedikit dibandingkan gambar yang dia bikin, bahkan tanpa saya minta. Awalnya, tiap karya dia saya selipkan di lemari deretan buku kuliah. Semakin lama, karya dia semakin banyak. Saya jadi berpikir pendukomentasian menjadi sesuatu yang penting, setidaknya dapat mengingatkan dia suatu hari bahwa saat dia kecil dia begitu “gila” dan pernah begitu senang saat saya bilang bahwa ada sekolah yang kerjanya gambar melulu. Saya lalu mengajaknya ke gudang. Sementara saya mencari-cari folder kumpulan cerpen koran saya, dia memanjat ambil “baju” raket bulutangkis saya. “Om, ini buat saya ya, buat raket saya,” kata dia, tapi semua gambarmu kamu masukkan di sini, kata saya beri syarat sambil mengangkat folder berwarna merah. Dia iya-iya saja. Tapi saat dia melihat saya mulai memasukkan gambarnya satu demi satu ke dalam folder, dia mulai mengerti. “Saya ambil gambar-gambar saya yang lain ya,” katanya sambil lalu menuju kamar yang lain. Dia kembali dengan setumpuk gambar yang membuat saya ampun. Tumpukan itu adalah gambar dan tulisan selama dia Taman Kanak-Kanak di Malaysia, ada dalam map yang khusus dibikin oleh sekolahnya. “Folder-nya gak cukup, itu disimpan saja lagi,” perintah saya. Dia berkompromi, dia ingin beberapa gambar yang dia rasa terbaik dimasukkan. Saya setuju. Dia seleksi dua tiga gambar, lalu dia rapikan sendiri di dalam folder. “Cerita saya juga ya, Om, ama soal matematika saya,” katanya. Saya mengiyakan. Semua dia masukkan, lalu dia simpan baik-baik. Saat ayahnya sedang makan, saya minta dia perlihatkan folder-nya. Dia laksanakan, tapi ayahnya iya iya saja. Dia pun cuek. “Minta lagi ke ayah, bilang ‘apresiasi dong Yah’, gitu,” kata saya. Meski lidah dia agak repot bilang kata ‘apresiasi’, dia lakukan juga. Dengan begitu, ayahnya kena hajar. Ayahnya jadi melihat satu demi satu gambarnya, repot mendengar dan berkomentar tentang ceritanya tentang tiap karya, bahkan harus menjelaskan apa itu ‘apresiasi’ padanya lebih dulu sebab dia memaksa. ** Saya menyadari dokumentasi pribadi adalah sesuatu yang dasyhat secara personal. Bahkan lebih dasyhat dibanding karya mana pun, sekalipun itu buku terlaris atau lukisan termahal sekali pun. Saya merasa anak-anak Mentari pun perlu diakomodir dalam hal ini. Dua minggu lalu, Kak Angga memasang mading di dinding Rumah Mentari, agak sudut dan membelakangi pintu saat terbuka. Tiap karya anak-anak hari itu dipajang, berbagi tempat di mading tersebut. Minggu lalu, Kak Zul menemani anak-anak menggambar, dan Kak Primus nyeletuk, “Seperti udah pakem ya, gunung dan sawah itu.” Akibat banyaknya karya hari itu, Kak Zul jadi berniat membuat mading baru tanpa harus melepas karya yang lama di mading Kak Angga. Minggu kemarin, Mbak Anug terpaksa harus melepas karya lama di mading, dan memasang karya-karya yang baru. Mungkin beberapa malah tidak bisa dipajang sebab ketiadaan ruang. Anak-anak Mentari, seperti juga keponakan saya, pada dasarnya tidak peduli dengan karya mereka setelah itu jadi. Mereka sudah cukup senang saat memroduksinya, tertawa bersama dan saling membandingkan goresan tangan. Mereka baru peduli saat karya mereka terintegrasi dalam satu tempat, dapat mengingatkan mereka bahwa mereka pernah membayangkan rumah di sawah dengan deretan tiang listrik yang tersambung oleh kabel yang menggelayut, dan sekarang malah senang membayangkan rumah di atas pohon dengan kancil yang hidup di dalamnya, bisa joget, bahkan berkata ‘halo’ pada orang lewat. Dokumentasi mereka tidak hanya menjadi media komunikasi antara masing-masing dari mereka dan imajinasi, tapi juga antara dia dan teman-temannya, dia dan keluarganya. Saya sendiri merasa sangat sayang jika tiap karya mereka berakhir menjadi sampah dengan hanya sedikit jasa menjadi alat hapus papan tulis buat anak-anak lain yang sedang belajar matematika. Minggu kemarin, setelah saya dan Kak Angga memastikan bahwa karya-karya lawas anak-anak Mentari disimpan dalam satu map di Mentari, saya berpikir bahwa tampaknya perlu tiap anak membawa pulang karya-karyanya setelah habis masa pajang di mading Mentari. Persoalannya adalah apakah mereka yang usianya antara 5 sampai 12 tahun mampu mengumpulkan semua karyanya baik-baik, menyimpannya di suatu tempat yang bisa dia peroleh lagi saat sudah dewasa, meski sudah ditempatkan di gudang, dan mengingatkan mereka bahwa mereka pernah kanak-kanak? Saya pikir tidak, dan saya memutuskan untuk membuat program sederhana ini. Saya membayangkan tas kardus yang berbentuk seperti kotak susu, bisa dibawa seperti para eksekutif membawa koper. Di dalamnya ada partisi, mungkin dua buah, membuat tiga ruang yang sama besar. Ada partisi untuk karya seni, ada partisi untuk latihan matematika atau semacamnya. Partisi lainnya adalah kertas reuse yang akan diisi untuk belajar dan berkarya. Tas kardus ini bisa memuat kertas ukuran A4 yang lumayan banyak, tapi setidaknya mampu dibawa oleh anak usia 5 tahun, usia Taman Kanak-Kanak. Sebab musim yang tak lagi mudah diterka, tas kardus mesti waterproof. Sederhana saja. Tiap sisinya dibalut isolasi warna bening. Tidak begitu keren memang, tapi bagi Mentari, orang tak harus menjadi selebrity untuk membangun kedekatan. Sebelum hari produksi tas, kami akan meminta anak-anak Mentari buat siapkan kardus. Cukup satu atau dua kardus mie tiap anak. Mereka bisa minta tetangga mereka yang punya warung, atau minta ibunya yang justru buka warung. Relawan-relawan sendiri rancang tas kardus, mungkin dengan ide yang lebih baik dari bayangan saya. Mereka berkumpul sebelumnya, saling menginformasikan bahwa menuju ke Mentari agak sulit, agak terjal. Harus menuruni puluhan anak tangga ‘aborsi’, dan mendakinya saat pulang. Bikin ngos-ngosan. Jika relawan berencana bawa kendaraan, baiknya parkir di lahan parkir golf dekat Mentari. Relawan juga mesti siapkan peralatan produksi, seperti penggaris, gunting, cutter, lem, isolasi, atau bahan-bahan lain yang kira-kira diperlukan. Tiap relawan bersama tiap anak Mentari bikin satu tas kardus. Sebisa mungkin anak Mentari ikut produksi, melakukan hal-hal kecil seperti melem, menggaris atau menggunting. Hal ini penting sebab jika suatu saat tas kardus mereka rusak atau sudah penuh karya, mereka jadi bisa bikin sendiri, minta bantuan kakak atau orangtuanya. Saya memperkirakan produksi tas kardus akan berlangsung sepanjang hari Minggu, dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Kami jadi perlu meminta tiap anak bawa bekal makan siang. Untuk relawan-relawan, sudah mesti sarapan sebelum ke Mentari. Untuk makan siang, jangan khawatir. Biasanya, Bu Dewi, si empu rumah, menyiapkan makanan jika ada relawan-relawan untuk program khusus semacam ini. Anak-anak Mentari yang lebih dewasa akan bantu di dapur. Kak Imoth sebagai relawan yang urusannya selalu dengan donasi, juga bisa bantu. Pada jam 12 siang, kita akan istirahat. Gelar tikar warna merah, dan sajian desa ada di tengahnya. Kita melingkar, anak-anak juga. Tiap relawan duduk di samping pasangan tas kardusnya. Saat kita mulai gahar menyendok nasi, mereka buka bekal masingm-masing. Saling berbagi lauk jelas menyenangkan. Bisa jadi mereka bawa kornet hari itu. Sore, saat tas kardus tiap anak sudah jadi, tiap relawan meminta mereka menuliskan nama dan menggambar matahari kecil berwarna kuning di sebuah kertas kecil. Ini akan jadi label tas mereka agar tak tertukar. Sebelum hari produksi, kami akan meminta anak-anak untuk melakukan sesuatu. Sesuatu ini akan jadi hadiah kecil bagi relawan-relawan sebelum kita selesai hari itu. Kak Imoth jelas akan tanya, siapa relawan-relawannya, Pak? Anak-anak Mentari kan ada 30-an lebih? Ya, ya, saya tahu ini sulit. Menemukan satu relawan pun susahnya minta ampun, apalagi tigapuluh. Tapi kami coba saja, sapa tau ada yang tertarik. Mungkin anggota himpunan mahasiswa, satu angkatan jurusan, teman-teman se-geng, temen-temen nongkrong, rekan-rekan kerja, atau siapa pun yang kira-kira jumlahnya sekitar itu, tertarik main satu hari sama anak-anak Mentari sambil bikin tas lucu yang kami yakin bisa bikin mereka makin rajin berkarya. Hayo, hayo. Jika tertarik, kalian bisa menghubungi saya di 085624188452 atau di [email protected]. Jadwalnya kapan, nanti kita sesuaikan. Saya tunggu ya. Terima kasih. Oiya, buat temen-temen yang ingin nyumbang kertas reuse, kami menerima dengan sangat. Kertas-kertas Tugas Akhir saya, dan tiga temen lainnya, sudah nyaris habis. Anak-anak Mentari sangar-sangar kalau ngotret. Hihihi. Kontak Kak Primus Pandumudita saja ya, atau Kak Fatni Rifqiyati, atau Kak Nisa Annisa. Mereka mangkal di kampus masing-masing, agar temen-temen kampus, khususnya di Bandung, yang biasa punya kertas reuse banyak, bisa akses lebih mudah. Kak Primus mangkal di Gedung TVST ITB (081910150170), Kak Fatni di Pendidikan Kimia UIN Cibiru (085722498937), dan Kak Nisa di Psikologi UNPAD (085624517830). Kami tunggu ya. Terima kasih. Salam Mentari, Bandung, 24 Mei 2010 M. Arfah D. – Pengajar Matematika dan Bahasa Prancis, tapi kerjanya lebih banyak gosip dengan anak-anak. *Info ini tolong disebarkan ya. Terima kasih. *Tentang Sekolah Rumah Mentari, bisa dibaca di sini: http://marfahd.wordpress.com/2010/05/24/sekolah-rumah-mentari/ http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=139426 http://alifmagz.com/wp/2010/04/01/sekolah-rumah-mentari-komunitas-belajar-gratis-di-bandung-utara/
