--- On Sun, 5/30/10, Gene Netto <[email protected]> wrote:
From: Gene Netto <[email protected]>
Subject: [sd-islam] Pengakuan Guru Tentang Ujian Nasional
To: "sdislam" <[email protected]>, [email protected]
Date: Sunday, May 30, 2010, 4:16 PM







 



  


    
      
      
      

Pengakuan Guru Tentang Ujian Nasional


Assalamu'alaikum wr.wb.,

Ini sebuah email dari seorang guru yang dikirim kepada saya. Saya dapat
izin untuk membagikan dengan teman2 yang lain, dan sengaja tidak menyebut nama 
sang guru yang lapor. (Supaya tidak ditangkap
seperti Susno!)

Silahkan membaca.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Gene 

 

********

 

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Pak Gene, membaca dan menyimak tulisan Bapak tentang "Ini Saatnya Mengubah
Peran Guru Dalam Pendidikan Nasional", saya merasa perlu untuk memberikan
komentar. Komentar yang saya tulis adalah lebih bersifat pengalaman pribadi.



Saya adalah seorang guru SMK & SMA yang sudah mengajar selama 15 tahun dengan 
status guru honor lepas. Selama 15 tahun saya mengajar
tidak pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena sistem 
pengangkatan
PNS yang diperjual-belikan. Sedangkan saya tidak
tertarik dengan cara seperti itu. Saya lebih bangga menjadi guru Sa'i (guru ke
sana ke mari/mengajar dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain), tetapi
dengan cara yang "Fair".



Pada saat pelaksanaan Ujian Nasional tingakat SMA tahun ini, saya bertugas
sebagai pengawas di salah satu SMA negeri. Pada hari pertama mengawas, saya
sudah menemukan kecurangan yang dilakukan oleh siswa (membuka Hp yang berisi
kunci jawaban). Hp saya ambil dan
saya
laporkan kepada panitia ujian di sekolah tersebut. Tetapi saya mendapat jawaban
yang kurang enak didengar oleh telinga: "Wah,
saya juga dapat sms yang sama di 3 Hp saya Bu,
biar nanti siswanya saya tangani". (Itu jawaban yang dikeluarkan dari
mulut salah satu panitia ujian di SMA tersebut).



Hari ketiga mengawas, saya menemukan hal yang sama. Seorang siswi yang duduk
tepat di depan mata saya membawa secarik kertas yang berisi kunci jawaban.
Setelah diperingati dengan isyarat dan kata-kata, siswi tersebut tetep
"nekat" dan akhirnya saya mengambil kertas kunci jawaban tersebut.

Peristiwa ini saya tulis dalam berita acara dan ditanda-tangani oleh saya dan 
satu orang guru yang berasal dari SMA
lain.



Pada hari keempat mengawas, saya mendapat sms bahwa saya tidak diperkenankan
untuk mengawas dan diminta untuk menghadap kepala sekolah tempat saya mengajar.

Saya dimintai keterangan mengenai hal tersebut. Setelah memberikan penjelasan
panjang lebar akhirnya Kepala Sekolah itu berkata bahwa hal ini menjadi masalah
besar karena beliau ditelpon oleh Kepala Dinas, Ketua Panitia Ujian Nasional
Tingkat Kota sampai Ketua PGRI di kota saya. Dan hari itu juga dilakukan rapat
pertemuan diantara mereka pada jam 13.00.



Hari kelima mengawas, saya tetap di skorsing dan anehnya, saya mendapat ancaman
yang berisi: Kalau saya memperpanjang masalah ini, maka urusannya bisa panjang 
dan keselamatan saya terancam (saya
akan dibunuh). Dan hari itu juga saya
kedatangan tamu seorang polisi yang menanyakan peristiwa tersebut.

Saya tidak gentar walau ada perasaan was-was.



Waktu berlalu, hasil Ujian Nasional diumumkan. Dari hasil pengumuman yang saya 
baca ternyata semua siswa SMA tempat dimana saya mengawas
"LULUS 100%".

Timbul pertanyaan dalam hati kecil saya: "APAKAH INI PENILAIAN YANG
OBYEKTIF?"

Saya berusaha mencari jawaban secara diam-diam (seperti detektif amatiran).
Akhirnya saya menemukan jawabannya. Ternyata berita acara yang saya buat
diganti dengan berita acara yang baru dan tanda tangan saya yang simple
dipalsukan. Wah....wah.. ..wah...."HEBAT", dunia pendidikan juga ada mafianya, 
itu
pemikiran saya.



Kejadian tersebut tersebar luas diantara teman sejawat. Sekarang mereka 
memperlakukan
saya acuh tak acuh dan saya mendapatkan stempel "GURU IDEALIS".

Memang sedih rasanya melakukan hal yang "HAK" tetapi harus menerima
kenyataan diperlakukan bagaikan orang asing yang baru dikenal.



Saya bukan guru idealis, tetapi saya ingin mendidik anak-anak dengan sikap yang 
sportif.

Memang berat pak mengahadapi dunia pendidikan di Indonesia, dan saya sudah
berkali-kali mendapat benturan di sana-sini hanya demi sebuah kebenaran. (Masih 
ada pengalaman -pengalaman lain).

Karena dalam hal ini mayoritas guru hanya menjalani pekerjaannya seperti robot,
datang-mengajar- pulang.

Sementara minoritas guru yang berusaha untuk memperbaiki dunia pendidikan ini
selalu "terkalahkan" oleh yang
mayoritas.



Pertanyaan yang ada di benak saya: Sampai kapan pendidikan akan berjalan seperti
ini????

Apakah ada wadah guru-guru yang berani berdiri di depan untuk menegakkan
kebenaran dan berusaha memperbaiki sistem yang berlaku saat ini????



Rasanya, hanya Allah SWT yang Maha Tahu apa yang ada di dalam hati saya.

Sekarang dan hari-hari selanjutnya saya tetap melakukan aktivitas saya sebagai
guru, walaupun dengan situasi dan suasana lingkungan kerja yang tidak seperti 
biasanya.

 

Terima kasih Pak Gene yang sudah mau membaca email saya.



Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

[nama dihapus]



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke