http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=57028:gizi-ekonomi-dan-tenaga-kerja&catid=78:umum&Itemid=131
Gizi, Ekonomi, dan Tenaga Kerja
Oleh : Mandroy P.
Banyak masyarakat kita yang memperhitungkan gizi ketika akan memakan
makanan tetapai banyak juga masyarakat yang tidak menghiraukan akan gizi yang
terkandung dalam suatu makanan.
Hal ini khususnya terdapat pada masyarakat kelas bawah. Mereka hanya
makan seadanya, yang penting kebutuhan biologis akan rasa lapar mereka bisa
terpenuhi. Kemudian apa dampaknya? Pastinya kebutuhan gizi seseorang tidak akan
terpenuhi sebagaimana mestinya yang pada tahap lanjut akan menyebabkan gizi
kurang bahkan pada tahap yang lebih parah akan menyebabkan gizi buruk. Di
Indonesia, prevalensi gizi kurang dan gizi buruk masih tergolong tinggi yaitu
sekitar 19,24 persen (kurang lebih 3,6 juta anak) untuk gizi kurang dan sekitar
8,8 persen (kurang lebih 1,5 juta anak) untuk gizi buruk (BPS, 2005).
Untuk masyarakat kelas bawah, kebutuhan akan gizi dari makanan yang
mereka makan sulit untuk mereka penuhi. Salah satu faktor dominan yang
berpengaruh terhadap timbulnya kesulitan ini adalah krisis ekonomi. Krisis
ekonomi merupakan akar masalah yang menyebabkan terjadinya masalah gizi di
negara kita dan negara-negara berkembang lainnya. Ibarat pohon, krisis ekonomi
ini diumpamakan sebagai akar yang mempengaruhi kekokohan dari pohon tersebut
dan masalah gizi ini diibaratkan sebagai buahnya. Semakin dalam dan semakin
luas akar ini masuk kedalam tanah semakin kokoh jugalah pohon tersebut berdiri
dan semakin lebat pula buah yang dihasilkan yaitu gizi buruk.
Demikian juga kaitan krisis ekonomi dengan masalah gizi. Semakin dalam
dan luas krisis ekonomi menjalar dalam suatu bangsa, semakin "kuatlah" masalah
gizi ada dalam bangsa tersebut. Saat krisis ekonomi merajalela dalam suatu
bangsa, maka yang terjadi adalah pengangguran yang tak terkendali. Pada bulan
Agustus 2009, Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia mencapai 7,84 persen
dan sekitar 27,76 persen atau 29,11 juta penduduk Indonesia bekerja sebagai
buruh (BPS, 2009).
Pengangguran mengakibatkan seseorang tidak mempunyai pekerjaan untuk
mendapatkan uang. Padahal seseorang perlu mendapatkan uang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ketika dalam masyarakat masih banyak
pengangguran dan pemerintah tidak sanggup memberikan pekerjaan bagi mereka,
para pengangguran tersebut dengan pendapatan yang tidak memadai besar
kemungkinan tidak akan memusingkan pikiran mereka dengan masalah gizi yang
harus mereka penuhi.
Bagaimana kalau ini terjadi dalam keluarga? Yang jelas keluarga tersebut
tidak akan mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya terutama kebutuhan gizi
ibu yang sedang hamil. Ketika kebutuhan gizi seorang ibu hamil tidak terpenuhi
maka itu akan mempengaruhi kesehatan ibu dan janinnya. Bayi yang akan
dilahirkannya kemugkinan besar akan terlahir dengan status BBLR (Berat Bayi
Lahir Rendah) yaitu berat bayi kurang dari 2500 gram. Nah saat bayi ini
terlahir dengan kondisi tersebut, keluarganya yang dengan pendidikan dan
ekonomi yang rendah, kemungkinan besar tidak mampu menaikkan status gizi
anaknya tersebut.
Gizi kurang pada saat masih bayi menyebabkan kerusakan-kerusakan sel
tubuh yang tidak dapat diperbaharui lagi ketika sudah dewasa terutama
pertumbuhan sel-sel otak yang mempengaruhi kecerdasan anak tersebut. Penelitian
membuktikan bahwa gizi kurang mengakibatkan IQ seorang anak akan berkurang
10-13 skor (Muray, 1994). Anak tersebut akan lahir sebagai salah satu generasi
yang hilang atau lost generation. Ia tidak akan mampu untuk bersaing dengan
yang lain. Diperparah lagi ketika keluarganya tidak mampu untuk membiayai
pendidikannya.
Kalau kita mau jujur mau jadi apa kelak anak tersebut selain jadi budak
atau kuli? Ini baru dalam satu keluarga ingat bahwa penduduk kita yang masih
hidup dibawah garis kemiskinan sekitar 34,96 juta atau sekitar 15,42 persen
(BPS Maret 2009). Pertanyaan selanjutnya mau jadi apa bangsa ini nanti? Apakah
bangsa ini hanya akan menghasilkan generasi yang bodoh, tidak mampu bersaing
dan hanya akan menjadi budak bagi bangsa lain?. Apakah kita harus berbangga
diri ketika kita sebanyak-banyaknya mengekspor TKI ke negara-negara tetangga
sebagai pembantu?
TKI, mereka sering disebut sebagai pahlawan devisa negara. Mungkin bagi
kita itu memang benar tetapi bagaimana mereka menanggapinya? Apakah mereka
secara tulus menerima gelar tersebut? Apakah siksaan yang dialami oleh sekian
banyak TKI kita mereka anggap sebagai resiko yang harus ditanggung sebagai
seorang pahlawan? Tidak, mereka hanyalah warga negara Indonesia yang tidak
diterima di negaranya sendiri. Tidak ada yang mau memberikan penghidupan bagi
mereka di sini, dinegaranya sendiri.
Mereka menyadari bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk bersaing.
Tentu saja hal ini dipengaruhi salah satunya oleh asupan gizi yang mereka
terima sejak masih berada dalam kandungan. Status gizi yang mereka terima
semenjak masa kandungan menentukan masa depan mereka saat ini. Jadi nyatalah
kiranya bahwa bangsa ini banyak menghasilkan generasi yang hilang (lost
generation). Generasi yang hanya akan menjadi budak bagi bangsa lain
Untuk itu kita harus segera berbenah diri. Pemerintah sudah selayaknya
segera memutar otak untuk memecahkan masalah ini. Jangan sampai bangsa ini
dihina dan dilecehkan karena kebodohan kita. Jangan sampai bangsa ini dicap
sebagai bangsa budak.***
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.