http://www.antaranews.com/berita/1276522394/pengamat-indonesia-kekuarangan-ahli-hukum-international

Pengamat: Indonesia Kekuarangan Ahli Hukum International
Senin, 14 Juni 2010 20:33 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal | 

Yogyakarta (ANTARA News) - Indonesia kekurangan ahli hukum internasional di 
berbagai bidang seperti kelautan, perdagangan, dan hak asasi manusia, sehingga 
sering dirugikan oleh negara maju, kata pengamat hukum dari Universitas 
Muhammadiyah Yogyakarta Yordan Gunawan.

"Sedikitnya jumlah ahli hukum internasional yang dimiliki Indonesia juga telah 
menjadikan kepentingan nasional sering dirugikan oleh pemikiran barat yang 
cenderung Eropasentris," katanya di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, kurangnya pemahaman dan ahli hukum internasional telah menyebabkan 
Indonesia menjadi korban penggunaan hukum internasional oleh negara maju.

"Oleh karena itu, permasalahan dan hukum internasional perlu ditinjau dari 
perspektif Indonesia," kata dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah 
Yogyakarta (UMY) itu.

Ia mengatakan, untuk menjaga keutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan 
diperlukan ahli hukum internasional bidang kelautan. Di era perdagangan bebas 
saat ini juga diperlukan ahli hukum perdagangan internasional.

"Di era globalisasi masyarakat perlu memahami pentingnya hukum internasional. 
Selama ini, hukum internasional tidak berpihak kepada negara-negara berkembang, 
termasuk Indonesia," katanya.

Menurut dia, pemahaman yang menyangkut masalah dan hukum internasional perlu 
disebarkan dengan bahasa yang sederhana sehingga semua elemen masyarakat dapat 
berkontribusi dalam penjagaan keutuhan Indonesia.

"Hukum internasional penting untuk dipelajari dan dipahami karena kajian itu 
memang melingkupi semua kebutuhan hidup masyarakat dunia," katanya.

Ia mengatakan, selama ini sebagian masyarakat berpendapat jika hukum 
internasional hanya dikaitkan dengan perang.

"Padahal, kajian itu memiliki cakupan yang cukup luas, seperti perlindungan 
lingkungan, kesehatan, pencegahan penyakit, hak asasi manusia, kelautan, 
pendidikan, dan perdagangan," katanya

Kirim email ke