Refleksi : Mengapa harus jauh-jauh belajar dari konflik di Afghanistan tanpa 
diselidiki konflik dan dipelajari  sekian banyak konflik SARA yang terjadi di 
dalam wilayah NKRI, misalnya Sitibondo, Jakarta Mei 1998, Maluku-Poso 1999-2003 
etc. Korban di Maluku saja lebih dari 10.000 jiwa, 500.000 pengungsi, belum 
lagi terhitung harta benda. Untuk menyegarkan ingatan tentang sponsor konflik 
Maluku-Poso, silahkan lihat video footage ini :   
http://www.youtube.com/watch?v=jlwaKAycFYY


http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59096:belajar-dari-konflik-kyrgyzstan&catid=77:tajuk-rencana&Itemid=131

      Belajar dari Konflik Kyrgyzstan 

           
      KERUSUHAN di Kyrgystan yang diperkirakan menewaskan sekitar 2.000 orang 
itu kembali mengingatkan kita bahwa ternyata konflik etnis masih merupakan 
bahaya laten dunia di era modern ini. Langkah antisipasi internasional perlu 
disusun untuk mencegah jatuhnya korban yang begitu besar. 
      Apa yang terjadi di Kyrgyzstan dalam pekan-pekan ini jelas dapat 
dikatagorikan sebagai pemusnahan etnis (ethnic cleansing). Etnis Kyrgyz yang 
mayoritas membantai suku Uzbeks yang minoritas. Pemusnahan etnis ini 
mengingatkan kita kembali pada tragedi-tragedi yang sama yang terjadi 
sebelumnya, seperti pembantaian di Kongo dan Bosnia.

      Sangat sulit untuk mempercayai bahwa di era modern seperti saat ini, di 
mana globalisasi telah membuat dunia menjadi desa yang kecil, lalu lintas 
manusia dan barang yang telah begitu menglobal sehingga batas antara satu 
negara dengan negara lain, termasuk keragaman manusianya, seakan tak tampak 
lagi. Individu di satu negara telah 'berbaur' dengan individu dari negara lain, 
apalagi dalam satu negara. Kebencian etnis rasanya sulit timbul di era yang 
serba global ini.

      Yang juga sulit untuk dipercaya ialah model hubungan antar individu dalam 
semua tragedi pembersihan etnis itu ternyata sama: mereka yang saling bunuh 
ini, walau berlainan etnis, sebenanya adalah 'sesama para tetangga', berasal 
dari komunitas yang sama. Lihatlah tragedi di Kongo, suku Hutu dan Tutsi 
sebenarnya telah hidup berdampingan selama ratusan tahun. Begitu juga etnis 
Serbia, Bosnia, Kroasia dalam tragedi Bosnia. Etnis Kyrgiz dan Uzbeks juga 
selama ini hidup berdampingan di Kyrgystan. 

      Pencetus pembersihan etnis ini juga sama: faktor politik. Di Kongo, 
pemilu menjadi pemicu konflik, di Bosnia pemicunya adalah pembubaran negara 
Yugoslavia dan konflik Kyrgyzstan ini dipicu larinya Presiden Kurmanbek Bakiyev 
 -- yang didukung etnis Uzbek -- setelah dikudeta kelompok yang didukung etnis 
Kyrgyz. 

      Dari sini bisa kita lihat bahwa pemusnahan etnis ini sama sekali bukan 
diakibatkan perbedaan etnis, agama atau budaya, tapi murni akibat tangan-tangan 
kotor para politikus yang mengeksploitasi perbedaan.

      Dengan masih begitu rawannya dunia terhadap ledakan konflik etnis yang 
biasanya memakan korban yang begitu besar, kerusuhan Kyrgyzstan ini telah 
memperingatkan kita bahwa dunia perlu 'perangkat khusus' untuk mengantisipasi 
kerusuhan.

      Mengapa setiap kali konflik etnis terjadi memakan begitu banyak korban ? 
Jawabnya cuma satu: lambatnya reaksi internasional !. Dalam konflik Bosnia, 
Kongo, tentara penjaga perdamaian internasional baru dikerahkan setelah aksi 
kerusuhan meluas. Dalam konflik Bosnia bahkan pasukan internasional baru 
dikerahkan setelah sekian tahun !. Dalam konflik Kyrgyzstan ini, belum ada 
tanda-tanda pasukan penjaga perdamaian akan dikerahkan.

      Penyebab utama dari lambatnya pengerahan pasukan internasional ini adalah 
birokrasi di Dewan Keamanan PBB yang begitu rumit. Perlu sekian banyak sidang 
yang memakan waktu sebelum pasukan penjaga perdamaian bisa dikerahkan.

      Padahal pasukan penjaga perdamaian internasional merupakan satu-satu 
pihak yang mampu untuk mencegah aksi pembersihan etnis. Mengharapkan pemerintah 
setempat ataupun negara-negara tetangga untuk menurunkan aparat keamanan sulit 
untuk diharapkan karena mereka umumnya terlibat langsung dalam konflik, paling 
tidak dalam ikatan emosional etnis.

      Karena itu, yang kita butuhkan untuk mencegahkan jatuhnya korban yang 
besar dalam konflik etis ini adalah militer dengan gugus tugas reaksi cepat -- 
rapid reaction force -- dari unit pasukan penjaga perdamaian dunia, yang 
langsung dapat dikerahkan begitu kerusuhan etnis terjadi, tanpa menunggu 
birokrasi yang berbelit. 
     

Kirim email ke