Menjalankan Perintah Juga Wajib Berpikir !!!
Adalah salah menganggap seseorang yang tunduk menjalankan perintah sebagai
orang yang setia, saleh, beriman dlsb. Demikianlah kebanyakan ulama Islam,
muslimin maupun didunia Kristen menganggap Ibrahim atau Abraham sebagai rasul
yang setia kepada Allahnya sehingga disayang dan ditunjuk sebagai utusannya.
Dizaman sekarang, tentara yang tunduk perintah atasannya meskipun gimana
setianya pun kepada negara ini, tetap dihukum mati karena tidak berpikir bahwa
sebagai tentara tidak boleh dia membunuh jendral2nya sendiri seperti pada kasus
G30S meskipun dianggap untuk membela kesetiaan kepada bapak presiden yang jadi
Tuhannya disini.
Tuhan ngetest Ibrahim dengan memerintahkan untuk membunuh anaknya dengan
memenggalnya pake golok. Ternyata Ibrahim tolol bukan setia, dia menuruti
perintah itu tanpa perasaan, tanpa pikiran, tanpa berpikir kritis bahwa anaknya
itu khan harus dibelanya bukan dibela oleh Allahnya. Boleh saja membela dan
setia kepada boss-nya Allah itu, tapi kalo disuruh membunuh anak sendiri itu
khan harusnya dia menentang sehingga Allah akan menilai bahwa Ibrahim ini baik
moralnya karena mau membela keluarganya meskipun untuk itu dia bisa dipecat
oleh Allahnya.
Kalo anaknya saja bersedia dikorbankannya, apalagi cuma allah nya itu. Enggak
mungkin malah Allah mengagumi si Ibrahim ini, malah pasti mengutuknya. Kalo
perintah Allah yang seperti itu saja mau dilakukannya apabila tidak dicegah
oleh Allah, maka berbahaya sekali orang ini bagi Allah, karena kalo ada setan
yang menyamar memalsu perintah Allah, habislah sudah.
Tidak berpikir itu bukan dinamakan setia, dan tidak bisa jadi teladan.
> "Tawangalun" <tawanga...@...> wrote:
> Pantas kalau kamu gak tahu ttg
> Ibrahim wong tahunya sajen.Ibrahim
> itu sudah hampir motong leher anakNya
> lalu oleh Allah diganti dg wedus
> Qibas.Makane umat Islam napak tilas
> peristiwa tsb. Kan itu pertanda
> Ibrahim sudah bisa meng-Ilahkan
> Allah.Kenapa kok Yahudi gak mengeti?
Yang sebenarnya enggak ngerti itu anda karena Islam tidak mengajarkan
pengertian tapi percaya buto.
Sajen dengan darah daging manusia atau binatang memang ciri dari agama2
keturunan Ibrahim, berbeda dari agama2 yang diturunkan Hindu, semua sajennya
hanya dari vegetable.
Kalo Islam dulunya menyediakan qurban dari membantai musuh2nya, dizaman
sekarang sudah dilarang oleh UN sehingga Qurban itu diganti menjadi sapi atau
kambing.
Memang, Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah untuk mengorbankan anaknya.
Sewaktu sang Anak hampir dipenggal kepalanya sebagai korban sembahan kepada
Allah, mendadak Allah menghentikannya, kalo menurut quran karena Allah cuma
menguji kesetiaan Ibrahim kepada allah.
Tetapi dizaman sekarang pandangan intelektual justru sebaliknya, kalo anda jadi
Allah-nya, maka anda maki2 si Ibrahim yang pandir, masa disuruh memotong kepala
anaknya dituruti, dimana otaknya ???
Kalo saya jadi Allah, saya pecat Ibrahim enggak bisa jadi nabi, karena setiap
perintah yang diterimanya tidak dipikirnya dengan akal sehat. Bayangin kalo
perintah itu palsu bukan dari Allah tapi dari setan, maka hilanglah nyawa
anaknya.
Demikianlah, tidak mungkin Allah mau menunjuk Ibrahim sebagai utusannya karena
berbahaya nantinya bisa mencatut nama Allah untuk perintah2 dari setan seperti
perintah AlQuran yang penuh terror ini.
Ny. Muslim binti Muskitawati.