Refleksi : Kalau namanya saja sudah Dewan Penipu Rakyat [DPR] maka tentu sekali 
tidak dipedulikan nasib rakyat.  Rakyat hanya dipakai sebagai sepuhan lidah 
yang tidak bertulang.


http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=97160


Dewan tidak lagi peduli nasib rakyat

      Tanggal :  25 Jun 2010 
      Sumber :  Harian Terbit 



SEBAGIAN besar partai politik yang ada di DPR RI sudah tidak peduli dengan 
rakyat atau konstituen mereka. Buktinya, mereka menyetujui pemerintah menaikkan 
Tarif Dasar Listrik (TDL), Bahan Bakar Gas (BBG), tol dan pajak kendaraan dalam 
waktu hampir bersamaan.

Hal itu dilontarkan aktivis Kompak, Fajroel Rachman menjawab Harian Terbit, 
Rabu (23/6) pagi menanggapi rencana pemerintah menaikkan TDL dan BBG bulan 
depan.

"Saya melihat baik pemerintah maupun sebagian besar kader parpol yang ada di 
DPR RI sudah tidak peduli dengan rakyat. Buktinya, mereka sekongkol untuk 
menaikkan kebutuhan rakyat ketika ekonomi sebagian besar anak bangsa masih 
terpuruk, apalagi kenaikan itu dalam waktu bersamaan," kata dia.

Menurut Fajroel, keputusan pemerintah menaikkan BBG, itu adalah salah. "Kita 
menjual gas ke Cina dengan harga sepertiga dari harga dalam negeri. Ini kan 
aneh. Harusnya yang terjadi adalah sebaliknya," kata dia. Fajroel juga meminta 
Presiden SBY untuk mengganti para pembantunya yang tidak mau berjuang untuk 
rakyat. 

Pemerintah nampaknya ingin bermain di air keruh. Ketika kasus Century tidak 
jelas kelanjutannya, ditimpa kasus Susno Duadji, lalu diterjang kasus video 
porno Artis Ariel-Luna Maya-Cut Tari yang menyita perhatian publik, tahu-tahu 
pemerintah bersama DPR sepakat menaikkan sejumlah kebutuhan vital orang banyak. 
Tidak saja TDL, dan gas, juga tarif SIM, tol, dan lainnya yang kesemuanya 
berdampak keras terhadap kenaikan harga sembako, sebagaimana mulai dikeluhkan 
kaum ibu di berbagai daerah.

Sungguh kita prihatin karena sikap bijak dan arif dari pejabat negeri ini 
ternyata sulit kita temukan. Kita tidak menagih janji saat kampanye pemilu tapi 
tetap saja rakyat yang menjadi tumpuan beban negara tanpa sempat menyuguhkan 
kemakmuran yang berkeadilan adalah hal yang patut kita sesalkan. 

Mungkin benar bahwa anggota dewan itu wakil partai politik, bukan wakil rakyat. 
Lebih betul lagi bahwa pihak eksekutif telah menjalin kerja sama yang baik 
dengan legislatif. Namun ada makna yang tidak pas pada pengertian itu. Kita 
butuh pencerahan, syukur bisa membuat kaum ibu tidak cemberut. *

Kirim email ke