Hidup artinya bisa mati. Mati artinya tidak bisa hidup lagi. Kalo ada yang mati kemudian bisa hidup lagi, berarti sebenarnya dia belum mati tapi dianggap mati padahal masih hidup.
Tapi ajaran agama mengatakan adanya "kehidupan setelah mati", jelasnya itu menyesatkan karena setelah mati tidak mungkin bisa ada kehidupan. Adalagi ulama yang bilang bahwa setelah mati itu adalah kehidupan roh bukan kehidupan Jasmani. Tetap saja pendapat ulama ini salah dan menyesatkan dengan tujuan umatnya tetap percaya sehingga tetap patuh kepada ulamanya dan ajaran agamanya. Kehidupan roh bukanlah kehidupan, karena yang dinamakan kehidupan adalah harus bisa berkembang, bisa tumbuh, dari kecil bisa besar, sudah besar jadi tua kemudian mati. Kehidupan roh tidak ada umurnya, tidak bisa dibedakan roh dewasa dan roh bayi atau roh anak2. Roh juga tidak dibedakan roh laki2 dan perempuan karena yang menentukan laki2 dan perempuan adalah jenis kelamin dan jenis kelamin hanya ada pada jasad yang pernah hidup. Roh itu tidak bisa beranak piak hingga punya cucu dan cicit. Kehidupan roh dalam semua ajaran agama hanyalah angan2 kepercayaan masing2 yang bertujuan agar mereka yang percaya akan setia kepada kelompok umat yang sama2 mempercayainya. Jadi sebaiknya jangan ngomong tanpa otak, semua harus dipikirkan, khususnya agama Islam yang melarang umat berpikir meskipun di ayatnya mereka mengatakan bahwa Islam agama orang yang berpikir. Padahal yang dimaksudkan berpikir disini adalah berpikir dalam arti beriman bukan mengolah otak seperti seorang scientist yang kritis. Ny. Muslim binti Muskitawati. --- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote: > > Rerfleksi : Bagaimana pendapat kaum pandai agama terhadap "hidup setelah > mati" ini? > > > http://www.harianterbit.com/artikel/info/artikel.php?aid=96309 > > Hidup Setelah Mati > > Tanggal : 12 Jun 2010 > Sumber : Harian Terbit > > > > JAKARTA-Dalam beberapa kasus, orang yang mati kedinginan pada suhu ekstrem > bisa hidup lagi. Seorang peneliti berhasil menjelaskan fenomena ini lewat > eksperimen yang dilakukan dengan ragi dan cacing tanah. > > Mati beku atau 'freezes to death' dipicu oleh suhu dingin yang terlalu > ekstem, yang sering terjadi di pegunungan atau daerah beriklim dingin. Meski > sangat jarang, seseorang yang mati beku bisa hidup kembali. > > Kasus pertama terjadi pada musim dingin 2001, menimpa Erika, seorang bayi 13 > bulan di Kanada. Gara-gara hanya mengenakan popok saat berkeliaran di luar > rumah, ia tewas dengan suhu tubuh anjlok hingga 16 derajat celcius. > > Saat ditemukan, jantung bayi itu diperkirakan telah berhenti berdenyut selama > 2 jam. Ajaibnya, jantung si bayi kembali berdenyut tak lama setelah > dihangatkan dan diberi napas buatan. > > Kasus berikutnya terjadi di Jepang pada tahun 2006. Seorang pria, Mitsutaka > Uchikoshi hilang di Gunung Rokko yang bersalju dan ditemukan 23 hari kemudian > dalam kondisi membeku dan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya metabolisme. > > Pria ini akhirnya hidup lagi setelah dibawa ke tempat yang lebih hangat, dan > diberi pertolongan. Bahkan kondisi kesehatannya dilaporkan pulih tak lama > kemudian. > > Didahului dengan kondisi anoksia (tidak memiliki oksigen) > > Ilmuwan dari Fred Hutchinson Cancer Research Center, Mark B. Roth, Ph.D. > berusaha menjelaskan fenomena ini lewat sebuah eksperimen. Roth menggunakan > ragi dan embrio cacing tanah (nematoda).Pada eksperimen pertama, ia menyimpan > ragi dan embrio tersebut pada suhu di atas titik beku. > > Dalam waktu 24 jam, 99 persen dari makhluk itu benar-benar mati dan tidak > bisa hidup lagi meski dihangatkan.Berikutnya, ragi dan embrio cacing > diletakkan dalam lingkungan kurang oksigen sebelum dibekukan dalam keadaan > anoksia (tidak memiliki oksigen). Pada percobaan ini, 66 persen ragi dan 97 > embrio cacing bisa hidup lagi setelah dihangatkan dan diberi cukup oksigen. > > Menurut Roth telah menyebabkan siklus sel berhenti sehingga kedua jenis > makhluk hidup tersebut menjadi mati suri. Didukung suhu dingin, maka secara > biologis siklus sel terjaga untuk tetap stabil selama mati suri sehingga > tidak benar-benar mati. > > "Ketika makhluk hidup mati suri dalam kondisi demikian, risiko terjadinya > kesalahan dalam proses biologis yang memicu kematian akan berkurang," ungkap > Roth.(tbt) >
