http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=141793
 
[ Sabtu, 26 Juni 2010 ] 


Infrastruktur Butuh Rp 1.429 Triliun 


JAKARTA - Pemerintah berusaha keras merealisasikan target investasi Rp 10 ribu 
triliun pada 2014. Salah satunya caranya, membangun infrastruktur jalan maupun 
energi. Untuk keperluan tersebut, pemerintah membutuhkan dana 
sekurang-kurangnya Rp 1.429 triliun. 

"Itu dipakai untuk proyek infrastruktur. Paling tidak, proyek-proyek energi dan 
berbagai pembangunan jalan yang terhambat harus dilanjutkan," ujar Deputi Menko 
Perekonomian Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Lucky Eko 
Wuryanto di kantornya kemarin (25/6). Menurut dia, dana Rp 1.429 triliun 
tersebut harus digelontorkan hingga lima tahun mendatang atau sekitar Rp 300 
triliun per tahun. 

Saat ini, pemerintah menggandeng investor swasta dalam merealisasikan berbagai 
proyek infrastruktur. Selain proyek di sektor energi, pemerintah juga fokus 
membangun proyek-proyek di sektor jalan, seperti pembangunan tol trans-Jawa 
maupun nontrans-Jawa. "Masih ada 24 ruas tol yang harus dievaluasi oleh 
Kementerian Pekerjaan Umum. Itu akan dikoordinasikan," ungkapnya. 

Lucky menuturkan, untuk merealisasikan rencana-rencana infrastruktur tersebut, 
pemerintah akan membenahi masalah pembebasan lahan. Salah satu caranya, membuat 
Undang-Undang Pengadaan Lahan untuk kepentingan publik. Dengan UU itu, hak 
tanah bisa dicabut, sepanjang digunakan untuk kepentingan umum. "Akhir tahun 
ini mudah-mudahan bisa selesai." 

Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang UMKM dan Koperasi Sandiaga S. Uno 
menjelaskan, pembangunan infrastruktur sangat penting untuk meningkatkan 
ekonomi daerah. "Khususnya, untuk mendukung kawan-kawan pengusaha di daerah 
agar lebih maju berkembang. Apalagi, untuk sektor usaha kecil dan menengah. 
Saya sangat berpihak pada pengembangan ekonomi di daerah," paparnya. 

Keberpihakan tersebut, kata Sandi, diaktualisasi dalam berbagai bentuk aksi 
agar berbagai hambatan investasi di daerah semakin berkurang, bahkan hilang 
sama sekali. "Contohnya, mendukung kemudahan pembiayaan (financing), 
meningkatkan kapasitas pengusaha di daerah, dan melakukan berbagai promosi 
bisnis di dalam maupun luar negeri," terangnya. 

Dia mengungkapkan, seiring dengan perkembangan otonomi, pertumbuhan ekonomi di 
daerah makin baik. Tidak mustahil akan banyak pengusaha muncul dari daerah.

Sandi menegaskan, Kadin mempunyai tantangan untuk mendorong terciptanya 
pengusaha-pengusaha baru serta memperkuat pengusaha kecil menengah yang sudah 
dan mulai tumbuh. Daerah harus menjadi kekuatan ekonomi nasional. Sebab, 
Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi mulai jenuh. "Potensi ekonomi di 
daerah sangat besar. Terutama, industri kreatif dan yang berbasis budaya," 
jelasnya. 

Kirim email ke