Argumentasi Yang Menang = Diterima Tak Bisa Dibantah
                                           
Pihak2 peserta diskusi dan debat secara ekstreem bisa disebut ada pihak yang 
menang dan ada pihak yang kalah.

Namun sebenarnya bukanlah masalah menang atau kalahnya.  Masalah utamanya 
adalah apakah bisa diterima orang banyak atau malah ditolak orang banyak.

Oleh karena itu, agar argument yang kita majukan bisa diterima orang banyak, 
maka haruslah argument itu menjawab topik yang dibahas dengan rasio atau 
alasan2 yang betul2 tepat dan tidak bisa dibantah.

Contoh argument valid yaitu argument yang tepat tidak bisa dibantah yang juga 
menjadi argument yang menang adalah argument dibawah ini:

Arab Palestina bukanlah orang Palestina karena mereka itu sebenarnya adalah 
orang Arab bukan orang Palestina.  Mereka sama seperti Cina Indonesia yang juga 
bukan orang Indonesia.  Oleh karena itu kita TIDAK harus bersikap double 
standard.  Kita harus bersikap kepada Arab Palestina sama dengan sikap kita 
terhadap Cina Indonesia.

Kenapa kita harus membela Arab Palestina sebagai saudara sebaliknya 
mendiskriminasi Cina Indonesia sebagai musuh dan penjajah ???

Kadang2 ada muslimin dan ulama yang menekankan sikap ukhuwah Islamiah yang 
menyebabkan perbedaan sikap yang double standard ini, ternyata banyak 
Cina-Islam juga bersaksi mereka merasa didiskriminasikan oleh pemerintah RI 
meskipun mereka sudah beragama Islam tetapi tetap masih Cina yang bawaan lahir 
enggak bisa dihilangkan.


> "rezameutia" <rezameu...@...> wrote:
> yang paling penting, kalian mengerti
> nggak dengan topik yang diomongin?
> seperti widura, ngomong tentang
> diskriminasi cina dalam penerimaan
> mahasiswa, orang kristen dibatasin
> masuk perguruan tinggi, dan segala
> macem omongan kontol lainnya.
> ketika ditanya buktinya, ya nggak ada.

Kalo masalah diskriminasi di Indonesia memang tidak ada barang bukti, karena 
urusan tindakan se-mena2 kedholiman tidak dengan barang bukti melainkan dengan 
kesaksian.

Kebetulan mereka keturunan Cina tentunya bersaksi tentang tindakan diskriminasi 
terhadap keturunan Cina, juga mereka yang bukan Islam bersaksi kedholiman Islam 
mendiskriminasi mereka yang bukan Islam.  Bahkan mereka yang sama2 Islam juga 
merasakan diskriminasi dan bersaksi tindakan diskriminasi karena mesjidnya 
dibakarin dan harta bendanya dijarah.

Jadi kalo masalah diskriminasi di Indonesia mulai dari keturunan, ras, agama, 
kesukuan, hingga kaya miskin juga jadi bahan diskriminasi.  Dan juga jangan 
kita lupakan diskriminasi terhadap keturunan mereka yang difitnah sebagai 
orang2 PKI oleh para muslimin yang tetap menuntut pembedaan.

Dalam hal ini tak bisa disangkal dengan menanyakan buktinya, disini bukan kita 
sebut bukti tapi saksi.  Dan saksi itu harus dari korbannya bukan dari mereka 
yang melakukan diskriminasi itu sendiri.

Masalah diskriminasi di Indonesia sudah mendunia, artinya sudah masuk dalam 
laporan HAM, dan laporan inilah menjadi barang bukti meskipun isinya semua 
merupakan kesaksian korban2.

Jadi yang anda maksudkan barang bukti itu seperti apa ???

Begitulah, berdebat atau berdiskusi memang tidak selalu harus dianggap menang 
atau kalah.  Kata lainnya sebenarnya yang lebih tepat adalah bahwa dalam 
diskusi kita mengadu argument, dan argument yang bisa diterima karena tidak 
bisa dibantah biasanya dianggap sebagai pihak yang menang.  Argument yang 
ditolak banyak orang karena bantahannya cuma meng-ada2 yang sama sekali tidak 
bisa membantah argument yang didiskusikan akan disebut pihak yang kalah.

Itulah sebabnya, semua tulisan2 saya selalu menciptakan fondasi argument yang 
kokoh yang tidak bisa dibantah, kalopun ada bantahannya yang cuma meng-ada2 tak 
perlu saya jawab karena para pembaca juga memahami bahwa bantahan itu salah.

Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan agama Islam, silahkan bantah dengan 
argumentasi yang bisa diterima orang banyak sehingga orang banyak bisa berpihak 
kepada anda.

Kenyataannya, didunia ini dimanapun, pihak negara2 Islam selalu kalah dalam 
mengadu argumentasi sehingga mereka menolak kekalahannya dengan cara2 teror 
agar se-olah2 kelihatannya menang dan se-olah2 semuanya menerima argument yang 
dipaksa ini padahal ditolak semua orang.  Cukup dengan berpikir basic yang 
sederhana saja kita sudah bisa menilai siapa yang salah dan siapa yang benar.  
Akibatnya, Palestina yang se-olah2 didukung seluruh dunia, kenyataannya 
semuanya enggak ada yang mendukung.  Cuma kata2nya saja se-olah2 mendukung 
padahal dukungan kata2 itu cuma basa basi agar jangan jadi sasaran teror.  Hal 
inilah yang seharusnya dipahami umat yang muslimin.

Adalah sia2 mencaci maki tulisan saya sementara para pembaca lain seluruhnya 
meng-angguk2an kepalanya menyetujui argumentasi tulisan2 saya.  Disinilah 
pentingnya memenangkan argumentasi sehingga pendapat kita bisa diterima semua 
orang bukan atas dasar ketakutan atau pemaksaan.

Saya kasih contoh yang sangat spektakuler, akibat tulisan2 saya yang 
menjelaskan kenapa saya berpihak kepada Israel dan Yahudi, maka jutaan rakyat 
di Indonesia dan ratusan pejabat2 dan politikus2 berubah pandangannya terhadap 
Israel yang selama ini sangat anti.  Hasilnya adalah Gus Dur yang mati2an mau 
membuka hubungan diplomatik dengan Israel gara2 beliau membaca argumentasi saya.

Saya bilang, Arab Palestina bukan orang Palestina, mereka sama dengan Cina 
Indonesia yang juga bukan orang Indonesia.

Lalu apa dasarnya kita harus bersimpati terhadap Arab Palestina sementara 
mendiskriminasi mengusir Cina Indonesia.

Ini argumentasi yang kokoh tidak bisa dibantah, bahwa politik RI yang cuma 
religious prejudice hanyalah merugikan negara kita sendiri.  Seharusnya kita 
memperlakukan Arab Palestina seperti apa yang kita lakukan terhadap Cina 
Indonesia.  Dalam hal ini apakah kita harus memberi kesempatan kepada Cina 
Indonesia untuk mendirikan negara nenek moyangnya yang disebut kerajaan 
Nusantara yang enggak pernah ada???  Demikianlah, Arab Palestina bukan orang 
Palestina sehingga tak perlu Israel memberi konsesi untuk mendirikan negara 
Palestina yang enggak pernah ada sejak alam semesta ini tercipta.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke