Refleksi :Apakah singkong adalah makanan hina bagi kaum berada termasuk para korutor serta petinggi NKRI?
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/makan-singkong-tidak-hina/ Jumat, 02 Juli 2010 14:04 Makan Singkong Tidak Hina Redaksi Yth Saat ini diberitakan belasan ribu warga di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, terancam kelaparan akibat gagal panen di musim kemarau ini. Akhirnya, mereka kini makan singkong sebagai makanan utama pengganti beras. Selama ini, penyelesaian bila terjadi kasus kerawanan pangan seperti ini yaitu memberi mereka bantuan berupa beras untuk rakyat miskin (raskin) yang dibagikan gratis ataupun dijual dengan harga murah. Menurut hemat saya, bantuan pangan seperti itu boleh-boleh saja, karena kalau memang sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan, ya tentu bantuan pangan itu akan sangat menolong dalam situasi darurat. Akan tetapi, ada baiknya hal itu tidak terlalu sering dilaksanakan atau dijadikan andalan untuk membantu masyarakat. Lebih baik masyarakat di sana diberi bantuan dalam bentuk modal usaha pertanian seperti ternak babi, sapi, kambing, dan kerbau yang ketika musim kemarau dapat dijual untuk membeli pangan. Selain itu, ada baiknya masyarakat di sana juga diperkenalkan konsep-konsep usaha ekonomi gotong royong seperti bank pangan, dan koperasi simpan pinjam. Tentu saja masyarakat di daerah terpencil itu membutuhkan pendampingan dan pengetahuan agar dapat menerapkan konsep-konsep tersebut. Juga, kaum perempuan dapatlah dibantu dengan berbagai peralatan untuk menenun, atau pun membuat kerajinan lainnya, dan dibantu dengan upaya pemasarannya. Tujuan dari itu semua adalah membangkitkan produktivitas masyarakat. Kembali ke soal makan singkong, sebenarnya makan singkong juga tidak masalah, ini bukan sesuatu yang hina, sama halnya seperti makan jagung atau sagu (yang sudah mulai ditinggalkan) karena kesemuanya adalah sumber karbohidrat. Hanya saja, yang perlu dikembangkan adalah kemampuan masyarakat untuk menyediakan protein sendiri seperti memelihara belut atau kelinci.
