Kalo ngirim bantuan ke-wilayah terlarang seperti Gaza itu sih kontrolnya betul2 sangat lemah.
Darimana kita tahu, sumbangan yang kita kasih itu betul2 diterima di Gaza bukan dihembat para pelaku pengumpulan sumbangan ini. Apalagi sekarang lagi musim2 korupsi merajalela, siapapun pasti memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri dari hasil keringat orang lain. Apalagi, dunia Islam mana ada diajarkan management dan accounting untuk melacak semua activity keuangan yang dijalankannya ??? Yang jelas, wilayah Gaza kita sama2 tahu, yaitu wilayah terlarang. Lalu ada sekumpulan volunteer yang membawa uang sumbangan masyarakat di Indonesia yang mengaku sudah mendapatkan izin untuk masuk membawa barang2 itu tentunya tidak ada yang bisa membuktikannya. Yang jelas, wilayah perang itu, izin masuknya enggak mungkin bisa melewati kedubes disini tetapi harus dilapangan izin langsung dari penjaga perbatasan itu sendiri setelah semua bawaannya diperiksa. Anehnya, barang2 juga tidak dibawa ke kedubes tapi katanya sudah dapat izin dari kedubes kairo di Jakarta. Maksudnya izin masuk ke Kairo aja kali bukan izin masuk ke Gaza, karena izin masuk ke Gaza itu dimonitor oleh dua negara yaitu Mesir dan Israel, enggak bisa gampang2 ngaku udah dapat izin kemudian barang sumbangan masyarakat disini langsung diangkut keluar, dijarah oleh para volunteernya sendiri dengan mengaku sudah dibagikan kepada penduduk di Gaza. Jumalah yang dibagikan itu mungkin cuma 5% aja, dan yang 95% di-bagi2 para pengurusnya. --- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote: > > Refleksi : Bagaimana cerita hasil yang dicapai oleh 75 ahli berbagai bidang > kesehatan yang dikirim oleh Indonesia ke Haiti? > > http://www.thejakartaglobe.com/home/indonesian-medical-volunteers-gain-permit-to-enter-gaza/385164 > > July 11,2010 > > Indonesian Medical Volunteers Gain Permit to Enter Gaza > > Bogor, West Java. Five volunteers of Indonesia's Medical Emergency Rescue > Committee (MER-C) have obtained a permit from the Egyptian government to > enter the Gaza Strip through the Rafah border gate, the organization's > presidium chief said. > > "God willing, the volunteers will leave for Cairo at midnight on Monday and > later proceed on their journey to the Gaza Strip," Dr Sarbini Abdul Murad > said on Sunday morning. > > He thanked Indonesian Ambassador to Egypt Abdurrahman Mohammad Fachir for his > help in obtaining the permit. > > "I think [the permit] is the fruit of the maximum struggle of the Indonesian > ambassador in Cairo who managed to lobby the Egyptian authorities," he said. > > He said the five volunteers are Dr Joserizal Jurnalis, Ir Faried Thalib, Dr > Arief Rachman, Nur Ikhwan Abadi and Abdillah Onim. > > Arief, Nur and Abdillah took part in the "Flotilla to Gaza" mission aboard > the Turkish aid ship Mavi Marmara. > > The Mavi Marmara, one of six ships, was attempting to ferry relief supplies > to the Gaza Strip when it was attacked by the Israeli navy in international > waters on May 31. > > At least nine activists were killed while a number of others, including > Indonesians, sustained gunshot wounds in the attack. > > The bloody incident has since sparked rallies in many parts of the world. > > In Europe, thousands of people staged rallies to protest against the Israeli > brutal attack on the convoy of six ships carrying more than 10,000 tons of > relief and developmental aid to Gaza, along with roughly 700 participants > from more than 30 countries. > > However, the rallies failed to press Israel to open its sea blockade as the > Israeli troops again detained MV Rachel Corrie which sailed in the waters on > the same mission. > > Sarbini Abdul Murad said the five MER-C volunteers would be assigned to > follow up on the plan to build an Indonesian hospital in Gaza. > > He said the hospital, to be built on 1.4 hectares of land in Bayt Lahiya, > North Gaza, would serve as a trauma and rehabilitation center. > > > Antara >
