Game Is Over - Abbas Men-sia2kan Kesempatan Emas !!!
Pihak kalah biasanya hancur lebur dan pihak menang tak akan bermurah hati
menuntut kepada pihak yang kalah untuk mengganti segala kerugian perang.
Begitulah rumusan perang yang tidak bisa dihindari sejak kapanpun adanya.
Namun sejak adanya UN, maka pihak yang kalah biasanya diberi kesempatan untuk
menguraikan keberatan2nya, dan meminta keringanan2 yang kiranya tidak merugikan
pihak yang menang.
Kita kembali mengenang perang Amerika-Jepang, jelas sewaktu Jepang kalah
berperang, mereka langsung menyerah tanpa syarat dan tidak ada ditanyakan oleh
kaisar Hirohito bagaimana nantinya nasib kota Tokyo, minta penjelasan dulu
batas2 negara Jepang yang akan diakui Amerika sebelum menyerah..... itu
semuanya tidak ada.
Israel telah berhasil mengalahkan penyerangnya yaitu Abbas, kemudian mengambil
alih wilayah yang telah diberikannya yaitu Westbank dan Gaza untuk siap
didudukinya kembali setiap saat. Di Jerusalem Timur dilakukan peluasan
pemukiman Yahudi oleh Israel karena memang wilayah tsb tidak pernah dalam
pertimbangan untuk diberikan kepihak Palestina dari dulupun.
Serangan2 teror oleh Abbas dan Hamas kepada Israel berhasil digagalkan, baik
digagalkan dengan tembok beton, dengan blokade ekonomi, dan juga dengan
serangan pasukan2 darat dan udaranya.
Kekalahan drastis Abbas masih ditolong oleh Amerika dan juga UN, Abas minta
agar Israel mau berunding meskipun sebelumnya telah menolak untuk berunding.
Menang berperang cuma disibukkan bagaimana seharusnya memberi hukuman kepada
mereka yang kalah bukan memikirkan apa yang akan diminta oleh mereka yang kalah.
Abas meminta bantuan Amerika agar Israel bisa dipaksa untuk berunding, dan
setelah Amerika berhasil menekan kesediaan Israel untuk berunding, malah Abas
menambah lagi pesyaratan berunding yang antara lain meminta kepastian nasib
Jerusalem Timur dimasa depan harus diberikan kepada Palestina.
Sudah ditolong Amerika, malah Abas sekarang menuduh Amerika cuma memaksakan
perundingan tanpa memberi kepastian batas2 negaranya dimasa depan.
Kali ini Amerika tak perlu menjawabnya, dan Israel tak perlu juga untuk
berunding.
Waktu itu cuma berharga bagi Palestina dan Abas bukan bagi Israel ataupun bagi
Amerika. Abas sebagai pihak yang kalah sudah tidak punya pilihan, mau
berunding atau menolak berunding tidak menjadikan hal2 yang memberatkan bagi
Israel apalagi bagi Amerika.
Sebagai pihak yang menang, Israel tidak perlu mendengarkan laporan pihak yang
kalah, tapi cukup mendiktekan apa yang harus dilakukan pihak yang kalah.
Gaza berhasil diblokade secara militer, ekonomi, politik dan sekelilingnya
di-isolasi dengan pagar beton. Westbank berhasil dikuasai secara militer.
Kamp2 pengungsi di Yordania dan Libanon berhasil di awasi ketat dan para
pengungsi dilarang bekerja diluar kamp pengungsian, mereka se-olah2
dipenjarakan dalam kamp2 yang kumuh yang kekuarangan makanan, air bersih, dan
barang2 kebutuhan hidup lainnya.
Adakah perubahan bagi kondisi ini ??? ya, ada, yaitu kondisi yang lebih buruk
dari sekarang. Mereka berhasil diisolasi dari dunia luar.
Abas menyalah artikan kata "berunding" langsung dengan Israel sebagai "konsesi"
yang harus diberikan kepada Palestina oleh Israel.
Padahal berunding bagi yang kalah adalah kesempatan untuk meringankan hukuman
dengan jaminan janji akan memberikan keamanan bagi yang menang apabila
keringanan hukuman diberikan.
Jadi disini lucu, Abas tidak memahami artinya berunding. Dia tidak memahami
bahwa dia adalah pihak yang kalah.
Sebagai pihak yang menang, Israel wajar menolak berunding, yang ada hanyalah
menghukum yang kalah bukan berunding dengan yang kalah.
Tapi Amerika berhasil menyampaikan keinginan Abas sebagai pihak yang kalah agar
diberi keringanan2, dan Israel dalam hal ini akhirnya bisa dipaksa Amerika
untuk mau berunding dengan Abas.
Sebaliknya, Abas yang sudah diberi kesempatan untuk berunding dengan Israel
malah minta Amerika mendiktekan persyaratan2 kepada Israel agar Abas mau
berunding.
Yaaa.... memang Israel tidak punya kepentingan untuk berunding cukup
menjatuhkan hukuman kepada pihak yang kalah agar jangan terulang lagi ancaman2
yang sama terjadi terhadap negara Israel.
Ny. Muslim binti Muskitawati.