Refleksi: Astafirullah, ada saja bencana. Menjelang hari raya agama, kelaparan berada di ambang pintu rakyat NTT.
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=258631 PASOKAN BELUM STABIL Rawan Pangan Mengancam Separuh Penduduk NTT Kamis, 29 Juli 2010 KUPANG (Suara Karya): Rawan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sudah semakin serius. Sedikitnya 1. 236.479 warga NTT yang tersebar di 1.481 desa/kelurahan dari 2.836 desa/kelurahan di daerah itu terancam rawan pangan serius. Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan pada Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) NTT, Alexander Sena, yang dihubungi di kantornya, Rabu (28/7), menjelaskan, pada April lalu rawan pangan hanya mengancam 206 desa di 7 dari 21 kabupaten di Provinsi NTT. Namun, pada bulan ini ancaman rawan pangan makin meluas ke 1.481 desa/kelurahan yang tersebar di 201 kecamatan di NTT. Menurut Sena, dari jumlah desa/kelurahan yang terancam rawan pangan itu, 400 desa/kelurahan dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 74.774 (356.007 jiwa) mengalami rawan pangan dengan risiko rendah, risiko sedang 335 desa/kelurahan dengan 64.658 KK (332. 104 jiwa), dan risiko tinggi sebanyak 746 desa/kelurahan dengan jumlah 189. 058 KK (548.368 jiwa). Sena menuturkan, desa yang berisiko rawan pangan tinggi atau kategori merah berdasarkan kesimpulan analisis tim dari BKPP perlu mendapat perhatian serius berupa penanggulangan cepat dan tepat. Dikatakannya, langkah-langkah yang telah diambil pemerintah pada April lalu ketika muncul ancaman rawan pangan, yakni pemberian bantuan beras yang bersumber dari dana intervensi rawan pangan APBD NTT sebesar Rp 1.050. 000.000 atau ekuivalen 175 ton beras dengan asumsi harga Rp 6.000/kg. Beras itu diprioritaskan di desa-desa dengan rawan pangan berisiko tinggi. Sena menguraikan, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota di NTT harus bisa mengupayakan bantuan pangan dari pemerintah pusat. Pasalnya, saat ini cadangan pangan pada posisi Juli 2010 yang menjadi kewenangan gubernur sebanyak 400 ton dan kewenangan bupati/wali kota masing-masing sebanyak 100 ton. Jumlah beras itu, menurutnya, belum termasuk beras untuk rumah tangga miskin (raskin) sebanyak 94. 000 ton bagi 553.770 rumah tangga miskin (RTM) di NTT. Beras itu diperkirakan bisa untuk melayani tindakan tanggap darurat. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTT Edy Ismail yang ditemui terpisah di kantornya mengakui, kenaikan harga barang di NTT saat ini bersifat sementara. Pasalnya, pasokan barang dari sentra produksi-seperti Sulawesi, Jawa Timur, dan NTB-tidak lancar akibat cuaca buruk. Edy juga mengaku, bersama tim turun langsung memantau perkembangan kenaikan harga barang di sejumlah pasar di Kota Kupang. "Kita sudah turun memantau langsung perkembangan kenaikan harga barang-barang di semua pasar tradisional dalam Kota Kupang. Kesimpulan sementara, kenaikan harga barang itu dipicu oleh pasokan barang dari sentra produksi yang belum stabil akibat cuaca buruk," katanya. (Bonne Pukan)
