http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Opini

      Masalah Pengangguran dan Kemiskinan
      Oleh Ragiman 


      Selasa, 3 Agustus 2010

      Pengangguran dan kemiskinan merupakan momok di banyak negara, termasuk 
negara maju seperti Amerika Serikat (AS) sekalipun. Ternyata tercatat 15 juta 
tenaga kerja atau sekitar 8 persen lebih menganggur. Apalagi, di negara-negara 
berkembang seperti Indonesia.

      Pemerintah sendiri selama ini selalu memfokuskan program pembangunannya 
pada penanganan kedua masalah ini. Hasilnya memang belum sepenuhnya memuaskan 
berbagai pihak meski indikator-indikator sosial yang ada telah menunjukkan 
perbaikan dalam pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan. 

      Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk Indonesia pada 
Juni 2010 sebesar 234,2 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,33 persen per 
tahun. Dari jumlah itu, jumlah angkatan kerja kini mencapai 116 juta orang. 
Sebanyak 107,41 juta orang adalah penduduk yang bekerja. Sedangkan jumlah 
penganggur sebanyak 8,59 juta orang atau penganggur terbuka sebesar 7,41 
persen. Memang itu mengalami penurunan apabila dibanding 2009 yang sebesar 8,14 
persen. Penduduk miskin tahun 2010 berjumlah 31,02 juta orang atau sebesar 
13,33 persen, mengalami penurunan 1,51 juta jiwa dibandingkan dengan tahun 2009 
(sebanyak 32,53 juta) atau 14,15 persen. 

      Banyak kalangan menginginkan percepatan dan keseriusan penanganan masalah 
pengangguran dan kemiskinan ini. Sebab, pada hakikatnya, hasil-hasil 
pembangunan diperuntukkan bagi manusia itu sendiri, termasuk rakyat miskin dan 
para penganggur. Tidak ada seorang pun menginginkan menjadi miskin atau 
menganggur. Logikanya, apabila kemiskinan dan pengangguran akan dikurangi 
dengan drastis, tentu anggaran untuk itu pun mesti ditambah-hubungan yang 
berbanding terbalik. 

      Oleh karena itu, jika perlu, pemerintah dapat memplot anggaran pendapatan 
dan belanja negara (APBN) khusus untuk pengentasan kemiskinan dan pengangguran, 
sebagaimana pemerintah memplot 20 persen APBN-nya untuk sektor pendidikan. Di 
sisi lain, pemerintah dapat juga meningkatkan stimulus fiskalnya khusus untuk 
mengurangi atau mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. 

      Memang, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014, 
tersurat pemerintah akan terus melanjutkan tiga strategi pembangunan ekonomi, 
yaitu pro growth, pro job dan pro poor. Termasuk di dalamnya mewujudkan 
pertumbuhan disertai pemerataan (growth with equity). Ketiga strategi itu 
diharapkan sebagai pendorong percepatan laju pertumbuhan ekonomi yang dapat 
memberikan lebih banyak kesempatan kerja. Dengan demikian, makin banyak 
keluarga Indonesia dapat menikmati hasil-hasil pembangunan dan dapat keluar 
dari kemiskinan. 

      Prioritas pembangunan nasional yang dijabarkan dalam RPJM 2010-2014 
terdapat 11 butir, antara lain penanggulangan kemiskinan serta peningkatan 
kesejahteraan rakyat. Yang disebut terakhir menuntut tidak hanya pertumbuhan 
ekonomi tinggi, namun juga pertumbuhan ekonomi berkualitas (inklusif) dan 
berkeadilan. Tantangan utama pembangunan ke depan tentu menciptakan pertumbuhan 
ekonomi yang berkeadilan, yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mengurangi 
kemiskinan. 

      Bagaimanapun, pembangunan ekonomi yang pro growth, pro job, dan pro poor 
perlu terus dilaksanakan. Cara yang ditempuh adalah dengan memperluas cakupan 
program pembangunan berbasis masyarakat, serta meningkatkan akses masyarakat 
miskin terhadap pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan 
juga lembaga keuangan. Komitmen ini hendaknya tidak sebatas rencana dan wacana, 
namun benar-benar harus dapat direalisasikan dan diimplementasikan. 

      Sebenarnya, kondisi perekonomian dunia yang terus membaik sebagai akibat 
krisis finansial global mempunyai pengaruh terhadap kinerja perekonomian 
domestik. Ini terindikasi dari meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi. Dengan 
dukungan kebijakan pemerintah yang ekspansif, peningkatan laju pertumbuhan 
ekonomi seharusnya dapat memperluas terciptanya lapangan kerja baru. 

      Sejak 2005, rata-rata setiap satu persen pertumbuhan ekonomi dapat 
menyerap tenaga kerja baru sekitar 400.000 orang. Penyerapan tenaga kerja ini 
diperkirakan makin meningkat sejalan dengan program dan kebijakan pemerintah 
dalam meningkatkan investasi melalui perbaikan infrastruktur dan berbagai 
kebijakan lainnya. 

      Implementasi program-program ini terus dilakukan untuk memberikan akses 
yang lebih luas kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, agar dapat 
menikmati hasil-hasil pembangunan. Dilanjutkannya berbagai langkah antara lain 
melalui pemberian subsidi, bantuan sosial, program keluarga harapan (PKH), PNPM 
Mandiri, dan dana penjaminan kredit/pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, 
menengah (UMKM) dan koperasi melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Program 
ini, apabila dilaksanakan dengan benar dan tepat sasaran, dapat membantu 
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak atau belum mampu dipenuhi dari 
kemampuan mereka sendiri. 

      Jika target pertumbuhan ekonomi berkisar 5,3 persen tahun 2010, 
diperkirakan pertumbuhan lapangan kerja baru akan tercapai lebih dari 2 persen. 
Sementara itu, jumlah penduduk yang masuk angkatan kerja setiap tahun 
diperkirakan juga meningkat rata-rata sebesar 1,76 persen. Tentu saja 
peningkatan lapangan kerja baru yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan 
angkatan kerja akan berdampak pada makin menurunnya tingkat pengangguran. 

      Selama ini tingkat pengangguran menurun karena didukung makin tingginya 
angkatan kerja yang bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia 
(TKI). Pada awal tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka diperkirakan berada 
pada kisaran 7,41 persen. 

      Demikian pula tingkat kemiskinan tahun 2010, diharapkan terus mengalami 
penurunan. Tercatat jumlah penduduk miskin awal 2010 sebesar 31,02 juta orang 
atau sebesar 13,33 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Di antaranya di 
daerah pedesaan, penduduk miskin berkurang 0,69 juta orang, dari 20,62 juta 
menjadi 19,93 juta. Sedangkan di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta orang 
dari 11,91 juta menjadi 11,10 juta orang. 

      Berbagai program dan upaya harus terus dilaksanakan pemerintah, seperti 
perluasan kesempatan kerja, pemberian subsidi, bantuan sosial dan lain-lain. 
Ini penting untuk menurunkan tingkat kemiskinan tahun 2010 yang berada pada 
kisaran 12-13,5 persen. Begitu juga untuk menciptakan pembangunan ekonomi 
berkualitas dan berkeadilan, berbagai langkah perlu dilakukan untuk menciptakan 
lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. Tentu untuk merealisasikannya 
diperlukan penyempurnaan peraturan mengenai ketenagakerjaan, pelaksanaan 
negosiasi tripartit, serta penyusunan standar kompetensi, penempatan, 
perlindungan, dan pembiayaan tenaga kerja ke luar negeri. *** 

      Penulis adalah peneliti Pusat Kebijakan Ekonomi Makro
      Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu  

--------------------------------------------------------------------------
     

Kirim email ke