http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/08/13/brk,20100813-271063,id.html
Budi Susilo: Komponen Cadangan Tak Dilatih Bambu Runcing Jum'at, 13 Agustus 2010 | 16:37 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta - Kementerian Pertahanan berharap Rancangan Undang-Undang (RUU) komponen cadangan dapat segera disahkan. Kementerian Pertahanan juga berpendapat pembentukan komponen cadangan merupakan strategi yang tepat untuk memperkuat pertahanan negara, dan sifatnya berbeda dengan wajib militer. Sebelumnya, Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sempat menyampaikan, pengesahan RUU komponen cadangan ditargetkan paling lama akhir tahun ini. Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Budi Susilo Soepanji menyambut baik hal tersebut. "Kami memang berharap RUU segera disahkan," katanya ketika ditemui Tempo di kantornya, Jumat (13/8). Budi menambahkan, "Tapi bukan berarti kalau tahun ini RUU disahkan, tahun depan langsung dibentuk komponen cadangan." Menurutnya, yang harus disiapkan lebih dulu selama dua-tiga tahun setelah pengesahan RUU adalah regulasi. Lebih lanjut, Budi mengemukakan, komponen cadangan merupakan nir-militer yang terdiri atas macam-macam komponen. Hal ini dimaksudkan untuk menghadapi ancaman militer yang makin lama makin kompleks. Budi menjelaskan, nantinya di dalam komponen cadangan akan terdapat ahli teknologi informasi, kimia, kedokteran, sipil, mesin, aeronautika, dan lain-lain. Selama 30 hari, mereka akan dilatih strategi militer berdasarkan keahlian masing-masing. "Jadi jangan dikira komponen cadangan itu dilatih bambu runcing," ujarnya. Adapun warga negara sipil yang dipilih menjadi komponen cadangan adalah yang memenuhi kriteria tertentu. "Salah satu yang wajib adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS)," ujar Budi. Budi menegaskan, komponen cadangan tidak bersifat wajib seperti wajib militer. "Kalau yang memenuhi kriteria, namun merasa komponen cadangan dapat merusak kepercayaan dan keyakinannya, dipersilahkan menulis surat," ujarnya lagi. Terkait anggaran, Budi mengatakan, kalau hanya untuk workshop, biayanya tidak terlalu besar. Ia mengakui, saat ini prioritas anggaran Kementerian Pertahanan adalah untuk kesejahteraan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pembangunan alutsista. ADISTI DINI INDRESWARI
