http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010081907141416
Kamis, 19 Agustus 2010
BURAS
Puasa, Pencoleng Merampok Rakyat!
IBU kembali dari pasar tanpa bawa belanjaan, "Pusing melihat orang ramai
sekali di pasar!"
"Bulan puasa orang ramai ke pasar cari yang lebih lengkap!" timpal pria
di angkot. "Harga pun naik!"
"Logikanya mayoritas orang berpuasa, konsumsi turun!" timpal ibu. "Tapi
yang terjadi sebaliknya! Ragam kebutuhan dan konsumsinya justru naik!"
"Anehnya, kata ustaz, saat Ramadan semua setan dibelenggu! Orang hanya
diuji kendali nafsunya!" timpal pria. "Peningkatan konsumsi saat Ramadan
menunjukkan orang lebih tak kuasa mengatasi nafsu sendiri, lebih buruk dari
saat setan bebas!"
"Jauh lebih aneh, perilaku masif tak terkendali yang
konvensional-berulang setiap Ramadan-mendorong kenaikan harga barang itu, tak
pernah bisa diatasi pemerintah, baik lewat mekanisme pasar, hukum, maupun cara
lain!" tegas ibu. "Pihak yang berwenang mengendalikan harga malah lepas tangan,
menyatakan kenaikan harga saat Ramadan wajar! Tak peduli negara wajib
melindungi seluruh warganya, tanpa kecuali dari perampokan atas nilai riil
pendapatan rakyat oleh kenaikan harga barang yang laten menjadi inflasi tinggi!
Terlalu naif penguasa menyatakan perampokan terus-terusan nilai pendapatan
rakyatnya yang justru membuktikan kegagalan dirinya melindungi rakyat itu, dia
sebut wajar!"
"Berarti dia anggap wajar pula dirinya gagal menjalankan fungsi
melindungi rakyat!" timpal pria. "Padahal dua abad lalu Adam Smith telah
menghadirkan invisible hands-tangan tak terlihat-dalam mekanisme pasar, salah
satunya intervensi pemerintah! Jadi, sebelum Ramadan pemerintah seharusnya
lebih dulu siap dengan penawaran (persediaan) yang tinggi sebelum permintaan
bergerak naik, agar naik setinggi apa pun permintaan selalu di bawah penawaran!"
"Lalu, jika stok penawaran itu dikuasai pencoleng yang menimbun barang
agar harga naik dan dia dapat untung besar, ada hukum (UU) yang bisa menjerat
penjahat itu dengan hukuman berat-subversi ekonomi!" tegas ibu. "Tapi semua
'turf card' pemerintah itu tak dimainkan! Tak peduli perampokan nilai
pendapatan rakyat berlanjut-dilakukan oleh pencoleng penimbun barang!"
"Lebih parah lagi, sudahlah pemerintah tak efektif menjalankan fungsinya
mengendalikan harga, kebijakan pemerintah justru memicu kenaikan harga lebih
signifikan!" tukas pria. "Contohnya kebijakan daging sapi yang kacau! (Kompas,
[14-8]) Harga daging sapi naik sampai di atas 50 persen! Jadi, boro-boro
menstabilkan harga, kebijakan pemerintah sendiri malah menyulut kenaikan harga
jadi lebih spektakuler!"
H. Bambang Eka Wijaya