Refleksi: Mengingat kasus korupsi Soeharto yang diumumkan oleh  organ PBB 
bernama Stolen Assets Recovery (StAR) tidak diambil pusing oleh SBY dan rezim, 
maka pertanyaannya apakah Akademi Anti korupsi PBB  ini ada gunanya bagi NKRI?  

Bisa-bisa kader-kader yang dikirim oleh NKRI  ke akademi PBB untuk belajar 
memberantas korupsi tidak menghasilkan petugas yang berwibawa, mereka  setelah 
kembali dari tugas belajar menambah lebih banyak problem lagi, karena cara-cara 
untuk menangkap korutor dijual kepada koruptor untuk mengabaikan ditangkap. 
Lihat saja begitu banyak petinggi  NKRI yang melakukan ibadah haji di tanah 
suci, bukannya  mereka menjadi  bertambah baik menjadi orang-orang suci yang 
tinggi moral malah menjadi koruptor dan penindas rakyat.

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/09/04/133599-pbb-dirikan-akademi-anti-korupsi

PBB Dirikan Akademi Anti Korupsi
Sabtu, 04 September 2010, 23:35 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, WINA--Sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki 
Moon meresmikan apa yang disebut sekolah tinggi pertama di dunia untuk 
pemberantasan korupsi. Sekolah itu didirikan di dekat ibukota Austria, Wina dan 
akan menawarkan pendidikan, pelatihan dan penelitian.
 
Ia mengatakan korupsi menghalangi pembangunan, memanipulasi hasil pemilu dan 
membahayakan keamanan. Badan dunia itu juga menambahkan, orang-orang miskin 
yang paling menderita karena dampaknya. Dengan dukungan kantor PBB yang 
menangani narkotika dan kejahatan, pemerintah Austria dan badan anti penipuan, 
International Anti-Corruption Academy atau akademi anti korupsi internasional 
memiliki tugas untuk mengentaskan korupsi melalui pendidikan, pelatihan dan 
penelitian akademi.

Mahasiswa lulusan sekolah tinggi ini akan menjadi hakim, penyelidik dan polisi 
di seluruh dunia. Dengan mereka akan bekerjasama tokoh di dunia keuangan, 
bisnis serta politik dan bekerjasama mempelajari penyebab dan penanganan 
kejahatan yang terorganisir dan penipuan. Martin Kreutner menjadi ketua komite 
yang menjalankan institusi baru tersebut. Ia berharap dapat menciptakan 
generasi baru pakar pembasmian korupsi.

Menurut Kreutner, akademi itu tentu tidak akan menghasilkan orang-orang super. 
"Lulusannya lebih akan menjadi penghubung dan pengisi kekosongan, yang kadang 
timbul antara mereka yang terlibat langsung dalam praktik dan ilmuwan yang 
meneliti masalah," ujarnya. 

Bank Dunia memperkirakan, korupsi merugikan ekonomi dunia sampai dua ribu 
milyar per tahunnya. Dana yang diperlukan untuk menjalankan akademi anti 
korupsi itu, jika dibandingkan, ibaratnya hanya seperti setetes air di lautan. 
Tetapi akademi ini mendapat dukungan politik dari berbagai negara penting. 
Misalnya pemerintah di Washinton mengatakan, menyambut baik cara baru untuk 
memerangi korupsi tersebut. Wolfgang Hetzer yang mengepalai badan anti penipuan 
dalam Uni Eropa mengatakan, ini bukan hanya masalah uang, penyogokan dan 
pembayaran kembali.

Menurutnya, korupsi memiliki dampak korosif pada masyarakat. "Orang tidak 
percaya lagi bahwa ada persamaan di dunia ini, bahwa hukum berlaku bagi semua 
orang. Orang beranggapan, tidak ada lagi pengontrolan yang efisien atas 
kekuasaan, juga tidak ada gunanya pergi memberikan suara dalam pemilu karena 
ada cara lain untuk mencapai posisi tertentu dan tetap dalam posisi itu," 
Hetzer menambahkan, 

Akademi itu menyatakan akan mengadakan pemberantasan korupsi secara menyeluruh. 
Itu berarti, lulusannya akan mengkombinasikan teori dan praktik. Mereka akan 
dapat mengenali praktek-praktek korupsi, baik oleh orang yang menggunakan kedok 
maupun yang mengenakan jas dan dasi mahal.

35 negara telah menandatangani dokumen yang mendasari pendirian akademi 
tersebut. Di antaranya sejumlah negara, di mana korupsi tidak tercatat atau 
diselidiki. Seminar dan kursus-kursus mulai hampir bersamaan dengan seluruh 
program akademis yang diawali tahun depan.

Red: Siwi Tri Puji B



Kirim email ke