Rintihan Seorang Mayor TNI AL di Indonesia Timur

Tribunnews.com - Minggu, 5 September 2010 01:54 WIB

Share



 


         
        +
        –




123istTambang Emas di Timika Papua yang memiliki cadangan emas terbesar di 
dunia.istPembabatan hutan di Kalimantan terus berlangsungistIlustrasi
 perdagangan senjata ilegal di samudera Pasifik sangat marak
#yiv1345723542 .yiv1345723542side_box_news {
background-color:#eff1f9;padding-left:10px;float:right;}
#yiv1345723542 



Yang membuatnya sedih adalah kasus "perampokan" paling akbar oleh 
Amerika di bumi Papua Indonesia, pembalakan liar hutan hutan di 
Kalimantan dan Papua yang di-majikan-i orang Malaysia. Serta kasus 
penyelundupan besar-besaran dengan 'kongkalikong' antara pelaku dengan 
instansi yang berwenang. Serta perdagangan senjata di perbatasan 
Filipina, Malaysia dan Australia yang tentu saja ada "becking"nya orang 
besar di Indonesia.




TRIBUNNEWS.COM- Melihat
hubungan Indonesia dengan Malaysia yang memanas tidak begitu membuatnya
risau karena yakin akan bisa diselesaikan dengan bijaksana. 

Kalaupun harus berperang maka TNI yakin menang dan sudah siap siaga karena 
dunia tahu kekuatan tentara Indonesia adalah terbaik ke-13 di dunia.
Dan dunia mengakui bahwa Indonesia adalah negara cinta damai dan
pemimpin ASEAN yang memayungi. Sehingga bisa dipastikan "tidak akan
terjadi" perang.

Banyaknya aksi perampokan di darat serta berbagai isu terorisme tidak 
membuatnya sedih si Mayor TNI AL ini karena yakin hal-hal begitu bisa 
diselesaikan dengan baik dan tidak makan waktu lama.

Yang membuatnya sedih adalah kasus "perampokan" paling akbar oleh Amerika di 
bumi Papua Indonesia, pembalakan liar hutan hutan di Kalimantan dan Papua yang 
di-majikan-i orang Malaysia. Serta kasus penyelundupan besar-besaran dengan 
'kongkalikong' antara pelaku dengan instansi yang berwenang. Serta perdagangan 
senjata di perbatasan Filipina, Malaysia dan Australia yang tentu saja ada 
"becking"nya orang besar di Indonesia.

Untuk
keempat kasus tersebut si Mayor ini harus prihatin karena menahan
gejolak idealisme sebagai TNI yang harus mengamankan NKRI, tapi di sisi
lain "para pembesar" justru merusak negerinya sendiri. "Saya hanya
seorang mayor bisa berbuat apa?" kata si Mayor kepada tribunnews.com,
Sabtu (4/9/2010) malam.

Coba bayangkan kasus penambangan EMAS di PAPUA.
Si Mayor pernah berhasil menyelinap masuk ke lokasi pertambangan itu
dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Amerika mengeruk harta
karun Indonesia secara besar-besaran dan "dilegalkan" oleh pemerintah
dengan "kontrak" yang sangat merugikan rakyat Indonesia.

Dalam
sehari saja, perusahaan Amerika itu bisa mengangkut sekitar 175.000 ton
biji pasir emas dari bumi Papua melewati perairan Samudera Pasifik.
Indonesia dapat apa?? tidak ada sama sekali uang masuk ke kas negara.
Kalau 20 persen saja dari jumlah emas yang diangkut itu untuk kas
negara maka sudah cukup untuk biaya pendidikan dan kesehatan GRATIS  seluruh 
Indonesia selama-lamanya.

Penambangan
emas di Timika, terbesar di dunia, memang sejak awal sangat merugikan
rakyat Indonesia karena hanya 0% untuk kas negara.

Indonesia
sewajarnya mendapat manfaat yang proposional dari tambang yang dimilki.
Hal ini bisa dicapai jika kontrak kerja yang ditandatangani antara lain
berisi ketentuan-ketentuan yang adil, transparan, dan memihak
kepentingan negara dan rakyat. Ternyata pemerintah pada masa lalu,
hingga kini tidak mampu mengambil manfaat optimal.

Hingga Tahun 1976 perusahaan itu gratis atau setor ke negara 0%, enak kan?
Tahun 1976-1983 pemerintah kenakan (PPh) sebesar 35% (bukan produk yang dikenai 
pajak tapi hanya penghasilan !)
Tahun 1984 pemerintah dapat royalti 1% atas penjualan emas dan perak. 
Tahun 1994 pemerintah mengeluarkan  PP No.20/1994 belum maksimal. 

Seharusnya
Presiden SBY bisa mengeluarkan PP  untuk menghilangkan berbagai
kerugian dengan menjadikan BUMN dan BUMD sebagai pemegang saham mayoritas di 
Freeport atau Timika

Perusahaan yang melakukan kontrak kerja dengan pemerintah untuk mengeruk emas 
terbesar di dunia itu,
diduga ada  penyelewengan, manipulasi, dugaan KKN, tekanan politik, dan
jauh dari kaidah-kaidah bisnis dan negara yang terpuji dan beradab.
Coba hitung lagi jika di bawah emas itu terdapat cadangan URANIUM
terbesar di dunia. Berapa nilainya?? Harga URANIUN berapa kali lipat dari harga 
emas?? Indonesia itu SANGAT KAYA!

Selama
42 tahun periode tambang (1967-2009) bangsa Indonesia tidak mendapatkan
hasil yang optimal dan sebanding dari potensi tambang Timika. 

Dan jika Presiden tidak melakukan perubahan dengan PP maka harta karun di Papua 
itu akan terus dikeruk hingga tahun 2041. Menagislah rakyat Indonesia tanpa 
sadar kekayaannya diangkut ke Amerika.

Padahal
kalau rakyat tahu, berbagai manipulasi data dilakukan oleh perusahaan
tersebut untuk mengelabuhi pajak kepada pemerintah. Katakanlah ada 100
kapal yang mengangkut emas dari Papua ke Amerika maka yang dilaporkan
hanya 10 kapal saja agar pajak royalti 1% itu bisa diperkecil lagi
nominalnya. (narasumber dirahasiakan demi keamanan)


      

Kirim email ke