Prolog
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Ada benarnya, apalagi kalau keinginan mencari pengalaman disertai dengan keberanian. Hasilnya...tak terlupakan! Demikian pula yang terjadi pada diriku, Dinan, 30 tahun, ketika masa remaja dahulu.
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Ada benarnya, apalagi kalau keinginan mencari pengalaman disertai dengan keberanian. Hasilnya...tak terlupakan! Demikian pula yang terjadi pada diriku, Dinan, 30 tahun, ketika masa remaja dahulu.
The Toilet
Aku bersaudara 5 orang, laki-laki semua, dan aku adalah si bungsu, kuliah di perguruan tinggi terkemuka di kota hujan Bogor. Aku masuk melalui jalur tanpa test, karena nilai-nilai raport ku di atas rata-rata, sehingga mendapatkan undangan masuk tanpa test. Mungkin karena kepandaianku ini, Lina, pacarku sekarang, mau mendampingiku suka dan duka. Aku pacaran dengan Lina sejak kelas 3 SMA sampai saat cerita ini bergulir, yaitu tahun 1998.
Kisah cinta kami berdua banyak membuahkan cerita yang indah. Apalagi masa remaja dengan segala keingintahuan yang besar.
Berawal dari acara pernikahan kakak ku di sebuah gedung resepsi pernikahan di bilangan Jakarta Selatan. Gedung dengan fasilitas yang memadai untuk menampung sampai dengan 1000 tamu undangan.
Berawal dari acara pernikahan kakak ku di sebuah gedung resepsi pernikahan di bilangan Jakarta Selatan. Gedung dengan fasilitas yang memadai untuk menampung sampai dengan 1000 tamu undangan.
"Lin, elo disuruh nyokap gue jadi pagar ayu yah nikahan kakak gue" kataku.
"Oh ya, kapan nikahnya? Dimana?" tanya Lina antusias.
"Oh ya, kapan nikahnya? Dimana?" tanya Lina antusias.
Lina memang sudah dekat dengan orangtuaku, jadi ketika mendapat tawaran untuk menjadi pagar ayu Lina begitu senang untuk ikut.
"Bulan depan, di gedung daerah Gatot Subroto" jelasku pada Lina.
"OK aja deh. Ntar pakai busana daerah yah..?" tanya Lina lagi.
"Pasti lah, kalo nggak busana daerah gue, yah ngikutin yang ceweknya" jawabku.
"OK aja deh. Ntar pakai busana daerah yah..?" tanya Lina lagi.
"Pasti lah, kalo nggak busana daerah gue, yah ngikutin yang ceweknya" jawabku.
Aku sudah membayangkan betapa cantiknya Lina bila dipakaikan busana daerah yang penuh warna keemasan, tentu padu dengan kulitnya yang memang putih halus.
"Eh Dinan, pakai disanggul segala nggak yah? Tanya Lina 1 minggu menjelang pernikahan kakakku.
"Pasti pakailah, kalo nggak nanti nggak kompak dengan yang lain. Kenapa memangnya?" tanyaku.
"Rambut gue kan panjang, nanti digimanain?"
"Iya yah...Gini aja, ga usah pakai sanggul, cukup rambutmu aja yang digulung, khan sama tuh seperti sanggul beneran, setuju gak?" kataku memberi usul.
"Boleh juga tuh, nanti gue bilang ama tukang riasnya deh" kata Lina.
"Pasti pakailah, kalo nggak nanti nggak kompak dengan yang lain. Kenapa memangnya?" tanyaku.
"Rambut gue kan panjang, nanti digimanain?"
"Iya yah...Gini aja, ga usah pakai sanggul, cukup rambutmu aja yang digulung, khan sama tuh seperti sanggul beneran, setuju gak?" kataku memberi usul.
"Boleh juga tuh, nanti gue bilang ama tukang riasnya deh" kata Lina.
Hari pelaksanaan tiba, dari pagi aku dan keluarga sudah siap di gedung untuk dirias. Masih jam 7 pagi. Sengaja datang pagi karena banyak yang harus dirias, jadi antri. Meski perias membawa anak buah 3 orang, mereka harus kerja cepat. Lina datang dengan supirnya. Sepagi ini dia sudah tampak segar, dengan rambut di kuncir menampakkan leher putihnya.
"Hallo Dinan...udah mulai rias belum?" tanya Lina dengan senyum mengembang.
"Belum, nunggu giliran dulu. Banyak sih yang dirias. Kamu sudah sarapan belum?"
"Tadi di rumah makan roti." Jawab Lina.
"Belum, nunggu giliran dulu. Banyak sih yang dirias. Kamu sudah sarapan belum?"
"Tadi di rumah makan roti." Jawab Lina.
Kemudian kita ngobrol-ngobrol, sambil aku ngemil kue-kue kecil. Udara pagi yang masih segar, titambah AC ruangan yang dingin, membuat aku ingin buang air kecil.
"Lin, gue pingin pipis nih. Mau ke toilet dulu yah." Kataku.
"Toiletnya dimana sih?" tanya Lina.
"Kayanya sih di bawah". Jawabku.
"Toiletnya dimana sih?" tanya Lina.
"Kayanya sih di bawah". Jawabku.
Kebetulan memang gedung pelaksanaannya letaknya di lantai 2.
"Gue ikut deh, gue mau cuci tangan aja" kata Lina.
Akhirnya kita berdua turun ke bawah mencari toilet. Suasana sepi sekali, karena orang banyak konsen di ruang rias. Satpam gedung juga hanya berada di luar. Pikiran nakalku mengembang. Lokasi toilet wanita dan laki-laki berdampingan. Aku masuk ke tempat laki-laki sedang Lina ke wanita. Ketika aku di dalam toilet, terlintas iseng mau masuk ke toilet wanita.
"Nanti aku ajak Lina, mumpung sepi" kata hatiku.
Aku selesai duluan dan keluar dari ruang toilet. Tidak lama Lina pun keluar. Baru saja Lina menutup pintu toilet, aku langsung menariknya ke samping, mepet dinding. Kurapatkan tubuhku ke tubuhnya. Hangat. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Lina diam saja. Seakan-akan sudah
saling mengerti, bibir kita saling bertaut. Uhh...hangat dan mendalam. Kita berciuman seakan-akan sudah lama tidak bertemu dan melepas kerinduan. Tanganku tidak tinggal diam meremas pantatnya yang bulat. Lina mnegeluh pelan, tapi tidak menurunkan isapannya di bibirku. Tangan Linapun tidak tinggal diam meremas kemaluanku dari luar. Terasa nikmat ketika jemari Lina menekan dan meremas kemaluanku. Semakin lama, kita semakin bernafsu, seakan-akan ingin saling menelan.
"Lin...sayang...masuk ke dalam toilet yuk!" ajakku sambil menahan hawa nafsu yang memuncak.
Kutarik tangannya masuk ke toilet wanita, pikirku lebih aman ketimbang toliet laki-laki. Di dalam toilet, setelah mengunci pintu, aku langsung mencium leher putihnya. Lina menggeliat manja, sambil meremas-remas belakang kepalaku. Satu demi satu kutanggalkan kancing bajunya hingga terlepas semua, termasuk bh nya. Lina pun mengangkat baju kaos yang kupakai. Aku tidak ingin berlama-lama. Celana panjang Lina tidak luput dari tanganku. Langsung kuporotkan celananya, termasuk celana dalam krem-nya. Wow...tubuh langsing putih terpampang di hadapanku. Indah sekali. Aku yang memang sedang on langsung melepas celanauku juga. Kemaluanku yang sudah keras mengacung tegang.
Kutarik tangannya masuk ke toilet wanita, pikirku lebih aman ketimbang toliet laki-laki. Di dalam toilet, setelah mengunci pintu, aku langsung mencium leher putihnya. Lina menggeliat manja, sambil meremas-remas belakang kepalaku. Satu demi satu kutanggalkan kancing bajunya hingga terlepas semua, termasuk bh nya. Lina pun mengangkat baju kaos yang kupakai. Aku tidak ingin berlama-lama. Celana panjang Lina tidak luput dari tanganku. Langsung kuporotkan celananya, termasuk celana dalam krem-nya. Wow...tubuh langsing putih terpampang di hadapanku. Indah sekali. Aku yang memang sedang on langsung melepas celanauku juga. Kemaluanku yang sudah keras mengacung tegang.
Kutempelkan tubuhku ke tubuhnya. Ahh...hangat. Dada kami bersatu, menekan payudara Lina yang kencang. Lina balas memeluk erat tubuhku. Bibir kita menyatu lagi. Saling memberikan energi, memberikan rasa yang membumbung tinggi. Seakan tidak ingin lepas, tanganku menekan punggungnya, tangan Lina menarik kepalaku agar tetap lekat di bibirnya.
Kemaluanku yang tegang terus kugesek ke perutnya, menimbulkan efek geli yang luar biasa. Lina seakan mengerti, kemaluanku dipegang dan kemudian dijepit diantara kedua belah pahanya, ke selangkangannya. Luar biasa, Lina sudah basah. Cepat sekali, pikirku. Kumaju mundurkan pantatku berirama seakan-akan sedang melakukan hubungan suami istri. Lina mengeluh pelan, tampak
wajahnya merah menahan gejolak nafsu.
"Ohhh...Dinan...enak sayang...geli banget" kata Lina mendesah.
"Iya sayang..." Aku sudah tidak bisa bicara banyak.
"Iya sayang..." Aku sudah tidak bisa bicara banyak.
Terasa licin dan hangat kemaluan Lina. Cairannya benar-benar banyak keluar. Kami sudah sama-sama kehilangan akal, sudah dimasuki alam kerinduan yang memuncak. Di ruangan toilet yang sempit ini, kita benar-benar memanfaatkan situasi yang sempit pula. Tidak ingin buang waktu, kutarik tangan Lina agar duduk di pangkuanku. Aku sendiri duduk di atas toilet duduk. Pas dudukannya sambil bersandar santai. Lina mengangkat kakinya sedikit melebar. Kita sudah biasa melakukan hal ini, jadi Lina tahu apa yang kumaksud. Dituntunnya kemaluanku menerobos lubang pantatnya. Terasa licin, mungkin terkena cairan vaginanya.
Lina memaninkan ujung kemaluanku di bibir vaginanya. Ow...Lina menggodaku, sengaja membuatku penasaran. Tanganku menuju belahan pantatnya, sengaja kutarik dan kuremas-remas agar lubang
pantatnya membuka. Lina pun tampak senang dengan perlakuanku ini. Dia makin kuat "mengoles" kepala kemaluanku di bibir vagina dan lubang pantatnya. Dan pada suatu saat, aku merasakan ujung kemaluanku berada di mulut lubang pantatnya, segera ku dorong naik pantatku agar bisa menerobos lubang pantat Lina.
"Aahhh....Dinan..." hanya itu yang keluar dari mulut Lina.
Reflek Lina emmeluk erat tubuhku. Karena posisi Lina aku pangku, otomatis wajahku tepat berada di belahan payudara putihnya. Dengan penuh nafsu aku cium dan jilat ke dua payudara montoknya. Lina kegelian dan menggeliat erotis. Sementara kemaluanku sudah menerobos masuk lubang pantatnya, penuh. Kuraih pinggang Lina, kuangkat pelan dan kuturunkan. Begitu seterusnya. Lina mengerti, tanpa disuruh Lina menggenjot pantatnya naik turun di atas tubuhku. Terasa kemaluanku disedot kekuatan dasyat. Sangat indah dan hangat. Cairan vaginanya yang licin sangat membantu pergerakan kemaluanku.
"Sayang...oohh..Dinan...oogghh..."Lina meracau pelan di telingaku. Tapi rasanya sangat indah, sangat bergairah.
Aku membantunya menaikkan pantatku. Terasa kemaluanku semakin mengeras, terasa semakin kuat dorongan hawa nafsu dari kemaluanku. Sudah hampir menuju ke puncaknya, aku makin memperkuat dorongan ke pantat Lina. Seakan menegrti Lina mempercepat gerakannya pula. Aku sudah tidak tahan.
"Lina...gue mau keluar..." Kataku terputus putus.
"Iya sayang...keluarlah...tidak apa." Jawab Lina, mendesah.
"Iya sayang...keluarlah...tidak apa." Jawab Lina, mendesah.
Mendapat persetujuan dari Lina, aku tidak ragu mengerahkan kemampuanku menggoyang pantat Lina. Serasa ada yang keluar dengan kekuatan besar. Aku orgasme di dalam lubang pantat Lina. Mengejang. Kupeluk erat tubuh Lina, serasa kesetanan, aku memeluk kuat sambil merasakan kedutan nikmat dari kemaluanku. Cairan sperma memenuhi lubang pantat Lina. Lina memeluk mesra diriku. Seiring waktu, pelukanku kukendorkan, kupandangi wajah Lina. Masih tampak
segar. Kita berciuman lama, hangat. Kulepaskan ciuman, kupandangi lagi wajah kekasihku ini. Ah...makin cerah. Entah kenapa, setiap selesai bercinta, wajahnya makin cerah.
Setelah mengenakan pakaian, kita bergantian keluar dari toilet dan menuju ruang rias. Kita sudah menjalani cerita indah. Percintaan mengesankan di sebuah ruangan sempit nan bersih. Senyum kita selalu mengembang.
"Pelajaran"
Keadaan dan waktu yang sempit justru membuat percintaan terasa nikmat. Sekali-sekali dilakukan akan menjadi cerita indah di kemudian hari. Apalagi dilakukan dari keinginan kedua belah pihak. Tanpa paksaan. Tanpa dipaksa.
Keadaan dan waktu yang sempit justru membuat percintaan terasa nikmat. Sekali-sekali dilakukan akan menjadi cerita indah di kemudian hari. Apalagi dilakukan dari keinginan kedua belah pihak. Tanpa paksaan. Tanpa dipaksa.
Selanjutnya...
Selesai sudah trilogi (kaya film or novel aja) pengalaman diriku dengan Lina, meski masih banyak kisah percintaan kami. Cerita mendatang terserah pembaca, ada dua pilihan dari sekian pilihan, yaitu percintaan dengan Ratu, seorang mahasiswi sekaligus SPG mall. Atau dengan Julia, wanita keturunan yang memiliki bisnis maju. Tanggapan bisa via imel or SMS.
Untuk contact dan sharing bisa ke 0815 1966 2860 dan imel [EMAIL PROTECTED].
Thanks a lot.
Selesai sudah trilogi (kaya film or novel aja) pengalaman diriku dengan Lina, meski masih banyak kisah percintaan kami. Cerita mendatang terserah pembaca, ada dua pilihan dari sekian pilihan, yaitu percintaan dengan Ratu, seorang mahasiswi sekaligus SPG mall. Atau dengan Julia, wanita keturunan yang memiliki bisnis maju. Tanggapan bisa via imel or SMS.
Untuk contact dan sharing bisa ke 0815 1966 2860 dan imel [EMAIL PROTECTED].
Thanks a lot.
Do you Yahoo!?
With a free 1 GB, there's more in store with Yahoo! Mail.
Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "curhat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

