Yes, it's me forwarded the email
Pls find again as attached
Bener kata Aa Gun..
Pasti akan ada hal yg lebih baik yg diberikan Tuhan buat kita nanti
Sekarang mungkin kita belum menyadarinya karena hati kita terbuntu dan masih
teringat terus sama si mantan
Tapi percaya deh, suatu saat kamu akan menyadari hikmah yg lebih baik dari
keadaan yg kamu alami sekarang
Nanti2 kamu bakal sadar bahwa hidup kamu mungkin bisa lebih baik daripada
kalau terus bersama dia
Jujur aja, aku juga dulu pernah posting dan curhat di milis ini tentang
sulitnya melupakan mantan
Tapi seiring waktu berlalu dan dukungan dari banyak teman, sekarang aku
malah amat sangat menikmati apa yg aku alami sekarang
Life must go on... Hidup bukan untuk masa lalu
Keep optimis aja yg penting, selalu berusaha mencari yg terbaik dalam hidup,
sama selalu terus mensyukuri hidup
-----Original Message-----
From: Aa Gun [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, March 21, 2006 10:02 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [CuRhAt] masih mengharapkan dia
Sebaiknya rubah pola pikir kamu yang mengatakan bahwa
Tuhan memberikan kamu cinta untuk mencintainya saja.
Cinta kamu layak diberikan pada orang yang mencintai
kamu juga, bukan untuk orang yang sudah tidak
mencintai kamu lagi.
Jangan menutup2i keburukan/kejelekan orang hanya
karena buta oleh cinta. Maksud saya, tentu saja semua
orang punya keburukan, tapi keburukan yang sifatnya
fatal dan menyakiti kamu jelas tidak bisa ditolerir.
Jangan ikuti pepatah2 cinta yang menyesatkan seperti
"biarlah aku menderita asalkan dia bahagia...biarlah
dia lakukan apa yang dia suka yang penting aku
mencintainya" dsb.
Tidak bisa melupakan dan masih mengharapkan adalah
masalah klise yang penyelesaiannya akan tergantung
pada keputusan kamu. Hidup ini penuh pilihan, tidak
semua takdir adalah harga mati dari Tuhan. Mati memang
adalah takdir yang tak bisa ditawar2. Tapi ada takdir
yang bisa dirubah, dan ada takdir yang bisa dipilih.
Dalam kasus ini, pilihan ada di tangan kamu. Kamu bisa
memilih untuk tetap mengharapkan dia walaupun hasilnya
belum pasti, atau memilih melupakan dia dan mencari
hidup yang lebih baik. Apapun pilihan kamu, kamu harus
siap dengan konsekwensinya.
Memang tidak salah kalau kamu masih mengharapkan dia
kembali, itu perasaan yang normal. Tapi saran saya
begini saja:
Jika kamu masih mengharapkan dia, maka tentukanlah
batas waktu, jangan sampai kamu larut dalam
ketidakpastian. Kemudian cari kepastian apakah dia
masih mungkin mencintai kamu kembali atau tidak.
Misalnya dengan tanya teman2 dekatnya, atau bicara
langsung pada mantan kamu secara blak2an. Dan yang
terpenting jangan lupa berdoa'lah minta petunjuk pada
Tuhan, misalnya dengan do'a seperti ini:
"Ya Tuhan, jika sekiranya dia baik untukku, maka
dekatkanlah kami, persatukanlah kami kembali dan
jangan pisahkan kami lagi. Tapi jika sekiranya dia
tidak baik untukku, maka jauhkanlah dia dariku
sejauh2nya, berikanlah aku ketegaran hati dan
kemampuan untuk melupakannya dan berikan aku pengganti
yang jauh lebih baik darinya"
Kalau tidak salah di milis ini pernah ada yang pernah
posting tentang "kisah Anisa". Kamu bisa cari di
postingan2 sebelumnya. Secara garis besar kalau tidak
salah ceritanya kira2 begini:
Anisa anak yang manja yang merengek minta dibelikan
kalung mutiara mainan. Akhirnya dibelikan oleh ibunya.
Tapi setiap malam menjelang tidur, sang ayah selalu
meminta anisa untuk memberikan kalung itu padanya.
Anisa menolak dan menangis. Sampai suatu hari ketika
ayahnya meminta lagi kalung itu, akhirnya dengan
terpaksa anisa memberikannya walaupun hatinya sedih.
Sang ayah mengambilnya, tapi secara tak disangka sang
ayah ternyata menggantinya dengan kalung mutiara asli
untuk anisa. Inti ceritanya : Sama seperti Tuhan,
terkadang Tuhan mengambil sesuatu dari kita, dan kita
sangat tak rela memberikannya. Tapi ternyata Tuhan
telah merencanakan untuk menggantinya dengan yang jauh
lebih baik.
Hanya sekedar saran. Semoga membantu.
--- edinayanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> apakah aku salah bila masih mengharapkan orang yang
> aku cintai
> walaupun dia sudah tidak mencintaiku lagi? karena
> aku merasa tuhan
> memberikan aku cinta untuk mencintainya, aku selalu
> berdoa suatu saat
> dia akan kembali lagi padaku, karena hati kecilku
> mengatakan
> sebenarnya dia masih mencintaiku. apakah masih ada
> harapan bila kita
> selalu berdoa mengharap ia kembali seperti dulu
> lagi. bagiku dia
> adalah pria terbaik yang pernah ada dalam hidupku.
> sulit bagiku
> melihat kejelekannya walaupun saat ia sudah tidak
> pernah
> memghubungiku lagi, namun aku masih suka mengirim
> sms atau pun
> menelponnya. apakah aku salah melakukan hal seprti
> itu? please help
> me, i need an answer
>
>
>
>
>
>
>
> Milis Curhat The Friendliest Way ...
> [email protected]
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
> [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
>
***TOO MEI LI TOO DANGEROUS***
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]
Yahoo! Groups Links
Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/curhat/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--- Begin Message ---
forwarded message
==================
Ini cerita tentang Anisa, gadis kecil ceria berusia lima tahun.
Suatu sore, Anisa menemani ibunya berbelanja di sebuah supermarket.
Ketika menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara
mungil berkilauan,
tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat cantik.
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.
Tapi, dia tahu,ibunya pasti akan keberatan.
Seperti biasa, sebelum berangkat ke supermarket Anisa sudah berjanji tidak
akan meminta
apapun selain yang sudah disetujui ibunya untuk dibeli.
Tadi ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yang
cantik.
Namun karena kalung itu sangat indah, Anisa memberanikan diri bertanya,
"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki
yang tadi..."
Sang Bunda dengan segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.
Dibaliknya tertera harga Rp. 15.000.
Dilihatnya mata Anisa yang memandang dengan penuh harap dan cemas
Sebenarnya Ibu bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun dia tak mau
bersikap tidak konsisten.
"Oke...Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki
yang kau pilih tadi.
Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong
uang tabunganmu untuk
minggu depan, Setuju"
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke
raknya.
"Terima kasih .., Ibu" Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung
mutiaranya.
Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa.
Dia merasa secantik Ibunya.
Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.
Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang.
Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya
menjadi hijau.
Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar
tidur.
Pada suata malam,ketika selesai membacakan sebuat cerita, Ayah bertanya:
"Anisa..,Anisa sayang nggak sama Ayah?"
"Tentu dong..
Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah.., jangan dong ayah!Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek!
itu juga kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang.. nggak apa-apa!" Ayah mencium pipi Anisa sebelum
keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, ayah
bertanya lagi:
"Anisa...,Anisa sayang nggak sih, sama ayah?"
"Ayah, ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada ayah?"
"kalau begitu, berikan pada ayah kalung mutiaramu."
"jangan ayah... Tapi kalau ayah mau, ayah boleh ambil boneka barbie ini."
Kata Anisa seraya
menyerahkan boneka barbie yang selalu menenaminya bermain.
Beberapa malam kemudian, ketika ayah masuk ke kamarnya,
Anisa sedang duduk diatas tempat tidurnya.
Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam.
Kedua tangannya tergenggam diatas pangkuan.
Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya....
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya.
Didalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.
"Kalau ayah mau... ambilah kalung Anisa."
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.
Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana.
Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih..
sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.
"Anisa.. ini untuk Anisa. Sama bukan ?
Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi
hijau"
Ya.. ternyata ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung
mutiara imitasi
Sahabat, demikian pula halnya dengan Tuhan.
Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita,
karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa:
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya
tidak iklas bila harus kehilangan.
Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]
Yahoo! Groups Links
--- End Message ---