Forwarded Message Follows: From: BH-HMO <[EMAIL PROTECTED]> Date: Mon, 27 Mar 2006 11:21:12 +0700 Subject: Tentang RUU APP --------------
>Dari Milis tetangga..... > >Tanggapan saya sebagai seorang muslim, atas somasi MMI terhadap Gubernur >Bali & DPRD Tk 1 Bali. > >Tentang RUU APP: > >Muslim terpelajar, moderat dan "berakal sehat" umumnya menolak RUU APP ini >karena akan menimbulkan implikasi yang luar biasa bagi kehidupan bangsa dan >negara, utamanya karena Indonesia merupakan negara multi etnis, multi >budaya, dan multi agama yang tidak akan sesuai untuk "diseragamkan" >berdasarkan sudut pandang pemeluk agama atau pihak TERTENTU. Keberagaman >inilah yang sejatinya merupakan kekayaan Indonesia. Keberagaman inilah yang >sejatinya menjadi perekat NKRI, bukah malah memecah belah. >Negara ini dibentuk dengan semangat "keberagaman" bukan dengan semangat >"keseragaman" > >Keberagaman agama dan etnis yang dulu ditransendensikan menjadi kekuatan >kebangsaan, saat ini runtuh sehingga kita berhadapan dengan persoalan >krusial agama sebagai bagian kunci dari politik identitas. Dan mereka yang >merasa mempunyai kekuasaan karena menjadi pihak mayoritas, ingin menggunakan > >negara untuk mengatur masalah privat, termasuk soal BERPAKAIAN. Hal ini >sangat tidak bisa dibenarkan. > >Ada batasan dalam perundang-perundangan nasional. MORAL, ADAT, dan AGAMA >tidak bisa dijadikan hukum tertulis. Dalam hukum, ketiganya disebut sebagai >norma otonom. Kalau diformalkan berarti negara mencampuri urusan privat >kehidupan warganya. > >RUU APP ini juga akan memunculkan pengkotak-kotakan baru berdasarkan cara >berpakaian (khususnya perempuan) yang memaksakan penafsiran tunggal >nilai-nilai dan hukum agama TERTENTU. > >Keberagaman diciptakan oleh Allah agar semua mahluknya bisa hidup >berdampingan dalam damai dan saling menghargai. Allah begitu banyak >menciptakan keindahan melalui keanekaragaman, kenapa kita jadi membenci >keindahan dan keberagaman itu sendiri dengan ingin "berseragam" dalam banyak >hal. > >Indonesia kaya akan musik, tarian, pakaian daerah, seni lukis, dan keindahan >lainnya yang seyogyanya sekali lagi tidak "diseragamkan" berdasarkan >standar agama tertentu. Penyeragaman dan pelaksanaan UU APP ini akan >menghapus falsafah negara yaitu Bhineka Tunggal Ika. > >Bila nantinya disahkan, tak pelak lagi akan banyak kesenian daerah, budaya >daerah dll yang bersifat kekayaan lokal akan terberangus, contoh: kebaya >Sunda, Jawa & Bali, baju bodo Sulawesi, yang dibuat dengan cita rasa tinggi >dan merupakan kekayaan budaya akan tinggal menjadi kenangan karena >mengenakan pakaian tsb bisa dikategorikan melanggar UU APP dan otomatis akan > >dikenai sanksi pidana. Tari2an seperti jaipong, wayang orang yg memakai >kemben, reog ponorogo, tayub, dll akan dimusnahkan karena dapat dinilai >tidak sesuai dengan UU APP. > >Sungguh mengejutkan komentar dari Ketua MUI Cholil Ridwan yang mengatakan, >bahwa pakaian adat Indonesia yang mempertontonkan aurat harus dianggap >sebagai pornoaksi dan sebaiknya disimpan saja di museum. Dia mungkin lupa >bahwa dia lahir dan besar di Indonesia dan pakaian adat adalah salah satu >khasanah budaya Indonesia yang terletak di khatulistiwa yang alamnya subur, >makmur, hijau sehingga cara berpakaiannya berbeda dengan negara-negara >TimurTengah yang tandus, berpasir, banyak badai gurun, panas luar biasa di >siang hari, tetapi dingin di malam hari sehingga cara berpakaiannya memang >harus rapat tertutup. >Bila dia ingin melihat keseragaman berpakaian yang tidak mempertontonkan >aurat (khususnya pakaian wanita), jangan dia memaksakan kehendak melalui >negara dan RUU APP ini. Tetapi sebaiknya dia tinggal di negara yang hanya >mengijinkan wanitanya untuk memakai 1 (satu) jenis pakaian (burga, jubah, >dan jilbab) dan 1(satu) warna pakaian yaitu warna HITAM saja seperti di Iran > >atau Sudan. >Allah menciptakan begitu banyak keindahan di dunia ini, termasuk dalam soal >warna. Pelangi indah karena berwarna warni. Pengingkaran terhadap keindahan >dunia misalnya dengan menafikan banyaknya warna dan hanya memperbolehkan >wanita mengenakan pakaian warna HITAM, seperti yang terjadi di Iran, >sebetulnya adalah pengingkaran terhadap sifat Allah yang mencintai >keindahan. > >Tentang somasi MMI > >Islam sejatinya adalah agama yang mengutamakan egaliterian, yaitu semangat >kebersamaan, toleransi dan tidak memaksakan kehendak serta sangat menghargai >keberagaman. >Islam tidak membawa pedang dan darah, Islam membawa bunga dan cinta (Dikutip >dari ucapan Alm. KH Muttaqien, mantan rektor Universitas Islam Bandung saat >saya mengikuti pesantren kilat tahun 1982). >Islam adalah agama damai, tidak suka kekerasan, serta mengajarkan penyerahan >diri, ikhlas, tawakal, tawadu, dan sejuta kebaikan lainnya. >Ketika Islam berjaya melalui kekuasaan Bani Abbasiyah dengan imperiumnya >yang terbentang dari Asia sampai Eropa (saat itu Eropa masih berada pada >masa "dark ages" atau abad kegelapan) ; orang Kristen, Yahudi dan lainnya >yang tidak memeluk Islam, dapat hidup dengan tenang, tidak dipaksa untuk >masuk Islam, dan mereka tidak pernah diganggu baik dlm hal menjalankan >ritual ibadah mereka ataupun menjalankan adat istiadat setempat. > >Yang terjadi saat ini di Indonesia adalah komponen-komponen bangsa tampaknya > >telah kehilangan kepercayaan sosial karena kekerasan atas dasar prasangka >sosial lebih dikedepankan dibandingkan dengan duduk bersama membicarakan >masalah yang ada. > >Munculnya teror, ancaman, bahkan somasi hukum dari kelompok yang >mengatasnamakan agama Islam terhadap masyarakat atau anggota DPR yang >menolak RUU APP memperlihatkan adanya polarisasi yang mengarah pada >konservatisme agama. Polanya memperjuangkan "akhlak" dan menganggap pihak >lain sebagai "tidak berakhlak" bahkan "disetankan". > >Sebetulnya mereka yang berteriak lantang, menunjuk dengan beringas sambil >melotot menghunus pedang dan "menghakimi" orang lain atas nama Islam, >seperti tertera di surat somasi di bawah ini, adalah sangat berlawanan >dengan semangat Islam yang cinta damai. Tidak pernah ada pemaksaan dalam >Islam. > >Dapat dikatakan perilaku seperti ini, yang biasanya berujung pada pengerahan > >massa; adalah pemenuhan hasrat purbawi untuk menaklukkan pihak lain, hanya >kali ini dilakukan dengan dalih agama. > >Salam, >Irfan Prasatya >(lihat juga tanggapan/ sanggahan saya - sbg muslim yg tinggal di Bali - atas > >somasi sdr. Fauzan, di bawah ini) > > > Subject: [mediacare] Majelis Mujahidin ancam "menyerang" Bali! > > > [EMAIL PROTECTED] > > > > MAJELIS MUJAHIDIN > > > DEPARTEMEN DATA DAN INFORMASI > > > Jalan Jatinegara Timur III no.26 Jaktim-13350 > > > Tlp/Fax: 021-8517718 > > > > > > Nomor : 01/03/MM-DATIN/06 > > > Lamp. : - > > > Perihal : SOMASI > > > > > > Kepada: > > > 1. Gubernur Propinsi Bali > > > 2. Pimpinan DPRD TK I Bali Di Tempat > > > > > > Setelah memperhatikan pernyataan Gubernur Bali I > > > Made Dewabrata, pimpinan DPRD Tk I Bali, dan > > > sejumlah tokoh masyarakat Bali dalam menanggapi > > > rencana pengesahan RUU APP, maka kami ajukan SOMASI > > > dengan alasan sebagai berikut: > > > > > > 1. Logika pariwisata sebagai tulang punggung > > > perekonomian Bali untuk menolak RUU APP adalah > > > mengada-ada, karena masyarakat Bali sebelum ini > > > hidup tanpa pariwisata. Justru dengan mengundang > > > wisatawan asing, kemaksiatan merajalela, prostitusi > > > tumbuh subur, narkoba bersimaharajalela, sehingga > > > rakyat Bali menjadi budak di negerinya sendiri. > > Setiap kalimat pada nomor satu ini memperlihatkan kerancuan >berpikir, membabi buta, tidak melihat fakta, dan tidak jernih melihat >permasalahan. Apa yang dimaksud dengan sebelum ini? 10 tahun lalu, 20 tahun >lalu, 30 tahun lalu? Hidup tidak berjalan ke belakang atau sebelum ini. >Hidup adalah melihat hari ini dan berjalan untuk hari esok. Faktanya adalah, >hari ini dan esok, seluruh sendi kehidupan Bali ditopang oleh industri >pariwisata, dan hal ini telah banyak membawa kemaslahatan dan manfaat untuk >rakyat Bali, dibandingkan dengan kemudaratan. > > Menyalahkan banyaknya wisatawan asing untuk merajalelanya maksiat, >prostitusi, narkoba dll sekali lagi memperlihatkan kepicikan sudut pandang >(narrow minded) dari penulis somasi ini. Sdr. Fauzan nampaknya jarang sekali >atau bahkan mungkin tidak pernah ke Bali. Dia tidak tahu sama sekali tentang > >kultur masyarakat Hindu Bali yang mengutamakan harmoni dengan sesama, dgn >alam sekitar dll. Mungkin dia tidak tahu di Bali tidak ada lokalisasi >prostitusi (bandingkan dgn di Surabaya yg sebagian besar masyarakatnya >muslim - adalah salah satu kota pelacuran terbesar di Asia, bandingkan >dengan Batam, daerah industri yang mempunyai banyak lokalisasi pelacuran, >dan tingkat penderita HIV AIDS nya nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta >dan Papua. > > Jakarta, Papua, dan Batam bukanlah daerah tujuan wisata (DTW), >tetapi tingkat penderita HIV AIDS nya jauh lebih banyak dari Bali yang >banyak dikunjungi wisman. > > Dan kalau pantai2 di Bali banyak bule berbikini, bukan berarti >maksiat merajalela mas. > > Anda tahu dimana tingkat perkosaan dan kriminalitas tertinggi di >Indonesia? Selalu dipegang oleh salah satu propinsi di Sumatera atau >Sulawesi. > > Sedangkan Bali selalu menjadi nomor terakhir dalam urusan >kriminalitas dan perkosaan. > > Begitu banyak orang berpakaian minim di pantai2 Bali tetapi >faktanya tidak pernah ada pemerkosaan di sini. > > Saya pernah tinggal di Bandung, Surabaya, Palembang, Medan, >Bintan, Batam, dan Jakarta, dan kalau menurut Sdr. Fauzan maksiat itu adalah >prostitusi, narkoba, dan kehidupan malam lainnya, maka kemaksiatan di sana, >sepanjang pengamatan saya, jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan di Bali, >dan jangan lupa di tempat-tempat yang saya sebut itu, mayoritas penduduknya >adalah muslim. > > Masyarakat Bali adalah masyarakat yang sangat menghargai alam >sekitarnya dan semua ciptaanTuhan di sekelilingnya, sekaligus pencinta >keindahan (bayangkan bahkan untuk menebang pohon saja harus ada ijin dari >Mangku setempat. Bayangkan pula seni tarinya, seni lukisnya, seni patungnya >yang luar biasa indahnya, dan carilah daerah lain di Indonesia yg bisa >menyamai Bali? Jawabnya...tidak ada dan tidak akan pernah ada). > > Bali memiliki keunggulan komparatif sebagai DTW yang tidak akan >pernah bisa disamai oleh DTW lainnya di Indonesia. Keunggulan kompetitifnya >mungkin bisa disamai, tapi komparatifnya, tidak akan pernah bisa. Karenanya, >Bali dan masyarakatnya menjadi sangat istimewa kedudukannya dalam NKRI. > > > Masyarakat Bali adalah masyarakat yang sangat religius, dimana >ekspresi terima kasih serta kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta >diejawantahkan dalam berbagai upacara adat dan agama, yang tidak pernah saya >saksikan di tempat lain di Indonesia. Dimana lagi di Indonesia yang >masyarakatnya bisa menyamai kadar religiusitas masyarakat Bali? Di sini >gotong royong tidak sebatas slogan tetapi betul-betul dilaksanakan dengan >"mebanjar" dan dalam kegiatan2 lainnya. > > Satu lagi yang juga ingin saya tekankan, orang Bali juga santun >dalam berlalulintas. Dan itu adalah IBADAH yang sebenarnya. > > Coba anda kunjungi Medan, Makassar, Palembang, yang mayoritas >adalah muslim, dan coba anda berkendara di sana: cacian, makian, >ketidaksabaran, saling serobot, ngotot, melotot, tidak mau memberi jalan, >tidak berhenti untuk mempersilahkan meskipun yang menyeberang jalan adalah >anak2, wanita hamil atau lansia, menerobos lampu merah; adalah pemandangan >sehari-hari di sana. Dan mereka mengaku sebagai masyarakat muslim yang >religius, yang rajin melakukan IBADAH "ritual", tetapi di jalan raya >perilaku mereka seperti orang yang tidak beragama; mudah emosi, mencabut >pisau dan badik jika tersinggung sedikit saja. IBADAH mereka hanya berhenti >sebatas pada ritual agama (shalat, puasa,dll) tetapi tidak IBADAH dalam >keseharian. > > Sementara di Bali, nyaris tidak ada orang melotot, mencaci, cabut >senjata tajam kalau tersinggung, menyerobot lampu merah, dll. Anda tidak >akan pernah mengalami hal ini di Bali. > > Jadi mana yang lebih BERIBADAH??? Mana yang lebih religius??? > > Sdr. Fauzan yang terhormat, kalau pariwisata di Bali menjadi >primadona dengan segala konsekwensi baik dan buruknya, bukan berarti >masyarakat Bali tidak religius. Bangsa Indonesia selalu mengaku bangsa yang >religius, tetapi lihat tingkat korupsinya, selalu nomor wahid di dunia. >Kalau ada bangsa lain, setelah melihat tingkat korupsi di Indonesia, melihat > >perilaku aparatnya yang suka menilep duit negara, memeras rakyat, >mengkomersilkan jabatan (hal-hal yang jarang anda temui di negara maju, yang >sayangnya negara seperti ini biasanya bukan negara yang banyak penduduk >muslimnya), lantas menuduh Indonesia sebagai bangsa yang bejat moral, dan >tidak religius, anda pasti tersinggung kan? > > Faktanya di Bali, korupsi dan tingkat kriminalitas nyaris nol. >Kalaupun ada yang melakukan kriminal, umumnya pendatang dari Jawa. > > > 2. Logika budaya untuk menolak RUU APP sama > > > sekali tidak berdasarkan fakta sosiologis dan > > > filosofis, mengingat pakaian adat Bali relatif > > > menutup aurat (tidak telanjang). Bahkan > > > patung-patung di sana pun diberi kain penutup. > > Pengertian aurat seyogyanya tidak dibicarakan dalam ranah agama, >melainkan harus masuk dalam ranah budaya. Bahkan dalam Islam pun 4 mahzab >yaitu mahzab Imam Hambali, Ghazali, Syafei dan Maliki berbeda-beda dalam >mendefinisikan batas aurat. Lantas yang dimaksud aurat ini hendak mengacu >pada mahzab mana? > > Saya ingin tanya, mengapa Tuhan menciptakan wanita, dengan segala >keindahannya, dengan payudara, pinggul, leher, pantat yang luar biasa >indahnya. > > Mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang begitu indah ini? > > Kalau lantas banyak laki-laki yang tergiur dengan keindahan itu, >apakah itu salah wanita?? Sehingga harus ditutup serapat2nya dan hanya >terlihat bola matanya saja. > > Laki-laki yang tidak dapat menahan nafsu, kenapa lantas wanita >yang disalahkan.? > > Kalau anda bercermin, kemudian melihat muka anda buruk, ya jangan >lantas cerminnya yang dirusak. > > Kalau anda birahi karena melihat tubuh wanita di tempat umum, ya >jangan wanitanya yang disalahkan. Salahkan diri anda sendiri karena tidak >dapat menahan birahi. > > Mengenai patung, ada baiknya anda meneliti kembali seni patung di >Indonesia mulai dari jaman baheula sampai sekarang....lihat apa yang ada di >sana. Lihat konsep lingga dan yoni yang banyak terdapat pada seni patung >atau relief di Indonesia. > > Atau coba anda datang ke Bali, bermukimlah selama sebulan atau 2 >bulan, pelajari kultur masyarakat Hindu Bali, dan baru anda bicara tentang >fakta sosiologis dan filosopis. > > > > 3. Ancaman Gubernur dan masyarakat Bali untuk > > > memisahkan diri dari NKRI merupakan bentuk tirani > > > minoritas dan arogansi yang bernuansa SARA serta > > > ancaman perang terhadap kedaulatan NKRI, di samping melecehkan > > > penduduk mayoritas muslim. > > Masyarakat Bali adalah masyarakat yang toleran, ramah, terbuka, >tidak berprasangka buruk, santun, menjaga keseimbangan dalam keseharian >antara kehidupan adat, agama, dan personal. Pariwisata dan banyaknya >pendatang yang ingin mengais rejeki di "Pulau yang Diberkati" ini tidak >menjadikan kultur Bali tergerus oleh semua itu. Ratusan tahun berlalu, >mereka tetap teguh dan kukuh menjaga warisan budaya dan jati dirinya serta >dalam menjalankan ritual adat dan agamanya. Sementara di daerah lain, banyak > >yang sudah tidak mempunyai identitas dan kehilangan jati diri. > > Dengan segala keistimewaan yang mereka miliki, masyarakat Bali >TIDAK PERNAH MEMAKSAKAN KEHENDAK pada NKRI. Mereka tidak rewel seperti Aceh >atau Papua. > > Sdr Fauzan salah menterjemahkan arti "tirani minoritas" di sini. >Pernahkan Bali menjadi tiran? Anda tahu artinya tiran? > > Saddam Husein dan Partai Baathnya adalah kaum Sunni dan mereka >minoritas di Irak dibandingkan dengan kaum Syiah. Syiah 65% di Irak, >sementara kaum Sunni, Kristen, suku Kurdi dan lainnya hanya 35%. Tetapi >Saddam yang berasal dari kaum minoritas Sunni memerintah dgn tangan besi. >Itu artinya tirani minoritas. > > Apa yang dilakukan oleh masyarakat Bali bukanlah tirani minoritas >atau bentuk arogansi. Mereka hanya mempertanyakan serta memperjuangkan hak >hidup mereka dari pariwisata, karena apabila RUU ini menjadi UU dan >dilaksanakan, maka habis sudah Bali. Tidak akan ada pariwisata, karena >banyak hal yang dapat dilakukan oleh turis selama ini, hal yang sederhana >saja; misalnya memakai bikini di pantai, akan dilarang karena bertentangan >dengan UU ini. Kalau sdh begini, apakah masih ada wisman yg tertarik datang >ke Bali??? Kemudian kalau tidak ada turis yg datang, siapa yang terkena >dampak langsung? Orang Jakarta seperti anda atau orang Bali?? > > Bali merana karena bom pertama 12 Oktober 2002, kemudian bom kedua >1 Oktober 2005, dan sekarang apa yang akan terjadi bila RUU ini menjadi UU >dan dipaksakan dilaksanakan di Bali?? > > Artinya, DPR dan Pemerintah sedang menggali kuburan untuk >masyarakat Bali. > > Bila anda datang ke sini dan melihat efek domino dari bom Oktober >2005, mungkin anda akan berpikir dua kali untuk menulis "Jika TNI dan bla >bla bla bla", yang nadanya berisi ancaman. > > Dalam Islam, tidak dibenarkan untuk mengancam dan mendzalimi pihak >lain. Masyarakat Bali sudah 2 kali didzalimi oleh bom yang kebetulan >diledakkan oleh orang yg beragama Islam. > > Apakah mereka langsung menyalahkan Islam? Apakah mereka balas >dendam terhadap orang2 Islam yg ada di Bali? Tidak sama sekali. Mereka tetap >lah ramah, toleran, dan terbuka pada siapa saja. > > Mereka tidak pernah melecehkan penduduk muslim. > > Sedangkan kalau ada salah satu unsur Islam didzalimi umpamanya, >apa yang akan terjadi? Pengerahan massa, sikat, hantam, ancaman, >demonstrasi, merusak dan tindakan anarkis lainnya yang akan anda lakukan >bersama kelompok anda, persis seperti ancaman anda di nomor tiga di bawah >ini. > > Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Pro kontra terhadap >sesuatu adalah hal yang normal. Argumentasi terhadap pandangan individu atau >kelompok lain seyogyanya dilandasi dengan alasan yang jelas, masuk akal dan >logika, tidak menyederhanakan masalah, tidak membabi buta, tidak >mengedepankan emosi dan angkara murka, serta ancaman seperti yang tercantum >dalam somasi anda. > > Jangan lantas menganggap orang yang kontra terhadap RUU APP ini >sebagai orang yang tidak bermoral, tidak berakhlak atau tidak beragama (itu >namanya emosional), hanya karena anda tidak mempunyai argumentasi yang masuk >akal untuk membenarkan pendapat anda. > > Cari dalil-dalil yang tepat, kuat, dan masuk akal dari semua sudut >pandang baik sudut pandang adat, budaya, etika, norma, agama, >ketatanegaraan, dll; agar orang yang kontra RUU APP ini juga bisa menghargai >pendapat anda yang pro RUU APP. > > Jangan menuding, melotot, meng"SETAN"kan orang lain, menganggap >hanya diri sendiri dan kelompoknya yang benar, suci dan bermoral, dan >karenanya pantas masuk Surga. > > Coba anda lihat mereka yang keberatan dengan RUU APP ini: DR. >Gadis Arivia, DR. Moeslim Abdurrahman, DR. Meutia Farida Hatta yg Menteri >Negara Pemberdayaan Perempuan, Gus Dur dan Istri, Akbar Tanjung, Megawati, >salah seorang Doktor dan Guru Besar Filsafat Islam di Sekolah Tinggi Islam, >WS Rendra, Garin Nugroho, serta para budayawan, negarawan, dan cerdik >cendekiawan yang umumnya Muslim yang taat, berpendidikan tinggi sampai S3, >mereka mengemukakan argumen dengan kepala dingin, sejuk, masuk akal & >logika, dan mengambil persfektif yg luas untuk menguatkan pandangannya. > > Sementara yang saya lihat dan dengar dari mereka yang pro RUU APP >ini kebanyakan seperti anda sikap & perilakunya, yaitu: emosi, melotot, >marah, siap menghunus pedang, mencap pihak yang kontra RUU APP tidak >beragama, mengancam, menyederhanakan masalah, mengerahkan massa, menciptakan >rasa takut, tetapi tidak memberi dalil yang kuat untuk membenarkan pendapat >anda. > > Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Tidak selayaknya kita menggunakan >namaNya agar dapat "menghantam" pihak lain yang kita anggap berseberangan. > > Naudzubillah min zalik. > > > > Mencermati pernyataan tersebut maka: > > > 1. Kami mendesak Pemerintah cq TNI untuk > > > segera bertindak tegas terhadap anasir disintegrasi > > > yang nampak jelas dengan memanfaatkan momentumn > > > penolakan terhadap RUU APP. > > > > > > 2. Jika pemerintah SBY-JK membiarkan ancaman > > > Gubernur Bali tersebut berarti pemerintah secara > > > langsung maupun tidak, telah merestui separatisme di > > > wilayah hukum NKRI, sehingga pemerintahannya > > > merupakan pemerintahan subversif, anti NKRI, dan > > > menyulut konflik SARA. > > > > > > 3. Jika TNI tidak sanggup menanggulangi dan > > > menghentikan sikap arogansi dan anasir separatisme > > > tersebut, maka Majelis Mujahidin bersama institusi > > > Islam lainnya siap untuk menyelesaikannya. > > > > > > Ya Allah, saksikanlah, kami telah menyampaikan, > > > Allahu Akbar! > > > > > > Jakarta, 12 Maret 2006 > > > > > > Drs. Fauzan Al-Anshari, MM > > > Ketua (HP.0811-100138) > > > > > > > > > > > > Reja Pahlawan Kusuma Bangsa > > > > > > E-mail: [EMAIL PROTECTED] > > > Weblog: http://indonebia.blogspot.com Milis Curhat The Friendliest Way ... [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/curhat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

