Forwarded Message Follows:
From: BH-HMO <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 27 Mar 2006 11:21:12 +0700
Subject: Tentang RUU APP
--------------

>Dari Milis tetangga.....
>
>Tanggapan saya sebagai seorang muslim, atas somasi MMI terhadap Gubernur
>Bali & DPRD Tk 1 Bali. 
>
>Tentang RUU APP:
>
>Muslim terpelajar, moderat dan "berakal sehat" umumnya menolak RUU APP ini
>karena akan menimbulkan implikasi yang luar biasa bagi kehidupan bangsa dan
>negara, utamanya karena Indonesia merupakan negara multi etnis, multi 
>budaya, dan multi agama yang tidak akan sesuai untuk "diseragamkan"
>berdasarkan sudut pandang pemeluk agama atau pihak TERTENTU. Keberagaman
>inilah yang sejatinya merupakan kekayaan Indonesia. Keberagaman inilah yang 
>sejatinya menjadi perekat NKRI, bukah malah memecah belah.
>Negara ini dibentuk dengan semangat "keberagaman" bukan dengan semangat
>"keseragaman"
>
>Keberagaman agama dan etnis yang dulu ditransendensikan menjadi kekuatan 
>kebangsaan, saat ini runtuh sehingga kita berhadapan dengan persoalan
>krusial agama sebagai bagian kunci dari politik identitas. Dan mereka yang
>merasa mempunyai kekuasaan karena menjadi pihak mayoritas, ingin menggunakan
>
>negara untuk mengatur masalah privat, termasuk soal BERPAKAIAN. Hal ini
>sangat tidak bisa dibenarkan.
>
>Ada batasan dalam perundang-perundangan nasional. MORAL, ADAT, dan AGAMA
>tidak bisa dijadikan hukum tertulis. Dalam hukum, ketiganya disebut sebagai 
>norma otonom. Kalau diformalkan berarti negara mencampuri urusan privat
>kehidupan warganya.
>
>RUU APP ini juga akan memunculkan pengkotak-kotakan baru berdasarkan cara
>berpakaian (khususnya perempuan) yang memaksakan penafsiran tunggal 
>nilai-nilai dan hukum agama TERTENTU.
>
>Keberagaman diciptakan oleh Allah agar semua mahluknya bisa hidup
>berdampingan dalam damai dan saling menghargai. Allah begitu banyak
>menciptakan keindahan melalui keanekaragaman, kenapa kita jadi membenci 
>keindahan dan keberagaman itu sendiri dengan ingin "berseragam" dalam banyak
>hal.
>
>Indonesia kaya akan musik, tarian, pakaian daerah, seni lukis, dan keindahan
>lainnya yang seyogyanya sekali lagi  tidak "diseragamkan" berdasarkan 
>standar agama tertentu. Penyeragaman dan pelaksanaan UU APP ini akan
>menghapus falsafah negara yaitu Bhineka Tunggal Ika.
>
>Bila nantinya disahkan, tak pelak lagi akan banyak kesenian daerah, budaya
>daerah dll yang bersifat kekayaan lokal akan terberangus, contoh: kebaya 
>Sunda, Jawa & Bali, baju bodo Sulawesi, yang dibuat dengan cita rasa tinggi
>dan merupakan kekayaan budaya akan tinggal menjadi kenangan karena
>mengenakan pakaian tsb bisa dikategorikan melanggar UU APP dan otomatis akan
>
>dikenai sanksi pidana. Tari2an seperti jaipong, wayang orang yg memakai
>kemben, reog ponorogo, tayub, dll akan dimusnahkan karena dapat dinilai
>tidak sesuai dengan UU APP.
>
>Sungguh mengejutkan komentar dari Ketua MUI Cholil Ridwan yang mengatakan, 
>bahwa pakaian adat Indonesia yang mempertontonkan aurat harus dianggap
>sebagai pornoaksi dan sebaiknya disimpan saja di museum. Dia mungkin lupa
>bahwa dia lahir dan besar di Indonesia dan pakaian adat adalah salah satu 
>khasanah budaya Indonesia yang terletak di khatulistiwa yang alamnya subur,
>makmur, hijau sehingga cara berpakaiannya berbeda dengan negara-negara
>TimurTengah yang tandus, berpasir, banyak badai gurun, panas luar biasa di 
>siang hari, tetapi dingin di malam hari sehingga cara berpakaiannya memang
>harus rapat tertutup.
>Bila dia ingin melihat keseragaman berpakaian yang tidak mempertontonkan
>aurat (khususnya pakaian wanita), jangan dia memaksakan kehendak melalui 
>negara dan RUU APP ini. Tetapi sebaiknya dia tinggal di negara yang hanya
>mengijinkan wanitanya untuk memakai 1 (satu) jenis pakaian (burga, jubah,
>dan jilbab) dan 1(satu) warna pakaian yaitu warna HITAM saja seperti di Iran
>
>atau Sudan.
>Allah menciptakan begitu banyak keindahan di dunia ini, termasuk dalam soal
>warna. Pelangi indah karena berwarna warni. Pengingkaran terhadap keindahan
>dunia misalnya dengan menafikan banyaknya warna dan hanya memperbolehkan 
>wanita mengenakan pakaian warna HITAM, seperti yang terjadi di Iran,
>sebetulnya adalah pengingkaran terhadap sifat Allah yang mencintai
>keindahan.
>
>Tentang somasi MMI
>
>Islam sejatinya adalah agama yang mengutamakan egaliterian, yaitu semangat 
>kebersamaan, toleransi dan tidak memaksakan kehendak serta sangat menghargai
>keberagaman.
>Islam tidak membawa pedang dan darah, Islam membawa bunga dan cinta (Dikutip
>dari ucapan Alm. KH Muttaqien, mantan rektor Universitas Islam Bandung saat 
>saya mengikuti pesantren kilat tahun 1982).
>Islam adalah agama damai, tidak suka kekerasan, serta mengajarkan penyerahan
>diri, ikhlas, tawakal, tawadu, dan sejuta kebaikan lainnya.
>Ketika Islam berjaya melalui kekuasaan Bani Abbasiyah dengan imperiumnya 
>yang terbentang dari Asia sampai Eropa (saat itu Eropa masih berada pada
>masa "dark ages" atau abad kegelapan) ; orang Kristen, Yahudi dan lainnya
>yang tidak memeluk Islam, dapat hidup dengan tenang, tidak dipaksa untuk 
>masuk Islam, dan mereka tidak pernah diganggu baik dlm hal menjalankan
>ritual ibadah mereka ataupun menjalankan adat istiadat setempat.
>
>Yang terjadi saat ini di Indonesia adalah komponen-komponen bangsa tampaknya
>
>telah kehilangan kepercayaan sosial karena kekerasan atas dasar prasangka
>sosial lebih dikedepankan dibandingkan dengan duduk bersama membicarakan
>masalah yang ada.
>
>Munculnya teror, ancaman, bahkan somasi hukum dari kelompok yang 
>mengatasnamakan agama Islam terhadap masyarakat atau anggota DPR yang
>menolak RUU APP memperlihatkan adanya polarisasi yang mengarah pada
>konservatisme agama. Polanya memperjuangkan "akhlak" dan menganggap pihak 
>lain sebagai "tidak berakhlak" bahkan "disetankan".
>
>Sebetulnya mereka yang berteriak lantang, menunjuk dengan beringas sambil
>melotot menghunus pedang dan "menghakimi" orang lain atas nama Islam, 
>seperti tertera di surat somasi di bawah ini, adalah sangat berlawanan
>dengan semangat Islam yang cinta damai. Tidak pernah ada pemaksaan dalam
>Islam.
>
>Dapat dikatakan perilaku seperti ini, yang biasanya berujung pada pengerahan
>
>massa; adalah pemenuhan hasrat purbawi untuk menaklukkan pihak lain, hanya
>kali ini dilakukan dengan dalih agama.
>
>Salam,
>Irfan Prasatya
>(lihat juga tanggapan/ sanggahan saya - sbg muslim yg tinggal di Bali - atas
>
>somasi sdr. Fauzan, di bawah ini)
>
> > Subject: [mediacare] Majelis Mujahidin ancam "menyerang" Bali!
>
>         > [EMAIL PROTECTED]
>
>
>         > MAJELIS MUJAHIDIN
>
>         > DEPARTEMEN DATA DAN INFORMASI 
>
>         > Jalan Jatinegara Timur III no.26 Jaktim-13350
>
>         > Tlp/Fax: 021-8517718
>
>         >
>
>         > Nomor : 01/03/MM-DATIN/06
>
>         > Lamp. : -
>
>         > Perihal : SOMASI
>
>         >
>
>         > Kepada:
>
>         > 1. Gubernur Propinsi Bali
>
>         > 2. Pimpinan DPRD TK I Bali Di Tempat
>
>         >
>
>         > Setelah memperhatikan pernyataan Gubernur Bali I 
>
>         > Made Dewabrata, pimpinan DPRD Tk I Bali, dan
>
>         > sejumlah tokoh masyarakat Bali dalam menanggapi
>
>         > rencana pengesahan RUU APP, maka kami ajukan SOMASI
>
>         > dengan alasan sebagai berikut: 
>
>         >
>
>         > 1. Logika pariwisata sebagai tulang punggung
>
>         > perekonomian Bali untuk menolak RUU APP adalah
>
>         > mengada-ada, karena masyarakat Bali sebelum ini 
>
>         > hidup tanpa pariwisata. Justru dengan mengundang
>
>         > wisatawan asing, kemaksiatan merajalela, prostitusi
>
>         > tumbuh subur, narkoba bersimaharajalela, sehingga
>
>         > rakyat Bali menjadi budak di negerinya sendiri.
>
>         Setiap kalimat pada nomor satu ini memperlihatkan kerancuan
>berpikir, membabi buta, tidak melihat fakta, dan tidak jernih melihat
>permasalahan. Apa yang dimaksud dengan sebelum ini? 10 tahun lalu, 20 tahun 
>lalu, 30 tahun lalu? Hidup tidak berjalan ke belakang atau sebelum ini.
>Hidup adalah melihat hari ini dan berjalan untuk hari esok. Faktanya adalah,
>hari ini dan esok, seluruh sendi kehidupan Bali ditopang oleh industri 
>pariwisata, dan hal ini telah banyak membawa kemaslahatan dan manfaat untuk
>rakyat Bali, dibandingkan dengan kemudaratan.
>
>         Menyalahkan banyaknya wisatawan asing untuk merajalelanya maksiat, 
>prostitusi, narkoba dll sekali lagi memperlihatkan kepicikan sudut pandang
>(narrow minded) dari penulis somasi ini. Sdr. Fauzan nampaknya jarang sekali
>atau bahkan mungkin tidak pernah ke Bali. Dia tidak tahu sama sekali tentang
>
>kultur masyarakat Hindu Bali yang mengutamakan harmoni dengan sesama, dgn
>alam sekitar dll. Mungkin dia tidak tahu di Bali tidak ada lokalisasi
>prostitusi (bandingkan dgn di Surabaya yg sebagian besar masyarakatnya 
>muslim - adalah salah satu kota pelacuran terbesar di Asia, bandingkan
>dengan Batam, daerah industri yang mempunyai banyak lokalisasi pelacuran,
>dan tingkat penderita HIV AIDS nya nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta 
>dan Papua.
>
>         Jakarta, Papua, dan Batam bukanlah daerah tujuan wisata (DTW),
>tetapi tingkat penderita HIV AIDS nya jauh lebih banyak dari Bali yang
>banyak dikunjungi wisman.
>
>         Dan kalau pantai2 di Bali banyak bule berbikini, bukan berarti 
>maksiat merajalela mas.
>
>         Anda tahu dimana tingkat perkosaan dan kriminalitas tertinggi di
>Indonesia? Selalu dipegang oleh salah satu propinsi di Sumatera atau
>Sulawesi.
>
>         Sedangkan Bali selalu menjadi nomor terakhir dalam urusan 
>kriminalitas dan perkosaan.
>
>         Begitu banyak orang berpakaian minim di pantai2 Bali tetapi
>faktanya tidak pernah ada pemerkosaan di sini.
>
>         Saya pernah tinggal di Bandung, Surabaya, Palembang, Medan, 
>Bintan, Batam, dan Jakarta, dan kalau menurut Sdr. Fauzan maksiat itu adalah
>prostitusi, narkoba, dan kehidupan malam lainnya, maka kemaksiatan di sana,
>sepanjang pengamatan saya, jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan di Bali, 
>dan jangan lupa di tempat-tempat yang saya sebut itu, mayoritas penduduknya
>adalah muslim.
>
>         Masyarakat Bali adalah masyarakat yang sangat menghargai alam
>sekitarnya dan semua ciptaanTuhan di sekelilingnya, sekaligus pencinta 
>keindahan (bayangkan bahkan untuk menebang pohon saja harus ada ijin dari
>Mangku setempat. Bayangkan pula seni tarinya, seni lukisnya, seni patungnya
>yang luar biasa indahnya, dan carilah daerah lain di Indonesia yg bisa 
>menyamai Bali? Jawabnya...tidak ada dan tidak akan pernah ada).
>
>         Bali memiliki keunggulan komparatif sebagai DTW yang tidak akan
>pernah bisa disamai oleh DTW lainnya di Indonesia. Keunggulan kompetitifnya 
>mungkin bisa disamai, tapi komparatifnya, tidak akan pernah bisa. Karenanya,
>Bali dan masyarakatnya menjadi sangat istimewa kedudukannya dalam NKRI.
>
>
>         Masyarakat Bali adalah masyarakat yang sangat religius, dimana 
>ekspresi terima kasih serta kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta
>diejawantahkan dalam berbagai upacara adat dan agama, yang tidak pernah saya
>saksikan di tempat lain di Indonesia. Dimana lagi di Indonesia yang
>masyarakatnya bisa menyamai kadar religiusitas masyarakat Bali? Di sini
>gotong royong tidak sebatas slogan tetapi betul-betul dilaksanakan dengan
>"mebanjar" dan dalam kegiatan2 lainnya.
>
>         Satu lagi yang juga ingin saya tekankan, orang Bali juga santun 
>dalam berlalulintas. Dan itu adalah IBADAH yang sebenarnya.
>
>         Coba anda kunjungi Medan, Makassar, Palembang, yang mayoritas
>adalah muslim, dan coba anda berkendara di sana: cacian, makian,
>ketidaksabaran, saling serobot, ngotot, melotot, tidak mau memberi jalan, 
>tidak berhenti untuk mempersilahkan meskipun yang menyeberang jalan adalah
>anak2, wanita hamil atau lansia, menerobos lampu merah; adalah pemandangan
>sehari-hari di sana. Dan mereka mengaku sebagai masyarakat muslim yang 
>religius, yang rajin melakukan IBADAH "ritual", tetapi di jalan raya
>perilaku mereka seperti orang yang tidak beragama; mudah emosi, mencabut
>pisau dan badik jika tersinggung sedikit saja. IBADAH mereka hanya berhenti 
>sebatas pada ritual agama (shalat, puasa,dll) tetapi tidak IBADAH dalam
>keseharian.
>
>         Sementara di Bali, nyaris tidak ada orang melotot, mencaci, cabut
>senjata tajam kalau tersinggung, menyerobot lampu merah, dll. Anda tidak 
>akan pernah mengalami hal ini di Bali.
>
>         Jadi mana yang lebih BERIBADAH???  Mana yang lebih religius???
>
>         Sdr. Fauzan yang terhormat, kalau pariwisata di Bali menjadi
>primadona dengan segala konsekwensi baik dan buruknya, bukan berarti 
>masyarakat Bali tidak religius. Bangsa Indonesia selalu mengaku bangsa yang
>religius, tetapi lihat tingkat korupsinya, selalu nomor wahid di dunia.
>Kalau ada bangsa lain, setelah melihat tingkat korupsi di Indonesia, melihat
>
>perilaku aparatnya yang suka menilep duit negara, memeras rakyat,
>mengkomersilkan jabatan (hal-hal yang jarang anda temui di negara maju, yang
>sayangnya negara seperti ini biasanya bukan negara yang banyak penduduk 
>muslimnya), lantas menuduh Indonesia sebagai bangsa yang bejat moral, dan
>tidak religius, anda pasti tersinggung kan?
>
>         Faktanya di Bali, korupsi dan tingkat kriminalitas nyaris nol.
>Kalaupun ada yang melakukan kriminal, umumnya pendatang dari Jawa. 
>
>         > 2. Logika budaya untuk menolak RUU APP sama
>
>         > sekali tidak berdasarkan fakta sosiologis dan
>
>         > filosofis, mengingat pakaian adat Bali relatif
>
>         > menutup aurat (tidak telanjang). Bahkan 
>
>         > patung-patung di sana pun diberi kain penutup.
>
>         Pengertian aurat seyogyanya tidak dibicarakan dalam ranah agama,
>melainkan harus masuk dalam ranah budaya. Bahkan dalam Islam pun 4 mahzab 
>yaitu mahzab Imam Hambali, Ghazali, Syafei dan Maliki berbeda-beda dalam
>mendefinisikan batas aurat. Lantas yang dimaksud aurat ini hendak mengacu
>pada mahzab mana?
>
>         Saya ingin tanya, mengapa Tuhan menciptakan wanita, dengan segala 
>keindahannya, dengan payudara, pinggul, leher, pantat yang luar biasa
>indahnya.
>
>         Mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang begitu indah ini?
>
>         Kalau lantas banyak laki-laki yang tergiur dengan keindahan itu, 
>apakah itu salah wanita?? Sehingga harus ditutup serapat2nya dan hanya
>terlihat bola matanya saja.
>
>         Laki-laki yang tidak dapat menahan nafsu, kenapa lantas wanita
>yang disalahkan.?
>
>         Kalau anda bercermin, kemudian melihat muka anda buruk, ya jangan 
>lantas cerminnya yang dirusak.
>
>         Kalau anda birahi karena melihat tubuh wanita di tempat umum, ya
>jangan wanitanya yang disalahkan. Salahkan diri anda sendiri karena tidak
>dapat menahan birahi.
>
>         Mengenai patung, ada baiknya anda meneliti kembali seni patung di
>Indonesia mulai dari jaman baheula sampai sekarang....lihat apa yang ada di
>sana. Lihat konsep lingga dan yoni yang banyak terdapat pada seni patung 
>atau relief di Indonesia.
>
>         Atau coba anda datang ke Bali, bermukimlah selama sebulan atau 2
>bulan, pelajari kultur masyarakat Hindu Bali, dan baru anda bicara tentang
>fakta sosiologis dan filosopis. 
>
>
>         > 3. Ancaman Gubernur dan masyarakat Bali untuk
>
>         > memisahkan diri dari NKRI merupakan bentuk tirani
>
>         > minoritas dan arogansi yang bernuansa SARA serta 
>
>         > ancaman perang terhadap kedaulatan NKRI, di samping melecehkan
>
>         > penduduk mayoritas muslim.
>
>         Masyarakat Bali adalah masyarakat yang toleran, ramah, terbuka, 
>tidak berprasangka buruk, santun, menjaga keseimbangan dalam keseharian
>antara kehidupan adat, agama, dan personal. Pariwisata dan banyaknya
>pendatang yang ingin mengais rejeki di "Pulau yang Diberkati" ini tidak 
>menjadikan kultur Bali tergerus oleh semua itu. Ratusan tahun berlalu,
>mereka tetap teguh dan kukuh menjaga warisan budaya dan jati dirinya serta
>dalam menjalankan ritual adat dan agamanya. Sementara di daerah lain, banyak
>
>yang sudah tidak mempunyai identitas dan kehilangan jati diri.
>
>         Dengan segala keistimewaan yang mereka miliki, masyarakat Bali
>TIDAK PERNAH MEMAKSAKAN KEHENDAK pada NKRI. Mereka tidak rewel seperti Aceh 
>atau Papua.
>
>         Sdr Fauzan salah menterjemahkan arti "tirani minoritas" di sini.
>Pernahkan Bali menjadi tiran? Anda tahu artinya tiran?
>
>         Saddam Husein dan Partai Baathnya adalah kaum Sunni dan mereka 
>minoritas di Irak dibandingkan dengan kaum Syiah. Syiah 65% di Irak,
>sementara kaum Sunni, Kristen, suku Kurdi dan lainnya hanya 35%. Tetapi
>Saddam yang berasal dari kaum minoritas Sunni memerintah dgn tangan besi. 
>Itu artinya tirani minoritas.
>
>         Apa yang dilakukan oleh masyarakat Bali bukanlah tirani minoritas
>atau bentuk arogansi. Mereka hanya mempertanyakan serta memperjuangkan hak
>hidup mereka dari pariwisata, karena apabila RUU ini menjadi UU dan 
>dilaksanakan, maka habis sudah Bali. Tidak akan ada pariwisata, karena
>banyak hal yang dapat dilakukan oleh turis selama ini, hal yang sederhana
>saja; misalnya memakai bikini di pantai, akan dilarang karena bertentangan 
>dengan UU ini. Kalau sdh begini, apakah masih ada wisman yg tertarik datang
>ke Bali??? Kemudian kalau tidak ada turis yg datang, siapa yang terkena
>dampak langsung? Orang Jakarta seperti anda atau orang Bali??
>
>         Bali merana karena bom pertama 12 Oktober 2002, kemudian bom kedua
>1 Oktober 2005, dan sekarang apa yang akan terjadi bila RUU ini menjadi UU
>dan dipaksakan dilaksanakan di Bali??
>
>         Artinya, DPR dan Pemerintah sedang menggali kuburan untuk 
>masyarakat Bali.
>
>         Bila anda datang ke sini dan melihat efek domino dari bom Oktober
>2005, mungkin anda akan berpikir dua kali untuk menulis "Jika TNI dan bla
>bla bla bla", yang nadanya berisi ancaman. 
>
>         Dalam Islam, tidak dibenarkan untuk mengancam dan mendzalimi pihak
>lain. Masyarakat Bali sudah 2 kali didzalimi oleh bom yang kebetulan
>diledakkan oleh orang yg beragama Islam.
>
>         Apakah mereka langsung menyalahkan Islam? Apakah mereka balas 
>dendam terhadap orang2 Islam yg ada di Bali? Tidak sama sekali. Mereka tetap
>lah ramah, toleran, dan terbuka pada siapa saja.
>
>         Mereka tidak pernah melecehkan penduduk muslim.
>
>         Sedangkan kalau ada salah satu unsur Islam didzalimi umpamanya, 
>apa yang akan terjadi? Pengerahan massa, sikat, hantam, ancaman,
>demonstrasi, merusak dan tindakan anarkis lainnya yang akan anda lakukan
>bersama kelompok anda, persis seperti ancaman anda di nomor tiga di bawah 
>ini.
>
>         Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Pro kontra terhadap
>sesuatu adalah hal yang normal. Argumentasi terhadap pandangan individu atau
>kelompok lain seyogyanya dilandasi dengan alasan yang jelas, masuk akal dan 
>logika, tidak menyederhanakan masalah, tidak membabi buta, tidak
>mengedepankan emosi dan angkara murka, serta ancaman seperti yang tercantum
>dalam somasi anda.
>
>         Jangan lantas menganggap orang yang kontra terhadap RUU APP ini 
>sebagai orang yang tidak bermoral, tidak berakhlak atau tidak beragama (itu
>namanya emosional), hanya karena anda tidak mempunyai argumentasi yang masuk
>akal untuk membenarkan pendapat anda.
>
>         Cari dalil-dalil yang tepat, kuat, dan masuk akal dari semua sudut 
>pandang baik sudut pandang adat, budaya, etika, norma, agama,
>ketatanegaraan, dll; agar orang yang kontra RUU APP ini juga bisa menghargai
>pendapat anda yang pro RUU APP.
>
>         Jangan menuding, melotot, meng"SETAN"kan orang lain, menganggap 
>hanya diri sendiri dan kelompoknya yang benar, suci dan bermoral, dan
>karenanya pantas masuk Surga.
>
>         Coba anda lihat mereka yang keberatan dengan RUU APP ini: DR.
>Gadis Arivia, DR. Moeslim Abdurrahman, DR. Meutia Farida Hatta yg Menteri 
>Negara Pemberdayaan Perempuan, Gus Dur dan Istri, Akbar Tanjung, Megawati,
>salah seorang Doktor dan Guru Besar Filsafat Islam di Sekolah Tinggi Islam,
>WS Rendra, Garin Nugroho, serta para budayawan, negarawan, dan cerdik 
>cendekiawan yang umumnya Muslim yang taat, berpendidikan tinggi sampai S3,
>mereka mengemukakan argumen dengan kepala dingin, sejuk, masuk akal &
>logika, dan mengambil persfektif yg luas untuk menguatkan pandangannya. 
>
>         Sementara yang saya lihat dan dengar dari mereka yang pro RUU APP
>ini kebanyakan seperti anda sikap & perilakunya, yaitu: emosi, melotot,
>marah, siap menghunus pedang, mencap pihak yang kontra RUU APP tidak 
>beragama, mengancam, menyederhanakan masalah, mengerahkan massa, menciptakan
>rasa takut, tetapi tidak memberi dalil yang kuat untuk membenarkan pendapat
>anda.
>
>         Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Tidak selayaknya kita menggunakan 
>namaNya agar dapat "menghantam" pihak lain yang kita anggap berseberangan.
>
>         Naudzubillah min zalik.
>
>
>         > Mencermati pernyataan tersebut maka:
>
>         > 1. Kami mendesak Pemerintah cq TNI untuk 
>
>         > segera bertindak tegas terhadap anasir disintegrasi
>
>         > yang nampak jelas dengan memanfaatkan momentumn
>
>         > penolakan terhadap RUU APP.
>
>         >
>
>         > 2. Jika pemerintah SBY-JK membiarkan ancaman
>
>         > Gubernur Bali tersebut berarti pemerintah secara
>
>         > langsung maupun tidak, telah merestui separatisme di
>
>         > wilayah hukum NKRI, sehingga pemerintahannya 
>
>         > merupakan pemerintahan subversif, anti NKRI, dan
>
>         > menyulut konflik SARA.
>
>         >
>
>         > 3. Jika TNI tidak sanggup menanggulangi dan
>
>         > menghentikan sikap arogansi dan anasir separatisme 
>
>         > tersebut, maka Majelis Mujahidin bersama institusi
>
>         > Islam lainnya siap untuk menyelesaikannya.
>
>         >
>
>         > Ya Allah, saksikanlah, kami telah menyampaikan, 
>
>         > Allahu Akbar!
>
>         >
>
>         > Jakarta, 12 Maret 2006
>
>         >
>
>         > Drs. Fauzan Al-Anshari, MM
>
>         > Ketua (HP.0811-100138)
>
>         >
>
>         >
>
>         >
>
>         > Reja Pahlawan Kusuma Bangsa
>
>         >
>
>         > E-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>         > Weblog: http://indonebia.blogspot.com


Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/curhat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke