|
Aa Gunnnnn
mau dong Yahoo mesangernya kalo ada
hehehhe
kagummmmm
buzz me yah [EMAIL PROTECTED]
----- Original Message -----
Sent: Thursday, April 06, 2006 2:07
PM
Subject: Re: [CuRhAt] FW: Membebaskan
Diri dari Obsesi Menikah
Kalau menurut saya, ada beberapa hal yang harus diluruskan.
Terutama soal "target" dan "jangan jadikan menikah sebagai
tujuan hidup" . Karena pemikiran seperti ini seringkali menyesatkan.
Pendapat saya begini.
1. Hidup harus ada planning dan target.
Tanpa ada planning dan target, berarti kita merencanakan untuk gagal. Bukan
masalah target yang harus tercapai, tapi usaha maksimal dan pantang menyerah
untuk mencapai target itulah yang penting.
2. Mau tidak mau, menikah
itu adalah kebutuhan mendasar. Dan secara naluriah manusia memiliki keinginan
untuk menikah serta memiliki keturunan. Orang yang tak punya keinginan dan
naluri tersebut, berarti hatinya sudah mati, atau sudah diracuni oleh
pemikiran2 yang menyesatkan tentang pernikahan.
3. Kecemasan dan pola
pikir negatif tentang pernikahan bisa menyebabkan kegagalan di masa mendatang.
Sekali lagi ini adalah tentang "YOU ARE WHAT YOU THINK". Kekuatan pikiran
dapat mempengaruhi kehidupan. Jadi kalau ada orang yang takut menikah, ini
bisa disebabkan mereka hanya mendengarkan cerita2 negatif tentang pernikahan,
tapi tak mau membuka diri untuk mendengarkan cerita2 indah tentang pernikahan
dari pasangan yang sakinah. Karena itu sering2lah bertanya pada mereka yang
sudah berumah tangga puluhan tahun, dengarkan cerita mereka, dan tips2 mereka
untuk menjaga keindahan pernikahan.
4. Kalau saya amati, kebanyakan
teman2 saya takut menikah karena dua alasan. Pertama, pertimbangan masalah
ekonomi. Takut tidak mampu membiayai anak dan sekolahnya dengan pertimbangan
biaya hidup yang semakin tinggi dll. Menikah adalah ibadah. Artinya itu
perintah Tuhan. Jika pernikahan itu membuat sengsara, apa mungkin Tuhan
menyuruh kita sengsara dengan cara menikah ? apakah dengan menikah kita akan
mati ? kekurangan rezeki ? lihat saja, tukang2 becak, tukang sayur, bahkan
pemulung yang menikah, apakah mereka mati setelah menikah ? lalu bagaimana
dengan rezeki mereka ? mereka tetap saja punya rezeki karena itu sudah diatur
oleh Yang Maha Kuasa. Nah, apalagi kalau kita adalah karyawan kantoran atau
orang2 yang punya taraf hidup lebih baik dari mereka, kenapa kita takut untuk
menikah. Bahkan binatang pun sudah diberikan rezeki masing2. Kalau kita sudah
berburuk sangka pada Sang Maha Pencipta karena takut kekurangan rezeki,
bagaimana kita mau dapat rezeki ? 5. Kedua, orang takut menikah
dengan pertimbangan takut dapat pasangan yang salah. Ketakutan seperti ini
akan membuat kita was-was, terlalu memilih2, banyak pertimbangan ini itu, dan
akhirnya ada sedikit kekurangan saja akan membuat calon pasangan itu tersisih
dari pilihan kita. Jadi tak ada alasan kita mengatakan "Tuhan belum memberikan
jodoh buat saya", kalau usaha kita tidak maksimal dan terlalu banyak pilih2.
Seperti yang pernah saya utarakan sebelumnya, sebelum hidup satu atap, kita
tak akan pernah benar2 tahu siapa pasangan kita. Lamanya masa pacaran dan masa
pengenalan bukan jaminan keutuhan rumah tangga di kemudian hari. Banyak orang
yang mengaku sudah kenal betul dengan pasangannya selama pacaran, tapi itu
semua tak lebih dari kulitnya. Karena masalah selama pacaran dan selama
berumah tangga itu jauh berbeda, bukan hanya masalah romantisme semata.
Perkenalan sebenarnya adalah pada saat pernikahan. Selain itu, manusia bisa
berubah karena keadaan. Termasuk karena menikah. Sifat yang dulunya negatif,
bisa hilang karena menikah. Contoh, ada teman saya yang sebelum menikah sudah
berpikir bahwa punya anak itu merepotkan karena bayi suka nangis tengah malam,
ngompol, dsb. Dia sudah merencanakan kalau nanti punya anak, dia akan serahkan
sepenuhnya pada istrinya untuk mengurus anaknya. Tapi kenyataannya, begitu dia
punya anak, ternyata dialah yang paling menyayanginya. Begitu sang anak
terbangun dan menangis di tengah malam, dia ikut bangun bersama istrinya dan
sama2 membelainya dan menenangkannya sampai sang anak tertidur lagi. Kalau
sianak ngompol atau buang air besar, justru dialah yang mencebokinya. Dan
sekarang dia bilang "ternyata ada kenikmatan sendiri mengurus anak ya".
6. Kadang manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya
mereka inginkan. Teman saya mendambakan calon istri yang cantik, minimal D3,
punya pekerjaan tetap, dll obsesi yang berlebihan. Kenyataannya ? istrinya
berwajah biasa2, cuma lulusan SMA dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Tapi
ternyata teman saya mendapatkan kedamaian hati dari istrinya ini, bahkan karir
teman saya malah meningkat setelah menikah. Artinya apa yang menurut kita
baik, belum tentu baik untuk kita, demikian pula sebaliknya, yang buruk
menurut kita belum tentu buruk untuk kita.
7. Kalau belum dapat
pasangan, sabar saja tidak cukup. Sabar bukan berarti diam menunggu, tapi
harus pro-aktif. Kalau anda ingin punya uang, apakah anda akan menunggu uang
jatuh dari langit? tentu tidak kan ? karena itu carilah sampai dapat.
8. Bukan berarti tidak boleh memilih2 pasangan. Tapi kita harus
realistis dengan melihat siapa diri kita dulu sebelum menilai orang lain. Sah2
saja menginginkan pasangan yang serba "Lebih" dari kita. Tapi ada kalanya kita
harus berjuang bersama pasangan untuk mendapatkan "kelebihan" itu. Karena itu
sepanjang yang saya tahu, ada dua faktor yang menentukan tingkat kesulitan
pencarian jodoh. Pertama masalah kriteria, dan kedua masalah tempat
pencariannya. Semakin kita mempermudah kriterianya, semakin mudah pula kita
mendapatkannya. Jadi untuk yang kesulitan mencari jodoh, cobalah tentukan
kriterianya dulu. Seperti apa orang yang kita inginkan, dan apa yang ingin
didapatkan dari orang tersebut. Misalnya pengen punya pasangan yang bodynya
atletis. Setelah itu barulah tentukan tempatnya, di fitness centre misalnya.
Mencari pasangan melalui komunitas relatif jauh lebih mudah daripada mencari
pasangan di jalan raya :) Tapi sekali lagi, kriteria akan menentukan
hasil yang kita dapatkan. Kalau kita hanya menginginkan, kecantikan,
ketampanan, atau kekayaan dari pasangan kita, maka kemungkinan besar hanya
itulah yang akan kita dapatkan. Belum tentu akan memuaskan keinginan kita yang
lain. Misalnya kalau menikah karena "uang" maka mungkin hanya uanglah yang
didapat, tapi tidak ada kasih sayang dan kebahagiaan pernikahan lainnya.
Hanya sekedar pendapat, maaf kalau ada yang salah. Kalau ada yang mau
mengkritik, menambahkan atau mengkoreksi, saya
persilahkan.
Brgds Gun
On 4/5/06, Retny
<[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Membebaskan
Diri dari Obsesi
Menikah > > > Setelah
menyelesaikan kuliah S2 nya di Australia, Becky (29) > memutuskan
untuk bekerja di Indonesia dan melanjutkan salah satu "tujuan >
hidupnya" yaitu mencari suami. Namun pencariannya ternyata tidak
mudah, > akhirnya ia menerima cinta teman sekantornya meski sebenarnya
tidak ada > kecocokan di antara mereka. Tidak mengherankan kalau
hubungan mereka > dipenuhi pertengkaran, tapi Becky tetap bertahan
sambil berharap > kekasihnya itu segera melamar. Sang kekasih akhirnya
melamar, tapi bukan > ke Becky, melainkan wanita lain yang selama ini
juga dikencaninya.
> > > > >
Mungkin kita akan bertanya-tanya, mengapa seorang wanita >
berpendidikan tinggi seperti Becky melakukan hal bodoh dengan >
menghabiskan waktu dengan seseorang yang salah. Masih banyak Becky lain
> di sekitar kita, meski dunia semakin canggih, tetap saja menikah
masih > menjadi tujuan hidup banyak perempuan. Sebenarnya
apa yang menjadi > motivasi orang-orang yang terobsesi untuk menikah ?
yuk, simak uraian > berikut
: > > 1. Sindrom "Butuh
Pria" > > Banyak wanita
berusia pertengahan dua puluhan yang merasa hubungan > dengan pacarnya
tidak seperti yang didambakan. Tapi banyak dari mereka > memutuskan
tetap menikah dengan pasangannya karena merasa tidak bisa > hidup
tanpa pria. Akibatnya terjadi semacam shock di awal pernikahan. >
Menurut Mary Jo Fay, konsultan di situs helpfromsurvivor.com, jika
Anda > memiliki sindrom "butuh pria", ingatlah bahwa orangtua Anda
telah > mengurus Anda dengan baik, berpikirlah dua kali karena berada
di bawah > "asuhan" pasangan yang sebenarnya tidak cocok hanya akan
membawa Anda > dalam hubungan yang tidak
sehat. > > 2. Target
hidup > > Biasanya perempuan
selalu menetapkan target pencapaian berdasarkan > umur, dan dibuat
sangat spesifik. Misalnya menikah di usia 23, punya > anak paling
lambat 25 tahun. Menurut penelitian yang dilakukan oleh >
beberapa psikolog, sebenarnya perempuan, sama halnya dengan pria
juga > takut untuk berkomitmen, tetapi "target-target" tadi menekan
mereka. > Semakin dewasa dan makin luasnya wawasan, biasanya mereka
akan melupakan > target tadi. Bukankah lebih baik menunda pernikahan
daripada > terperangkap dengan orang yang salah
? > > 3. Tik Tok
> > Jam biologis masih
menjadi salah satu faktor mengapa banyak > perempuan muda memutuskan
cepat menikah. Ketika seorang wanita menjalin > hubungan dengan
seorang pria, yang mereka inginkan adalah sebuah > hubungan yang
serius, dalam arti dilanjutkan ke jenjang pernikahan. > Terlebih jika
usia sudah masuk kepala tiga, bayangan menggendong bayi > sudah
menari-nari di kepala. > >
4. Lingkungan dan Keluarga
> > Hidup dalam
masyarakat yang ikatan kekeluargaannya masih kuat > seperti
di Indonesia tidak selalu enak. Salah satunya adalah tuntutan > dan
desakan dari keluarga besar jika ada salah satu anggota keluarga >
yang belum menikah. Ada sebagian keluarga yang menggangap bercerai
masih > lebih baik "ketimbang" tidak menikah sama sekali. Usia 30
tahun adalah > angka keramat, jika sampai usia tersebut perempuan
belum menikah dan > tidak ada tanda-tanda menjalin hubungan serius,
orang akan berpikir > apakah ada yang
salah. > > 5.
Uang > > Desakan ekonomi
ternyata menjadi salah satu alasan sebagian > perempuan untuk menikah.
Memiliki suami kaya raya, hidup enak tanpa > perlu bekerja keras masih
menjadi impian. Banyak pula yang akhirnya > bercerai ketika usia
perkawinan mereka belum berjalan 5 tahun. Pati > (35)seorang ibu
satu anak dan sudah bercerai di usia 29 tahun, membagi >
pengalamannya : "meski mantan suami saya berasal dari keluarga kaya, >
tetapi sejak tahun lalu ia berhenti memberi tunjangan pada anak kami.
> Sekarang saya melanjutkan kuliah dan bekerja keras membesarkan
anak > saya, kelak ketika ia akan menikah saya akan memastikan ia
menikah > karena cinta, bukan
uang". > > Membuat deadline
kapan menikah > >
Do's > >
Realistis > > Membuat
deadline kapan kita akan menikah sah-sah saja, tergantung > apa
motivasi yang melatar belakanginya. Dengan adanya deadline kita akan
> bekerja keras untuk mencapai tujuan, asalkan bukan menikah hanya
untuk > melengkapi
tujuan > > Tahu apa yang
dicari > > Tanyalah pada
diri sendiri ; bagaimana kita ingin menjalani hidup > ? dengan siapa
? di mana ? setelah semua pertanyaan itu terjawab, siapa > tahu Anda
akan sadar kalau selama ini hanya membuang waktu karena > berhubungan
dengan orang yang salah. > >
Hargai target pasangan > >
Jika sekarang Anda sudah menemukan Mr.Right tetapi ia belum ingin >
menikah, bersabarlah. Kita tentu tahu kalau pria biasanya takut >
berkomitmen, bukan berarti si dia tak ingin serius, bisa jadi itu karena
> ia sedang menikmati masa-masa berpacaran. Kebanyakan wanita
merasa > dikejar deadline dan takut tidak jadi menikah dengan
pasangannya, justru > yang sebenarnya adalah jika kita terlalu menekan
bisa-bisa si dia kabur > ketakutan. Pernikahan bisa terjadi jika dua
belah pihak sudah siap bukan >
? > >
DON'T... > > Menikah menjadi
tujuan hidup > > Lebih baik
menunda atau bahkan menolak lamaran jika hati kecil > kita mengatakan
tidak, daripada menghabiskan hidup tanpa rasa bahagia. > Masih ingat
kisah Becky di atas bukan ? karena obsesinya untuk menikah > ia jadi
"gelap mata" dengan menjalin hubungan dengan pria yang salah.
> > Semua dijadikan
beban > > Mari kita andaikan
deadline Anda telah lewat dan Anda masih juga > melajang. Atau
misalnya Anda telah menjalin hubungan dengan seorang pria > yang baik
tetapi he's not the one, dan Anda merasa kesal karena merasa >
membuang waktu dengannya. Sebenarnya tidak ada yang sia-sia, jadikan >
pengalaman itu sebagai pelajaran. Itu yang disebut dewasa. Tidak
ada > yang bisa menggantikan pengalaman hidup dari kesalahan yang
pernah kita > buat, karena dari situ kita justru bisa memilih orang
yang lebih baik. > > Lupa
bersyukur > > Seringkali
kita jadi kecewa dan merasa jadi orang yang paling > berbahagia dan
hidupnya tidak lengkap karena masih melajang. Kita jadi > lupa kalau
kita dikelilingi orang-orang yang sayang dan perhatian ; > keluarga,
sahabat, teman-teman. Ibarat pepatah, karena nila setitik > rusak susu
sebelangga. > > Wanita yang
percaya bahwa dirinya tetap manusia yang utuh tanpa > pria, tetapi
juga menikmati hidup dan membaginya dengan pria telah > terbukti
memiliki perasaan yang kuat dan biasanya memiliki hubungan yang >
sehat dan menyenangkan dengan pasangannya. Dan wanita-wanita
dalam > golongan ini sudah merdeka dari tuntutan
deadline. Biarkan semua > mengalir dengan wajar, tak ada
yang perlu dikejar. Selama kita tetap > membuka diri untuk bertemu
banyak orang, seseorang yang istimewa akan > datang pada saat yang
tepat.
(An/Ivillage) > > > > >
Milis
Curhat The Friendliest Way ... [email protected]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on
the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/curhat/
<*>
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*>
Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
--
***
Too Mei Li Too Dangerous ***
Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|