All,
Just to share. Sumber: Tempo, 9 April 2006. Hlm 36

Salam/Kind regards/Mit freundlichen Grüßen/Mes salutations,



Empat Agama dalam Satu Atap



Bukan masjid, tidak pula gereja. Sebuah bangunan di Yogyakarta bisa dipakai untuk ibadah semua agama.

Azan menggema dari masjid diluar Balai Budaya Puskat, Yogyakarta. Achmad, 32 tahun, seorang karyawan di sana, bergegas mengganti sepatunya dengan sandal. Dengan menenteng sejadah, dia menyusuri jalan setapak menuju sebuah bangunan yang masih berada dalam kompleks Balai Budaya. Bangunan itu ternaungi rumpunan bambu. Achmad menuju pancuran wudu. Tak lama, dia sudah khusyuk menghadap Tuhan.

Bangunan berbentuk bujur sangkar tempat Achmad memanjatkan doa itu beratap kerucut mirip joglo. Orang yang baru pertama kali datang ke sana mungkin akan kebingungan. Di dinding sebelah barat terdapat kaligrafi Arab dengan terjemahan "Dan Allah Tidak Menyukai Kebinasaan". Mirip masjid. Tapi coba tengok dinding sebelah selatan, ada gambar burung merpati dan kalimat "Pandanglah Burung-Burung di Langit". Kali ini tanpa kaligrafi, dan hiasan itu lebih pas terpasang di gereja. Lho?

Tunggu, masih ada dua sisi dinding lagi. Di dinding bagian utara terdapat gambar swastika simbol agama Hindu dengan tulisan "Aku Hidupi Semua Tumbuh-Tumbuhan". Satu lagi, dinding timur tercatat sebaris tulisan "Biarlah Setiap Mahluk Bersorak-sorai", menujukkan tempat ibadah agama Budha. Simbol dan kalimat bijak yang berbeda-beda itu memang hanya ada di bagian tengah keempat dinding. Selebihnya dipenuhi gambar sekumpulan pohon bamboo dengan dedaunan menjuntai. Pucuknya menjalar sampai langit-langit, semakin ke atas warna hijaunya semakin pudar.

"Daun bambu yang memudar dan menyatu diatas itu menggambarkan Tuhan kita satu," kata Romo Y.I. Iswarahadi, Direktur Studio Audio Puskat Kateketik (Puskat) Yogyakarta.

Bangunan tempat Achmad menjalankan salat itu memang dirancang khusus sebagai tempat ibadah. Semua pemeluk agama - tak terbatas empat agama yang tergambar di dinding - bisa memakainya untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Menurut Iswara, filosofinya,  "Diatas sana tidak ada sekat, meski di sini kita memuja-Nya dengan cara yang berbeda-beda."

Keempat dinding rumah ibadah itu memiliki panjang yang sama, delapan meter. "Siapa pun boleh berdoa di sini," kata Iswarahadi. Lukisan bambu sengaja dibuat karena lokasinya memang berada di antara hutan bambu. Jaraknya sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Yogya menuju obyek wisata Kaliurang. Tempat ibadah ini dibuat menyatu dengan alam, karena alam menjadi bagian dari doa. Kalimat bijak yang dipakai dikumpulkan dari pimpinan berbagai agama. Ternyata tiap agama punya ayat yang berkaitan dengan lingkungan.

Bangunan itu unik memang. Saat pimpinan agama bersitegang membuat aturan main pembangunan rumah ibadah, di sini aturan itu tak berlaku. Aturan itu dituangkan dalam peraturann bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, yang ditetapkan pada Selasa dua pekan lalu. Karena masih dianggap kurang adil, hingga sekarang peraturan itu masih dikecam (lihat Suara Protes Masih Terdengar).

Gagasan pendirian tempat ibadah bersama datang dari Pastor Dr. Ruedi Hofmann, SJ dan Gijzelaar yang berasal dari Swiss, sepuluh tahun lalu. Keduanya kini berada di Dili, Timor Timur. Mereka sekaligus arsitek seluruh bangunan di lahan seluas 3,3 hektare itu. Tujuh jenis pohon bambu tumbuh subur di areal yang terletak di tepi Sungai Boyong itu, menaungi bangunan, beberapa cottage, rumah panggung yang disewakan untuk berbagai acara.

Pembangunan rumah ibadah itu diilhami perintah Yesus untuk mengasihi sesama. Menurut Iswarahadi, Yesus selalu membuka diri terhadap orang di luar kelompok Yahudi. "Beliau bahkan sering memberikan contoh orang beriman dari golongan lain," katanya. Dengan landasan teologis itu, Romo Ruedi menganggap pentingnya bergaul dengan penganut agama lain di luar agama yang dianut.

Awalnya berbagai kecaman muncul. "Protes keras justru datang dari agama kami (Katolik) sendiri," kata Iswarahadi. Mereka mempertanyakan gambar yang dipilih burung merpati, bukannya Salib. Orang-orang Katolik juga mempertanyakan mengapa mendirikan tempat ibadah untuk orang bukan Katolik.

Sementara kaum muslim mensyaratkan tidak boleh ada gambar, tapi harus ada kaligrafi. Mereka pun menghindari gambar yang mengandung unsur pemujaan. "Setelah banyak orang menerima dan melakukan ibadah di sini, lama-lama ya tidak apa-apa," kata Iswarahadi.

Tokoh agama yang pernah melakukan ibadah dan mengadakan lokakarya antar-agama di tempat itu antara lain Prof. Abdil Munir Mulkan, Th.Sumartana (alm), Gedong Bagoes Oka, Bikhu Panyavaro dari Mendut, juga sejumlah Uskup. Andai kata bangunan serupa didirikan di banyak tempat, mungkin rebut mempersoalkan izin pendirian tempat ibadah tidak akan muncul.



Agung Rulianto, L.N. Idayanie (Yogyakarta)







New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.


Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]





SPONSORED LINKS
Bali indonesia hotel Bali indonesia Indonesia hotel
Romance relationship Bali indonesia vacation Bali indonesia travel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke