Tengkyu yach...
ratieh_cantik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Keindahan senja kian memancar di bias sang hari dan termangu
seorang wanita ayu disisi teras rumah. Wajah ayu terpancar bersama
sinar mata yang luruh dan mengandung arti yang tak jelas apakah arti
kebahagiaan atau kenestapaan,lama termangu wanita itu tanpa tersadar
air mata menetes dipipi merah,ada apa gerangan? Ia makin terhanyut
dengan perasaan. Air mata itu jatuh bagai sebuah kristal yg sangat
berharga,heningnya senja kian merasuk dingin,angin malam kian
menerpa wanita itu bergerak meraih sebuah buku yg tersampul indah
serta ia angkat pena lalu mulai menulis buku yg ternyata itu adalah
buku harian sang wanita ayu itu.
"Sunyi sepi dan sendiri mengais asa dari lubang kehidupan
tembok yg kokoh kini hanya lukisan rapuh yg menggambarkan sarang
laba-laba hitam yg berwarnakan kehidupan,bercakan air mata dan kuas
penderitaan. Hari mulai senyap embun pengharapan kian turun titik-
titik gerimis kian jelas terlihat menatap jauh semu cermin sang jati
diri. Kaku tuk ucapkan rahasia hati menatap jingga dalam pelaminan
nestapa,mengayuhkan sampan pada titik keabadiaan merataptangis
menyayat berbelok ragu pada kenyataan,kenyataan yg belum pernah
teraih. Kerinduan yg menggumpal bagai penyakit yg menjalar pada
tubuh". Terhenti sejenak jari jemari yg halus itu tuk menuliskan
kata-kata,air mata itu terus mengalir deras. Dengan pandangan kosong
dan hampa,wanita itu mencoba menghela nafas panjang karena mungkin
penderitaan yg dia alami sangat begitu berat,lalu ia melanjutkan
kembali. "Mungkin ini mimpi atau hayal semata,sekejap kerlip bintang
diangkasa sepi tergayut pada senandung rindu,ingin kukalahkan waktu
karna sepiku. Senandung cinta berhembus lembut ditelingaku. Lirik-
lirik syair hymne dari kehidupan aku semakin terhempas dari sudut
kebahagiaan yg berselimut kegelapan. Suka duka itu bagian dari hidup
cinta,sayang adalah topeng dari kemunafikan,rindu bagaikan ujung
pedang yg tajam jika dia hadir menyelimuti hati. Ia mampu merobek
sukma yang sedang bimbang, langkah tertati mengayun selangkah
terhenti. Aku tersentak melihat lukisan diri dalam angan tampak
lusuh memelas meminta kasih walau cinta kan mati berujung pada
penantian dalam altar-altar kesunyian. Ingin ku terbang melayang
merengku sang bulan, berjalan melenggok di atas awan bersalibkan
pelangi dan cahaya pagi. Lonceng-lonceng tergetar oleh tangisku,
daun-daun gugur satu-persatu mengering, kuning dan mongering sehelai
demi sehelai. Kusibak tirai duka lalu ku terbangun dari tidur
malamku".
Terdiam tanpa suara sang wanita yang tampak lusuh
hatinya,kehidupan yang memang keras dan sulit menemukan titik temu
dari perjalanan-perjalanan. Mengertikah kau wahai perempuan-
perempuan yang selalu terbungkus kemewahan dan terbungkus kain sutra
tanpa cacat sedikitpun.
"Aku bukan manusia yang seberuntung wanita sekarang yang di
bungkus dengan kain sutra yang bermodalkan kehormatan, kekayaan
fisik dan materi. Aku bukanlah wanita karir yang mempunyai
pendidikan tinggi yang mempunyai segudang ilmu pengetahuan dan
teknologi, punya wawasan luas serta kepintaran dan kepribadian yang
brilian. Aku hanya orang miskin segalanya dibandingkan dengan wanita
sekarang, aku tak dilahirkan dengan baju yang indah dan rumah yang
megah yang hanya bisa menadahkan tangan kepada kedua orang tua dan
merengek meminta dibelikan ini itu yang menuruti mode sekarang".
Hari kian larut, wanita ini mengusaikan coretan hati yang
tertambat tak pernah ia ucapkan kepada siapapun. Keesokannya wanita
ini mulai menjalankan hari-harinya.
Lisma nama asli wanita ayu ini, ia seorang wanita yang bekerja
sebagai penjaga sebuah warnet yang terletak di kawasan Jakarta. Ia
seorang ibu, mempunyai kehidupan yang memang sangat kurang
beruntung. Ia harus menanggung dan memikul beban tuk keluarga. Dia
seorang wanita yang tegar yang menjalani hidup ini dengan hati yang
terbuka. Di tempat ia mencari nafkah ia menuliskan dan menceritakan
semua yang terjadi pada dirinya.
Dua puluh satu tahun sudah waktu mencatat hidupku dalam buku
semesta. Hari-hariku berlalu begitu saja tanpa ku dapatkan
kebahagiaan ini. Dari aku berumur lima tahun hingga aku berusia dua
puluh satu tahun ini aku selalu berjuang untuk hidupku. Tanpa ada
cinta yang ku dapatkan. Aku mempunyai teman dan kekasih tetapi tetap
saja aku merasa sendiri.
Jingga kau hadir dalam asa yang hitam, setitik kerinduan
menghangat dalam pundi-pundi kehidupan. Gurat-gurat penantian kian
jelas terlihat sepi, sunyi dan hampa biruku kini jingga!
Pori-pori penderitaan kian melebar merasuk dalam dinginnya
takdir. Menyentuh sukma yang beku dalam angan. Khayal yang terbang
kian jauh menatap rindu, lunglai terjatuh menujuh satu arah,
terpatri di jiwa kesengsaraan menatap nokhta dan roda hitam yang
kusam.
Pekat jingga! Kini ku terhimpit antara sadar dan tidak.
Kenyataan yang telah ku lihat saat ku hadir, tak seindah kehidupan
surgawi yang mungkin telah kurasakan saat ku masih berupa nyawa
kosong yang bukan nyawa dalam raga. Kini biru telah pergi Tuntunlah
aku jingga ke tempat terpencil yang harum akan bunga dan terhampar
padang rumput dan taman-taman surgawi, dimana terdapat kolam para
peri-peri khayangan bersorak-sorai dengan gemerciknya air kesejukan.
Yang membuka nurani pada gerbang jauh, jingga ku harap biru itu
lagi. Termaram hari kian merobek lukaku, semakin besar terkoyah
perih kulit ariku kian tipis terkikis air mata sesak hatiku.
Bagai paru-paru yang telah rentah oleh penyakit, nafasku bagai
terhimpit oleh batu-batuan besar. Jauh menatap angan di angkasa
inginku bunyikan lonceng itu agar terdengar gemanya saja. Hatiku
pilu bukan suara nyaring dari lonceng pinggir palung kelam. Aku
selalu menutup diriku jingga aku selalu memendam lukaku, aku lebih
baik menyakiti diriku sendiri karena aku tak ingin orang lain
terluka, walau dia telah melukai aku dan menyakiti aku. Aku sudah
terbiasa dengan kesendirian jingga penyiksaan batin terus
kuterima,satu demi satu terus menerjangku. Aku tersungkur
mengharapkan biruku lagi
Ketika resah ku datang gelap adanya ketidak pastian hidup selalu di
pertanyakan pekat dan pekat di sekeliling ku, hati ku bisu tuk
ucapkan merana dan tersiksanya aku semua berkata " Kau bahagia
dengan hidup mu " tersayat-sayat jiwaku menahan tangis apa yang
kalian katakana di balik derita ku! Kosong dan hampa adanya kini
mereka selalu menuntutku untuk pengertian ku mereka selalu ingin
membutuhkan ku, tapi! Mereka tak pernah tahu dan tak pernah
mendengar jerit sukma seorang INSAN.
Ku rindu hadirnya seorang dewa ku selalu berharap dia kan datang
dalam deritaku yang dapat menghibur si pesakitan ini ayun langkah
tapak mengayun dan menoleh terpaku titik cahaya terang terasa hangat
menmyentuh ragaku hadir tepat di hadapanku seorang titisan Dewa yang
aku harapkan, ku dapatkan perhatian darinya sempat reda sakitku tapi
tak bisa terus bersamanya karena dia hanya seorang titisan bukan
Dewa yang sesungguhnya.Ku tak ingin karena derita ku ia harus
merelakan masa-masa nya dan kini walau dia kan pergi aku takkan
pernah melupakannya dia yang terindah kan ku berikan satu gambar
mawar yang pernah ku lukiskan dalam hidup ku! Walau gambar itu tak
seindah lukisan dalam kalbu.Terlalu lama lisma menuliskan kata-kata
yang selama ini terpendam dalam hati yang mungkin bagai sebuah besi
karat terlalu lama terkena kikisan air hujan tanpa ada atap tuk
bernaung, lisma dia bagia seorang peri yang terbuang dari altar
surga di atas khayangan angin malam kian turun dan mega pun kian
menghitam jeruji-jeruji embun kian terikat dalam kulit ari menusuk
hati lisma dan teringat akan masa lalu.
Kira-kira sekitar 16 tahun yang lalu saat itu ia berusia sekitar 5
tahun di usia seperti itu lisma telah menjadi anak yang mandiri dia
tinggal bersama dengan bibi nya yang terletak di jawa bagian timur
tepat nya di Surabaya, dia bersekolah disana hari-hari lisma bejalan
dengan baik dan ia adalah anak yang pintar dan cerdas dia selalu
mendapat peringkat di sekolah nya tetapi tiba saat nya terjadi hal
yang tak pernah di sangka. Siang itu setelah pulang sekolah lisma
kecil merasa lelah dan dia terbaring di atas tempat tidur tanpa di
duga oleh nya pintu di buak perlahan oleh seseorang dan ternyata
seorang lelaki yang dia kenal sebagai adik sepupu dari Om nya, lisma
terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa lagi ia hanya bisa menangis dan
menahan sakit yang begitu perih hal yang tak pernah bisa dia lupakan
hal itu pun terjadi kembali di saat dia duduk di bangku sekolah
kelas 1 smea sungguh lisma tak bisa menahan tangis dan perih nya
hati.Tanpa ia sadri seorang lelaki membuka pintu Lisma tak
menghiraukannya tapi lelaki itu lama kelamaan semakin mendekat dan
berkata" Apakabar sayang?" Lisma terpaku ternyata lelaki itu kekasih
nya, bergegas lisma beranjak dari tempat duduknya memang lisma baru
menjalin kasih dengan lelaki ini yang bernama icard ia bertemu
dengan icard melalui suatu alat teknologi yaitu internet "Kamu sudah
pulang belum sayang?" Tanya icard "Belum mungkin sebentar
lagi,soalnya masieh ada kerjaan yang belum aku selesaikan". Icard
hanya terdiam sambil memperhatikan wajah lisma yang termenung tak
seperti biasanya icard berkata dalam hati " sayang keindahan mu
terpancar disaat kau merasakan kepedihan karena memang kau selalu
merasakan kepedihan itu ingin ku balut luka mu tapi mungkin aku tak
sanggup tuk itu!" sebenar nya hari ini icard ingin mengatakan
sesuatu yang entahlah sulit tuk ia ucapkan icard merasa bersalah
karena ternyata dia telah menduakan lisma,sangat indah hari-hari
yang lisma dan icard jalani tapi icard telah melakukan hal yang
salah dan akhir nya icard memberanikan diri tuk berkata " Sayang
kamu sudah kelar kerjaan nya?" "Sudah, kenapa memang nya?" "Ada yang
ingin aku bicarakan sama kamu!" "Apa?" lisma tak mengerti maksud
dari perkataan icard,lisma mendekat kearah icard "Ada apa
sayang?" "Hm gimana yah?" "Sudah ngomong aja aku enggak kenapa-
kenapa kok,aku lebih suka kamu ngomong jujur dari pada enggak sama
sekali!"
TO BE CONTINUE SAMBUNGAN NYA TAR LAGI YAH GMN NEH PENDAPAT NYA INI
ADA YANG AKU MASUKIN NEH SEBAGIAN PUSI YANG AKU BUAT DI WAKTU LALU!
sincerely,
Hadiy Sutrisnu
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]
SPONSORED LINKS
| Bali indonesia hotel | Bali indonesia | Indonesia hotel |
| Romance relationship | Bali indonesia vacation | Bali indonesia travel |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "curhat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

