Surat Terbuka Kepada Seorang Bapak Polisi Lalu Lintas
Pada hari ini, Rabu, 12 Juli 2006, pukul 7.00 pagi, di gerbang Harapan Indah, Bekasi, darah saya telah dibuat mendidih. Seperti biasa, saya naik angkot U31 untuk pergi ke kantor. Sampai dekat gerbang Harapan Indah, angkot saya berhenti dengan manisnya untuk menunggu giliran belok ke kanan menuju Jakarta. Posisi angkot ada di sebelah kiri persis di samping trotoir. Tiba-tiba saya merasakan hantaman yang sangat keras. Ternyata ada motor yang ambruk ke sisi kanan angkot. Hal itu disebabkan oleh mobil pribadi di sisi kanan angkot yang buka pintu mobil. Jadi, pintu mobil pribadi sisi kiri depan menghantam motor yang menyelinap di antara angkot saya dan mobil itu. Akibatnya motor tidak dapat ditarik keluar, karena stangnya tersangkut dengan pintu mobil pribadi yang saat itu dalam keadaan terbuka lebar. Polisi pun datang membantu mengeluarkan motor itu. Sisi bawah pintu kiri depan mobil pribadi itu penyok. Wanita yang bikin gara-gara buka pintu mobil di tengah jalan itu minta-minta maaf kepada pengendara motor, lalu meneruskan perjalanan. Polisi menempelkan badannya ke pintu supir angkot saya, "STNK-nya, Pak." "Lho? Kan saya nggak salah, Pak." "Pokoknya STNKnya sini." "Kan yang salah mobil itu. Dia yang buka pintu mobil." "Iya, pokoknya STNK-nya sini." Nada Bapak Polisi jadi keras. Sinting. Mobil pribadi warna merah yang saya sesali tidak saya catat nomor platnya itu jelas-jelas salah menurunkan penumpang di tengah jalan itu tidak dimintai STNK-nya. Motor yang menyelinap di tengah-tengah pun sebetulnya masih bisa dicari kesalahannya, tetapi dia juga dibiarkan lewat. Angkot saya yang jalan dengan manisnya malah dimintai STNK-nya. Mungkin karena angkot saya waktu itu penuh dengan ibu-ibu dan Bapak Polisi rindu mendengar suara ibu-ibu ngomel ya? Supir angkot disuruh turun dan diajak ke pos polisi. Dalam perjalanan saya tanya kepada supir angkot, "STNK-nya diambil, Pak?" "Nggak. Dikembaliin lagi." "Terus ditilang?" "Nggak cuma minta uang rokok." "Jadi, dimintai berapa?" "Dia nggak bilang sih. Cuma minta uang rokok aja, katanya." "Terus bapak kasih berapa?" "Nggak ngasih. Orang saya nggak salah. Malah ini angkot saya yang jadi robek tuh di bawah." Mungkin seandainya saat itu tidak ada kawanan ibu-ibu yang marah-marah, hati nurani Bapak akan tumpul habis dan tetap menahan STNK dari orang lemah yang tidak bersalah. Tidak habis pikir saya. Kalau mau jadi polisi itu ada tes masuknya tidak sih? Koq logika yang sangat sederhana seperti itu saja tidak sanggup dipikirkan? Siapapun juga tahu bahwa menurunkan penumpang di tengah jalan itu adalah salah. Saya juga tahu, angkot memang suka seenaknya jalan, tetapi angkot yang saya tumpangi tadi itu sama sekali tidak salah. Nama Bapak sudah saya catat. Berawalan dengan huruf S, berakhiran dengan huruf I dan terdiri dari 6 huruf. Mudah-mudahan seragam yang Bapak pakai tadi pagi bukan seragam pinjaman ya. Mudah-mudahan atasan Bapak tidak terlalu sibuk untuk mem-print surat terbuka ini dan memperlihatkannya kepada Bapak. Bapak sendiri pasti tidak punya alamat email. Wong buat beli rokok saja Bapak tidak mampu. Huahahaha. Mudah-mudahan, ya mudah-mudahan, citra polisi lalu lintas Indonesia dapat diperbaiki. Salam jengkel, Shuni Vashti [Non-text portions of this message have been removed] Milis Curhat The Friendliest Way ... [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/curhat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

