BAGI MOTIVASI boleh kan???

hari ini lebih baik dari kemarin! hari esok Harus lebih baik dari hari ini!!!






SUKSES MEMANG SUSAH!!! DAN AKAN LEBIH SUSAH KALAU TIDAK SUKSESD!


      MENANAM BUNGA PERHATIAN



      Dalam sebuah kunjungan ke sebuah panti jompo yang serba kecukupan, Ibu 
Teresa pernah memiliki pengalaman yang patut di simak. Kendati kehidupan di 
panti jompo ini tergolong lebih dari cukup, semua orang tua yang tinggal di 
sini, ketika duduk di ruangan untuk menonton tv, bukannya memandang tv, hampir 
semua mata menatap pintu masuk.

      Alasan kenapa mereka menatap pintu masuk, karena semuanya berharap akan 
dikunjungi oleh anak, keluarga atau saudara yang bisa memberi mereka perhatian.

      Membaca pengalaman ini, saya teringat sedih ke Bapak saya yang tinggal di 
kampung sana. Di umurnya yang sudah berkepala sembilan, setiap sore setelah 
mandi, beliau selalu diminta dipapah dan disediakan kursi untuk duduk di pintu 
masuk rumah. Untuk kemudian, menatap setiap orang yang lewat di jalan satu 
persatu.

      Tetangga saya sebelah rumah di Bintaro Jaya juga demikian. Hampir setiap 
sore orang tua yang berjalan dibantu kursi roda ini, duduk di depan rumahnya 
sambil memandangi jalan.

      Tadinya, saya tidak tahu apa yang mereka fikirkan, tetapi ketika membaca 
pengalaman Ibu Teresa di atas, ada semacam perasaan berdosa terhadap Bapak saya 
di kampung, demikian juga dengan orang tua sebelah rumah.

      Rupanya, mereka amat rindu perhatian. Di umur-umur yang tidak lagi 
produktif ini, setangkai bunga perhatian adalah vitamin-vitamin kejiwaan yang 
amat dibutuhkan.

      Yang jelas, siapapun Anda dan di manapun Anda berada, tua muda, di kota 
maupun di desa, semua memerlukan perhatian orang lain. Sayangnya, banyak orang 
yang amat pelit untuk memberikan bunga perhatian buat orang lain. Tidak sedikit 
orang, hanya meminta untuk diberikan bunga terakhir. Padahal, bunga terakhir 
berharga tidak mahal. Bahkan, kita tidak membelinya.

      Dalam ruang lingkup yang lebih besar, alasan ekonomi biaya tinggi sebagai 
tameng ketidakmampuan dalam mensejaterakan karyawan, jauhnya jarak sosial 
antara atasan dengan bawahan, tingginya rasio antara gaji orang di puncak 
dengan orang di bawah, teganya politisi membunuh orang untuk mencapai 
tujuan-tujuan tertentu, atau koruptor yang rela mengkorupsi dana untuk rakyat 
miskin, adalah rangkaian bukti yang bisa membawa saya pada kesimpulan, betapa 
langkanya orang dan pemimpin yang kemana-mana membawa setangkai bunga perhatian.

      Memang, ada orang yang memiliki teori, bahwa kalau kita lahir dari 
masyarakat dan keluarga yang miskin perhatian, maka kitapun akan terbentuk 
menjadi manusia yang miskin perhatian juga.

      Inilah problemanya. Jika menunggu sampai masyarakat dan keluarga berubah, 
atau organisasi berubah baru kemudian individunya berubah, maka kapan bisa 
terbentuk barisan manusia lengkap dengan bunga perhatian yang indah ?

      Ibu Teresa tepat sekali ketika menulis : "We must remember that love 
begins at home, and we must also remember that the future of humanity passes 
through The Family".

      Ini berarti, bunga perhatian mesti mulai ditanam, dipupuk dan disemai di 
rumah. Sebab, dari rumahlah bunga indah ini disebarkan. Kenapa mulai dari 
rumah, sebab masa depan kemanusiaan berjalan melalui institusi keluarga.

      Bercermin dari sini, kadang saya dihinggapi perasaan berdosa. Sebab, 
semenjak merangkap menjadi eksekutif, konsultan, pembicara publik dan penulis, 
sering kali meninggalkan rumah pada hari Senen pagi dan pulang Jumat malam. 
Kendati setiap hari saya menelepon ke rumah, merayu isteri beberapa menit, 
bercanda dengan anak-anak, minta dibelikan oleh-oleh apa, dan seterusnya, 
tetapi tetap ada sesuatu yang kurang.

      Putera saya yang bungsu, sering kali meminta makan di pangkuan saya 
tatkala saya juga makan. Wika puteri semata wayang saya, semangat sekali setiap 
kali saya sampai di rumah. Adi, putera kedua saya, sering kali merengek ke 
supir agar diajak ikut menjemput saya di bandar udara. Semua itu, membuat 
perasaan berdosa dalam diri ini. Bagaimanakah saya akan menanam bunga perhatian 
dalam keluarga yang amat saya cintai ini? Kadang, saya berharap memiliki waktu 
empat puluh delapan jam sehari. Sempat teringat petuah teman untuk meningkatkan 
kualitas bukan kuantitas hubungan dengan anak. Atau mengkompensasinya dengan 
materi.

      Akan tetapi, tetap tidak bisa memberikan kompensasi. Apapun bayarannya, 
setiap anak mendambakan Papanya ikut bermain dengan mereka. Menaikkan 
layang-layang yang ingin diterbangkan. Menendang bola yang gawangnya mereka 
jaga. Menggambarkan kelinci dalam kertas yang anak-anak sediakan.

      Menjemput puteri saya di sekolah yang sedang sombong-sombongnya 
memamerkan Papanya serta mobilnya, mengantar Adi berenang, menaikkan 
layang-layang, serta bermain game sepuasnya, atau mengajak Komang 
berjalan-jalan dan menjawab semua keingintahuannya, atau menemani isteri sehari 
penuh dan memenuhi keinginannya, adalah serangkaian mimpi yang jarang bisa saya 
penuhi. Serangkaian kegiatan, yang sebenarnya bisa membuat pohon bunga 
perhatian tumbuh di mana-mana di rumah.

      Sering kali saya dibuat iri oleh tetangga yang amat rajin menemani 
anaknya naik sepeda berkeliling komplek. Ada juga yang setiap pagi memandikan 
anjing kesayangan sang anak, menuntun anak sampai gerbang sekolah, mengajari 
mereka naik sepeda. Lebih iri lagi, kalau di bandar udara saya bertemu seorang 
suami yang menggandeng isterinya dengan penuh kemesraan.

      Semacam lahan subur untuk bunga perhatian, bukankah akan membahagiakan 
sekali jika kita bekerja di sebuah organisasi yang diisi oleh manusia-manusia 
yang saling memperhatikan? *****


      Penulis: Gede Prama




Be the Winer



best regards,

Sassu Budi Satwam

IEC
INFORMATION EDUCATION COMMUNICATION
PMI BALI CHAPTER
website:
www.pmibali.or.id
link:
www.palangmerah.or.id
Friendster:
http://www.friendster.com/sassu
contact no:
+62817342244
+62361438833
e-mail:
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke