ketika cinta itu mulai timbul... ketika persahabatan mulai berubah... saat itulah kita mulai harus berani jujur pada diri sendiri sesungguhnya apa yang kita inginkan dari dia? persahabatan atau lebih? kalau ternyata lebih dari persahabatan yg kita harapkan... kita harus berani bertanya pada diri sendiri lebih dalam lagi, sanggupkan kita menerima kenyataan kalau dia menolak kita?
kalau hati kita menjawab ya, beranilah untuk menyatakan perasaan kita terhadap dia dengan cara yg halus dgn segala resiko yg akan kita hadapi. kalau hati kita menjawab tidak,kita harus lebih lebih dan lebih dalam lagi bertanya pada diri sendiri. kalau ternyata kita salah (bahwa dia ternyata mempunyai perasaan yg sama terhadap kita)siapkah kita menghadapi penyesalan dan luka hati yg tak berujung? jadi menurut saya lebih baik terus terang, kalau ternyata ditolak... hati kita memang menjadi luka. tapi dgn berlalunya waktu luka itu akan sembuh dengan sendirinya. tahukah, bahwa lupa itu juga merupakan karunia Tuhan pada kita sehingga ketika hati kita terluka lambat laun kita bisa melupakannya? salam, stefanus

