Hallo,

Semoga Info ini bermanfaat, tolong forward juga ke teman2
mungkin mereka butuh.

Program ini ditujukan bagi siapa saja yang saat ini membutuhkan
bantuan dana untuk keperluan yang positif seperti :
1) Investasi membuka/mengembangkan usaha
2) Melunasi hutang
3) Biaya sekolah atau kuliah (Beasiswa), dalam dan luar negeri
4) Biaya riset ilmiah
5) Kegiatan sosial, termasuk LSM
6) dan sebagainya.
  
Dalam program ini tersedia dana dengan jumlah tak terbatas yang
berasal dari ribuan sumber sehingga
 memungkinan bagi siapa saja untuk
mendaftar dan berpeluang mendapatkan dana hibah, tanpa syarat!.

Program ini merupakan program yang mengutamakan kebersamaan, dengan
prinsip dari kita, oleh kita dan untuk kita, bersifat terbuka dan
tidak ada pihak yang secara langsung bisa mengontrol
 ataupun
bertanggung jawab terhadap sistem secara keseluruhan

Untuk Info lebih lengkah, login
 ke

(http://www.investasimandiri.com/?id=ery)

selamat meraih masa depan yang lebih baik dengan bergabung di dalam investasi 
mandiri
 kami,


regards,

ery
 

M Edison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
Dari milist sebelah
=====================

Menggantung Nasib pada Buah Afkir

”Usianya sudah uzur, 68 tahun, namun Mbah Tuki masih harus bergelut dengan 
kehidupan yang berat. Tiga cucunya menjadi tanggungannya. Sementara ia hanya 
mengandalkan usaha memulung buah di pasar, untuk dijual kembali”

Adzan shubuh baru saja berlalu, udara dingin pun masih melingkup. Namun Mbah 
Tuki sudah bersiap dengan kerja rutinnya. Selepas shalat shubuh, keranjang 
butut bergegas dijinjing menemaninya ke pasar buah sekitar 3 kilometer dari 
rumahnya. Sementara ketiga cucunya masih tidur pulas di kamar rumah kontrakkan 
yang sempit.

Berjalan kaki ia menyusuri jalanan yang masih sunyi. Setiba di pasar buah 
kawasan Jalan Gunung Galunggung, Kargo, Denpasar, Mbah Tuki langsung beredar 
mencari pisang-pisang afkir, berharap masih ada bagian yang bagus. Kadang kalau 
ada modal, lewat pengepul ia memborong sekeranjang, harganya Rp 5 ribu.

Begitu matahari sudah menyembul dari cakrawala dan lalu lalang manusia 
berangkat kerja. Mbah Tuki pulang ke rumah. Lantas pisang-pisang afkir yang 
dibelinya di pasar, ia ambil bagian yang masih bagus. Digoreng lantas dijual 
dengan cara berkeliling. Hasilnya lumayan untuk uang saku cucunya berangkat 
sekolah.

Istirahat? Belum. Mbah Tuki masih kembali lagi ke pasar yang sama, kali ini 
ditemani cucu terkecilnya. Kali ini ia mencari jeruk, mangga, nanas atau yang 
buah afkir lainnya. Sama, buah-buahan afkir itu dijualnya kembali setelah 
dibersihkan. Yang tidak laku, ia berikan kepada anak-anak kecil di sekitar 
tempat tinggalnya. Selepas adzan dhuhur ia baru pulang ke  rumah. Begitu setiap 
hari yang dikerjakan Mbah Tuki untuk menghidupi ketiga cucunya yang ditinggal 
kedua orang tuanya entah ke mana.

”Menawi mboten ngeten sinten sing nyukani sangune lare-lare, kale tumbas beras 
kagem nedho,” (Kalau tidak begini siapa yang memberi bekal untuk anak-anak, 
atau beli beras untuk makan),” ujar Mbah Tuki lirih.

Wanita renta itu kini terpaksa bekerja sendirian menghidupi tiga orang cucunya, 
Sri Wahyuningsih yang duduk di bangku kelas 4 SD, Alex Siswanto, dan Agus 
Setiawan ( 6 tahun).Beban hidupnya cukup berat, selain kebutuhan sehari-hari, 
Mbah Tuki masih harus mencari uang untuk biaya sekolah cucunya.

Mbah Tuki tinggal bersama tiga orang cucunya di sebuah rumah kontrakkan yang 
disewanya Rp 250 ribu per bulan. Hampir semua warga di lingkungan Mbah Tuki 
adalah pendatang. Hari Raya kemarin Mbah Tuki dan cucu-cucunya tak bisa pulang 
ke Jember lantaran tak ada biaya.
Sudah hampir lima tahun Mbah Tuki  melakoni pekerjaannya, walau melelahkan, 
namun Mbah Tuki tidak pernah mengeluh. Semuanya dikerjakan dengan sabar, senyum 
selalu tersungging di sela kelelahan.

Kepada Madani, wanita asal Jember itu mengaku tidak menyangka jika jalan 
hidupnya akan seperti ini. Awalnya ia datang ke Bali diajak anaknya lelakinya 
yang bekerja di Denpasar, 12 tahun silam. ”Sekarang anak saya pergi ke Jakarta, 
namun sudah setahun ini tidak ada kabarnya. Istrinya pergi meninggalkan rumah 
saat Agus, cucu saya, baru berumur 2 tahun,” kata Mbah Tuki.
(Source : Majalah Madani DSM Bali) DICOPY DARI alimmahdi.blogspot. com

Satu cermin lagi buat kita. Sesulit apapun pekerjaan, ternyata masih ada 
pekerjaan. Memang terkesan jorok, terkesan tidak berkelas, terkesan memalukan. 
Tapi apakah yang terkesan jorok, yang terkesan tidak berkelas dan yang terkesan 
memalukan lebih mulia dari pencuri, lebih mulia dari perampok, lebih baik dari 
para koruptor? Tentu kita sepakat, pencuri, perampok dan koruptor tidak lebih 
mulia dari Mbah Tuki.

Usia Mbah Tuki sudah 68 tahun. Tapi semangat, keuletan dan tahan bantingnya 
tidak kalah dengan anak muda. Bagaimana dengan anak muda sekarang? Jangan mau 
kalah dengan mbah Tuki. Tetap semangat, ulet dan sungguh-sungguh!

==================


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com  
     
                                       

        
 between 0000-00-00 and 9999-99-99        

Kirim email ke