Sepenggal Kisah Hidup

C.I.N.T.A lima hurup yang membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan
ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk Ajaib itu tiba
dan menyergapku dari belakang, memiting ku dan dengan hebatnya membantingku
dengan kasar, maka jatuhlah aku ke pelaminan.

Aku seorang bebas, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan.
Seorang yang berjiwa bebas terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur
kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang
raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama
sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung
menggantung.

"Ini pernikahan resmi kan, bu" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua
tamu yang sempat hadir pada acara itu pulang.

"Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada Saksi dan petugas KUA. Sah menurut
hukum dan agama. memangnya kenapa?"

"Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang
muallaf sejak Agustus lalu. Jadi maklum belum begitu paham.

Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut
yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan satu
dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Dengan Sedikit merenung,
aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah ini. rumah Tidak ada
penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah. Lonjoran-lonjoran bambu tampak
jelas.

Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun
lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan
pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku
bahagia. Ayahku telah berpulang 3 tahun lalu. Rambutku terasa sedikit naik.
Angin bukit batu yang kering,

"Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa saja, Bu…," gumamku dalam
batin.

Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia. Meski acara tersebut
berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti berkelana.
Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan
harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh
kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh dan Cinta membuatku berhenti
melangkah.

Sebagai pengelana, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat
perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. Jadilah
aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam berumah
tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun oleh seluruh
umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali.

Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam bayanganku, semua
keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti rumah,
penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga kali aku
membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu. Rumah
pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke bandung.
Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya.

Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan
berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di
pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun
lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi.
Pacarku ke Singapura bekerja di sana.

Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah
sentra pariwisata di Pelosok Bekasi. Sebuah rumah joglo tua dan angker.
Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa yang mengguncang diriku, aku
memutuskan berkelana lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.

Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya
rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini
istriku tinggal bersama orang tuanyanya. Ia memang anak yatim yang didera
penderitaan hidup berkepanjangan.

Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku
tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan
sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat
tripleks.

Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi
pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun
pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal, di
ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi aroma
parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana lagi?
Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua
tahun lalu, sepulang dari tugas kantor dari batam, dan kubeli di daerah
jodoh batam, dekat Supermarket Top100, Nagoya-Batam.

Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di
wajahnya. "Mau ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari
belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan
cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya
berbinar-binar. Ia bahagia, Lalu apakah aku bahagia?

Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang lebih bersinar di
antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu meraih segala
sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula aku.
Seringkali aku merasa lelah Berkelana dan ingin hidup layak seperti pada
umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang
disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim.

Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada
kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata
surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas bukit
kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku
sampaikan permohonan keramatku itu. "Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh
istri dan sebuah keluarga," begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala
sesuatunya secepat kilat.

Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun
silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada
getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir
lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya berlangsung
biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia
mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama aku, harus serius…,"
katanya.

Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun mencium punggung tangan
kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam "bertabur
bintang" itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan,wedding
taart dan acara meriah.

Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat, semua
berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar
sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan matahari
bersinar ramah.

Ku coba nikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok sebelah kemudiku
selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa bungkus rokok.
Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah dan sangat
suka memakai aksen…gitu loh. "Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa
Liya beda dengan Lia.

Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita
selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem kecil-kecilan,
saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
"Aku pengin punya anak 9," kataku.
"Dua saja….Capek, Ngurusinnya" jawabnya sambil menepuki perutnya. yang putih
itu

Lalu kami berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan
kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis
lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di
cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku
selalu merindukan setiap menitnya.

Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat
perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya,
tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat.
Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh.
Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap.
Salah paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan
pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.

Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api pertengkaran. Berkilat-kilat. Aku
sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk
istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami, tidak bisa ku mengerti.
"Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.
Menggelegar.
"Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Bulan Suro…harus serba hati-hati,"
kataku
mengingatkan.

"Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip.
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja
menggemaskan dan menawan hati.

ia pun berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal
sepele sampai besar. "Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan
bunga…Sabunku juga bukan yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya agak
berkerut-kerut, ketika aku bawakan setangkai red rose, yang ku tanam sendiri
dan ku kemas dalam plastik cantik.

Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal
rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang jengkel
juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan perasaan-perasaan yang
tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa harus begitu
tergesa-gesa menikah?, tidakkah harus aku memilih lagi.

"Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu.

Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa
lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi.
Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa
lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba
bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa
harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat
sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur sebuah
taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya
lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas
seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini, "memang aku jago
untuk berteori ucapku".

"Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku kepadanya.
Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat. Lalu
bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada bau parfum
yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil bersungut-sungut. Aku
terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia sudah terlihat kusut. Tapi
aku tidak memikirkannya terlalu dalam. Sewaktu turun Corola Biruku, ia
hampir lupa mencium tanganku.

"Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku. Ia pun
menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi.
"Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun.

Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi
puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi
kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati, dan sudah kami
taksir.

"Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," ujarnya
sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.

Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti
permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. Ternyata
tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua
hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun ganti
nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku
bersedih.

"Ini hanya sementara…," katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang
terik. "Sementara…," itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat
dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu.

Kehidupanku pun kembali limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak
ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan
masa lalu kembali menggelegak lagi. Kembali berkelana dan mencari hati
seroang wanita. Ya, berkelana. Akulah, pengelana itu!

Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai.
Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan
terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku
merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku,
mengikutiku berdoa.

"Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah
keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi
ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.

Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku.
Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS masuk,
dadaku berdebar.

"Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen to sama kamu Jelek. Ke sini tak
buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku. Ah, ternyata itu SMS
yang pending sejak empat minggu lalu. Dasar Wanita manja,dan aku pun
menjalani sepenggal kisah hidupku lagi, serta berhenti kembali mengurungkan
niatku untuk berkelana.
Depok, 14 April 2008

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

Kirim email ke