Tayangan TV/Sinetron/Film Adalah Elemen Perusak Moral
Bangsa<http://erwin-informasi.blogspot.com/2008/05/tayangan-tvsinetronfilm-adalah-elemen.html>

Liburan kemarin sempat ada acara perkumpulan keluarga besar saya, banyak
saudara yang berusia kanak-kanak, tapi yang anehnya para kanak-kanak ini
terlihat lebih dewasa dari umurnya, itu bisa dilihat dari nyanyian-nyanyian
yang di lantunkan berupa lagu-lagu cinta, atau perkataan dia pacar aku,
bayangkan anak usia 4 tahun sudah menyanyikan lagu cinta, dan mengetahui
tentang pacar. memang ironis saat ini lagu-anak di televisi hampir dikatakan
tidak ada. dan tayangan yang bermutu untuk kita dan anak-anak sangatlah
jarang.

Seperti kita ketahui bahwa kita (OranG dewasa & Anak-anak) senang sekali
menonton TV. Kita tidak segan-segan untuk duduk di depan kotak ajaib
tersebut selama berjam-jam. Sampai saat ini kita tahu bahwa sebagian besar
tayangan Televisi berisi tentang kekerasan, perebutan harta, unsur-unsur
yang meyentuh sisi pornografi dan pornoaksi, tayangan mistis, budaya
hedonis, dll.

Media menjadi ubiquitous, ada dimana-mana, dan kehadirannya sulit untuk
dihindari atau ditolak. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tekstur
dan rutinitas kehidupan sehari-hari kita. Televisi khususnya, menyediakan
sumber daya simbolik yang memberi kita referensi-referensi untuk bersikap
dan bertingkah laku. Tak heran jika media massa dianggap telah menggeser
fungsi institusi sosial tradisional seperti keluarga, gereja, sekolah atau
pun pesantren.

Hasil Riset dari 67 peneliti dari 18 perguruan tinggi indonesia membuktikan
ditemukan dampak negatif dari Televisi yang belakangan ini sangat intens
peranya dalam kehidupan masyarakat indonesia, tidak terlepas diri saya
sendiri. hasil riset tersebut menunjukan bahwa sinetron televisi yang
merupakan sumber penghasilan terbesar bagi industri televisi dengan
mengutamakan rating daripada isi dari cerita yang ada.

para peneliti tersebut memberi tahu sebagai berikut 57% adegan sinetron atau
film remaja/dewasa adalah adegan seks, 2% adalah adegan telanjang, 10% kata
cabul, kata-kata kasar, umpatan yang seharusnya tidak diperbolehkan, karena
merusak mental anak bangsa, 18% adalah ciuman, 12% perkosaan, dan 1 % seks
menyimpang. sementara adegan yang sesuai moralitas (menolong teman,
menghotmati orang tua) tidak lebih dari 14%

Adegan petualangan, kekerasan, intrik, isu, Gosip dijejalkan hampir setiap
harinya tak ubah sebagai candu yang dibuaikan untuk kita semua. Dampak
langsung dari tayangan televisi adalah pengimplementasi gaya hidup yang
tertuang dalam adegan TV/Film berupa seks bebas yang beredar di kalangan
remaja, Obral Aurat Tubuh, Pornografi/Porno aksi. premanisme, Tawuran Adu
Domba dan hal-hal tersbu dikemas dengan apk dan ditungkan dalam bentuk
senetron & Film yang ada.

pada saat yang sama merujuk dari larisnya Film Ayat-ayat cinta di bioskop,
memang hal ini satu sisi adalah kebangaan terhadap baiknya perfilman
nasional, tapi karena banyak yang merujuk dari film tersebut, banyak film
yang menyugguhkan jalan cerita yang sama, dan hal ini ada dampak negatifnya
berupa Pelegalan Poligami. yang sebenernya islam membolehkan tetapi dengan
syarat yang sangat ketat.

Dalam film juga hampir sebagian besar film indonesia menampilkan
kemewahan,dan mimpi-mimpi yang sangat tinggi dan tidak terjangkau oleh
sebagaian besar warga indonesia, yang ajaibnya yang menonton TV di indonesia
adalah golongan menengah kebawah dimana kehidupan mereka tidak seperti yang
diceritakan dalam Tv,Film atau Sinetron. Dampak dari budaya kemewahan ini
dapat kita lihat dari Korupsi yang meraja lela, banyaknya kaum
pelajar/mahasiswa yang menjual diri mereka untuk menggapai kewahan seperti
yang dimimpikan dalam Tv/Sinetron/Film tersebut.

Berbagai acara yang menayangkan tentang pergaulan bebas remaja di kota besar
yang sarat akan dunia gemerlap (dugem). Seperti tayangan remaja dalam
mengonsumsi obat-obatan terlarang, cara berpakaian yang terlalu minim alias
kurang bahan / sexy, goyang-goyangan yang sensual para penyanyi dangdut,
kisah percintaan remaja hingga menimbulkan seks bebas, ucapan-ucapan kasar
dengan memaki-maki atau menghina dan sebagainya. Inilah yang seringkali
menjadi contoh tidak baik yang sering mempengaruhi remaja-remaja yang berada
di kota maupun di daerah untuk mengikuti perilaku tersebut.

Media diyakini telah menggeser tugas guru, agamawan maupun orang tua sebagai
educator, menyediakan role-model bagi anak-anak dan remaja, dan menjadi
sumber acuan untuk mendefinisikan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam
hal ini, media telah menjadi semacam contemporary civil religion (Robert N.
Bellah 1967) atau agama sipil kontemporer, yang melibatkan bentuk-bentuk
pemujaan baru lewat ritual-ritual menonton dan mengkonsumsi media.
Persoalannya, bukan rahasia lagi bahwa realitas yang dibawa oleh media
adalah realitas yang berselimut kepentingan kapitalis industrial yang tidak
lain berujung pada akumulasi profit semata.

Kehadiran para agamawan karenanya tak lebih dari sekedar gincu saja, agar
kesan dakwah tetap terasa. Jika agamawan hanya ikut-ikutan terjebak dalam
selebritisasi dan komersialisasi agama di layar kaca, tugas untuk
mencerahkan masyarakat pun akhirnya jadi terabaikan.

sungguh ironis media hanya menampilkan sisi hiburan saja dan media kurang
menerapkan fungsi edukkasi, peningkat Nasionalisme, peningkat kehidupan
beragama yang baik, hal ini tidak terlepas dari peran produser-produser
film/Acara televisi dapat kita lihat adalah orang asing, sebut saja keluarga
PUnjaabi yang terkenal dengan raja sinetron. karena latar belakang meraka
dari india, maka Film kita tidak mengakar budaya hanya mengikuti budaya luar
yang tidak sesuai budaya amerika dengan holiwoodsnya,budaya India
Bollywoodsnya.

Budaya media, dalam hal ini, bekerja secara hegemonik dan ideologis untuk
mendukung kepentingan para pemilik media. Prinsip yang penting laku dan
mendatangkan untung, menjadikan tayangan media tak lebih dari bujuk rayu
kosong yang dikemas dengan citra-citra yang penuh warna. Media makin asyik
mengejar kepentingan ekonominya dan cenderung mengesampingkan tanggung jawab
sosialnya untuk mendidik dan mencerahkan syarakat. Menjamurnya bisnis media
di Indonesia, termasuk televisi, pasca jatuhnya rejim Orde Baru, ternyata
tidak berkorelasi positif dengan beragamnya tayangan yang bisa dipilih dan
dinikmati oleh masyarakat.

Situasi ini sebetulnya bisa berubah jika negara mampu melakukan intervensi
dan menjalankan fungsi moderasinya pada pasar media. Sayangnya,
berkelindannya kepentingan- kepentingan ekonomi dan politik dalam industri
media serta fenomena tawar menawar politik membuat pemerintah tidak mampu
menerapkan regulasi yang tegas dan cenderung ambigu untuk menertibkan carut
marutnya realitas pertelevisian kita, baik dari sisi industri maupun isi
media. Produk perundang-undangan yang sudah ada seperti UU Penyiaran/2002
maupun kehadiran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seolah tak kuasa dan tak
punya gigi untuk menghadapi rejim televisi. Ambiguitas pemerintah untuk
mengintervensi dan menertibkan pasar media pada akhirnya berdampak pada
menjamurnya tayangan-tayangan televisi yang disinyalir oleh banyak pihak
sebagai pemicu rusaknya moral masyarakat.

Pada akhirnya kita sebagai penonton di tuntut untuk lebih kritis memilih
tayangan TV yang akan di tonton . Dengan begitu, kita bisa menjadi konsumen
yang bijak. TV dapat kita posisikan sebagai "alat bantu" meningkatkan
kualitas hidup, bukannya malah membuat kita membiasakan budya berpikir
instan, serba mudah, dan hanya jadi "pembantu" yang mendongkrak rating untuk
para pengiklan dan stasiun TV. Komplain masyarakat melalui surat / tertulis
kepada KPI terhadap tayangan yang bermasalah di TV, mengirimkan surat
pembaca di media cetak, seruan-seruan lewat milist-milist, bahkan mengajukan
komplain/somasi langsung ke TV yang bersangkutan bisa menjadi pilihan untuk
menyuarakan hak publik terhadap kualitas tayangan TV Kita.kolaborasi
sinergis antara elemen masyarakat sejatinya sangat dibutuhkan saat ini untuk
merubah tayangan Televisi/sinetron/Film yang merubah budaya bangsa kearah
yang lebih buruk..  Karena saat ini Tayangan TV/Sinetron adalah salah satu
kompunen perusak Ahlak bangsa.. mari kita jaga diri kita dari tayangan yang
buruk...

Ditunggu tayangan Televisi yang mengajarkan moral kebaikan, nasionalisme,
Dan realistis kehidupan. Keritik, saran, tanggapan dari tulisan ini dapat
dikirim langsung pada [EMAIL PROTECTED]

Depok 16 May 2008
Erwin Arianto
http://erwin-informasi.blogspot.com/2008/05/tayangan-tvsinetronfilm-adalah-elemen.html


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

Kirim email ke