Berdasarkan berita dari Kompas, diperkirakan angka pengangguran bakalan naik. Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengantisapi hal tersebut? Penambahan angka pengangguran terutama disebabkan oleh korban PHK dan 'masukan rutin' dari lulusan sarjana yang sedang mencari kerja. Mengupas tentang pengangguran jenis ini memang berbeda dengan pengentasan kemiskinan. Orang miskin biasanya kurang segala-galanya untuk urusan materi, dari pangan, sandang dan papan (perumahan) serta keahlian (skill). Sehingga mengentaskan kemiskinan dijabarkan sebagai upaya mengubah kehidupan, dari skill, penciptaan lapangan kerja sampai peningkatan pendapatan. Para pelaku (stakeholders) pengentas kemiskinan lebih suka memakai istilah "peningkatan pendapatan" daripada "menjadi kaya" dalam targetnya. Mudahnya cerita, pendapatan naik 10.000 saja sudah dianggap berhasil, walaupun kehidupan si miskin relatif tidak berubah (baca: tetap miskin). Bahkan ada juga program yang cenderung memberi "peningkatan pendapatan SESAAT" alias sekedar bagi-bagi angpaw (sejumlah uang atau beras), sekedar untuk membuat "tidak miskin" untuk SESAAT. Metode ini mirip dengan pemberian zakat fitrah yang memang tujuannya agar si fakir miskin dapat merayakan idul fitri tanpa kelaparan. Kembali ke... korban PHK. Korban PHK jauh berbeda dengan si miskin tadi. Walaupun ada juga, sudah miskin, kena PHK pula. Secara umum korban PHK, sudah cukup mapan di pangan, sandang, papan dan skill. Yang hilang adalah pekerjaannya. Perlu dipahami oleh korban PHK ini bahwa ter-PHK-nya dia bukan disebabkan oleh faktor skill yang tidak memenuhi syarat, tetapi lebih banyak karena faktor eksternal, terutama akibat krisis global yang melanda perusahaan tempatnya bekerja. Hakekat peristiwa PHK adalah pemutusan kerja akibat kita bergantung pada perusahaan milik orang lain. Nah, kenapa kita tidak membuat perusahaan sendiri, sehingga tidak ada istilah PHK seumur hidup? Yang terakhir ini sering dikenal sebagai Wirausaha. Wirausaha adalah obat mujarab melawan 'penyakit PHK'. Tetapi, banyak orang yang tidak siap berwirausaha karena telah sekian lama, bahkan puluhan tahun, terbiasa kerja dengan sistem yang dibuat orang lain (baca: perusahaan). Wirausaha adalah sistem hulu-hilir, input-proses-output, produksi-pemasaran, yang kesemuanya dibuat oleh diri sendiri. Beberapa diantaranya memang memerlukan bantuan orang lain, tapi tetap butuh motivasi dan manajemen diri yang tinggi. Sulitkah berwirausaha? lihatlah penjual pulsa, hanya bermodal HP pribadi dan deposit uang untuk pulsa, bisa jualan dimana saja dan kapan saja. andai terjual 20x, untungnya sekitar Rp 20rb. lihatlah penjual angkringan, modal gerobak dan makanan dari bossnya, modalnya hanya tenaga, air buat minum, dan gula. makanan gak habis, kembali tanpa denda. untungnya per hari 30-50rb. Modal kecil, resiko kecil, penghasilan lumayan Modal besar, resiko besar, penghasilan optimal Bidang usaha yang cukup tahan terhadap krisis global yang berdampak pada arus eksport-import adalah bidang pertanian, terutama pertanian yang berhulu-hilir lokal. Dari pengolahan lahan sampai konsumen berada di tingkat lokal. Jadi, jenis wirausaha yang lebih cocok untuk pengentasan pengangguran (baca: korban PHK) adalah bidang pertanian. Pihak terkait, seperti pemerintah, perusahaan yang bersangkutan dan pihak lain (termasuk perguruan tinggi) perlu berkolaburasi menyelenggarakan pelatihan wirausaha bidang agribisnis di berbagai tempat untuk berbagai jenis pengangguran. Pelatihan dimaksudkan sebagai pengetahuan singkat dan dapat cepat diaplikasikan, sesuai dengan kondisi dan potensi pesertanya. Para korban PHK juga berpotensi menjalin networking yang handal karena biasanya mereka sudah terbentuk dalam suatu komunitas tertentu dan sering melakukan komunikasi. Modal komunikasi yang baik ini hanya perlu sentuhan sedikit untuk menjadi ajang kerjasama yang saling menguntungkan. Dalam pelatihan dibuat simulasi, siapa pihak yang bagian produksi, bagian proses, bagian pengemasan, bagian distribusi, bagian pemasaran, dan bahkan bagian konsumennya. Pihak donatur perlu memberikan stimulan dana dengan pendampingan yang super ketat. Maklumlah, sisi terlemah dalam pengembangan ekonomi mikro adalah pengembalian modal pinjaman. Setiap kurun waktu tertentu, secara teratur dilakukan evaluasi bersama dan merencanakan solusi serta kegiatan tindak lanjut. Sehingga jumlah pengangguran yang ada dapat dikurangi secara sistematis dengan timbulnya berbagai lapangan usaha baru yang diciptakan oleh kolaburasi korban PHK ini.
Muhamad Kundarto Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta (Survey, Pemetaan, Evaluasi Sumberdaya Lahan, dan Pemberdayaan Masyarakat) HP: 08180 272 6112 http://mkundarto.wordpress.com/

