T = "Tahun 2009 M waktu bumi" adalah artikel yg luar biasa, Bung Leo! Perspektif yg menelanjangi konsep wahyu & Tuhan, yg sangat haram diperbincangkan apalagi dikutak-katik oleh para penjaga iman agama-agama semit. Mereka selau menuntut adanya pengakuan keyakinan (iman) tanpa reserve, tanpa pertanyaan, untuk hal itu. Emangnya manusia itu robot atau zombie? Terima kasih Bung Leo, kalau bisa note berikut penekanannya lebih ke Islam (ajaran yg kuanut & mayoritas penduduk Indonesia) Teruslah bernubuah Bung Leo, demi kemaslahatan ummat manusia. J = Tentu saja manusia bukan robot, walaupun kita juga tahu bahwa sebagian penganut agama-agama semit memang telah berusaha untuk menciptakan manusia robot atau zombie. Untungnya tidak berhasil. Manusia is manusia, yg bisa berpikir, mempertanyakan, membandingkan, dan mengambil kesimpulan sendiri. Manusia mempunyai HAM untuk memilih apa yg disukainya walaupun penganut agama yg fanatik akan bilang bahwa manusia tidak bisa memilih dan harus dipilihkan, oleh Allah? Kalau anda mengambil Islam sebagai contoh, maka tentu saja anda akan mendapati banyak salah kaprah juga. Semua agama itu isinya salah kaprah, baik disengaja maupun tidak. Salah kaprah dalam Islam mungkin bermula dari pengertian nubuah sendiri. Kebanyakan orang berpikir bahwa ada wahyu yg diturunkan dari atas langit oleh Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril yg muncul tiba-tiba dan bicara di depan sang nabi. Pedahal tidak ada yg dinaikkan atau diturunkan, dan segala wahyu atau nubuah itu muncul di dalam kesadaran sang nabi itu sendiri. Muncul begitu saja sebagai hasil refleksi dari kesadaran sang nabi sendiri. Iqro artinya bacalah. Baca apa? Baca yg ada di dalam kesadaran sendiri. Apa yg ada di dalam kesadaran itu diucapkan saja, dan itulah iqro. Yg ada di dalam kesadaran itu berasal dari pengalaman puluhan tahun sejak sang calon nabi berusia 12 tahun dan ikut perjalanan kafilah ke Suriah. Di sana dia bertemu dengan banyak penganut Yahudi. Dari penganut Yahudi dia mendengar kisah para nabi Yahudi, kisah para raja Yahudi, syariat Yahudi. Sang calon nabi juga bertemu dengan banyak penganut Nasrani yg menceritakan kepadanya kisah tentang Isa (Yesus). Dan semuanya direkamnya di luar kepala, tanpa ditulis. Semuanya diingatnya yg tentu saja sangat normal saat itu. Mayoritas manusia saat itu buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis, dan sang nabi yg buta huruf bukan merupakan sesuatu yg luar biasa. Kisah para nabi Yahudi itu dihapalkan dan dilantunkan. Orang belajar dari mendengar apa yg dilantunkan dan dihapalkan. Sang calon nabi akhirnya kembali ke Mekkah sebagai seorang yg percaya kepada nabi-nabi Yahudi, termasuk Isa (Yesus). Lalu dia konflik dengan penduduk Mekkah yg tentu saja tidak percaya kepadanya. Lalu dia hijrah ke Medinah yg isinya saudagar Yahudi. Di Medinah dia memperoleh kesamaan pandangan dengan para penduduknya, yaitu sama-sama percaya kepada syariat Yahudi. Tetapi para penduduk Medinah tidak mau mengakuinya sebagai seorang nabi. Iyalah, semua nabi itu orang Yahudi: Dari Musa, Daud, Sulaiman, dlll semuanya orang Yahudi. Bahkan Yahya dan Isa yg termasuk nabi-nabi Nasrani juga orang Yahudi. Nah, semuianya ini orang Yahudi, kok tiba-tiba ada orang Arab minta diakui sebagai seorang nabi juga? Malah minta diakui sebagai nabi terakhir? It's impossible, sehingga terjadi konflik antara sang nabi dan penduduk Yahudi di Medinah. Lalu perang blah blah blah... dan penduduk Yahudi di Medinah dirampas hartanya yg lalu digunakan untuk menyerang Mekkah. Setelah itu sang nabi memindahkan kiblat (arah doa) dari Yerusalem ke Mekkah. Kiblat yg dipakai oleh sang nabi yg asli adalah ke Yerusalem, tetapi karena konflik dengan orang Yahudi, akhirnya kiblat itu dipindahkan ke Mekkah. Dan Mekkah dijadikan tempat ziarah, persis seperti status Yerusalem di dalam agama Yahudi. Itulah Islam sebagai agama "terakhir dan sempurna" (dalam tanda kutip). Isi dari kitab yg disucikan di Islam tidak lain dan tidak bukan merupakan kisah para nabi Yahudi plus sumpah serapah dari Allah yg "kebakaran jenggot" karena dibilang punya anak, dsb... Di luar itu ada juga yg orisinil berhubungan dengan situasi sang nabi sendiri, tapi itu tidak banyak. Yg paling banyak adalah referensi terhadap para nabi Yahudi itu yg, sayangnya, tidak disusun secara beraturan. Kalau kita mengerti isi dari kitab-kitab yg disucikan oleh Agama Yahudi dan Nasrani, maka akan mudah sekali bagi kita untuk mengerti isi dari kitab yg disucikan oleh Agama Islam. Gabungan dari kitab-kitab Yahudi dan Nasrani namanya Alkitab (Bible), isinya 50 kitab, dan sangat teratur. Kita bisa menelusuri sejarah para nabi, kisah raja-raja, nubuat-nubuat, dsb... Tetapi Al Quran tidak demikian. Mereka yg cuma membaca Al Quran saja tidak bisa mengerti Alkitab, tetapi mereka yg membaca Alkitab akan otomatis mengerti Al Quran. Pembaca Alkitab akan bisa tahu rujukan yg muncul tiba-tiba tanpa ujung pangkal di suatu ayat Al Quran itu merujuk kepada situasi apa, siapa pelakunya, dan bagaimana kisahnya. The rest is history. Islam menjadi "anak haram" dari Yahudi dan Nasrani bahkan sampai saat ini. In this case, anak haram yg suka memaki-maki kedua orang tua aslinya dengan alasan bahwa mereka telah melahirkan dirinya tetapi tidak pernah merasa maupun mengakuinya. Iyalah, ini kan agama alias institusi, dan tidak bisa melahirkan bayi, memangnya manusia? Saya tidak bilang ada agama yg benar atau yg salah, Semua agama itu sama benarnya dan sama salahnya. Kenapa benar? Karena kita bisa menganyam kisah apapun sehingga menjadi agama bagi kita. Kita bisa bilang Jibril datang dan menyuruh kita iqro. Setahu saya itulah yg dialami oleh Lia Eden juga. Kita bisa bilang bahwa yg datang itu bukan Jibril melainkan malaikat yg namanya Michael. So what, bisa saja, karena ini berada dalam domain pribadi manusia per manusia. Sama salahnya karena kalau sudah menjadi institusi akhirnya melahirkan ajaran yg dibakukan, namanya dogma. Dogma itu ajaran yg tidak boleh dipertanyakan, haram, pedahal boleh saja kita pertanyakan. Tanya saja walaupun belum tentu bisa dijawab. Bisa dijawab ataupun tidak bukan menjadi masalah karena kita berhak untuk meninggalkan agama apapun yg kita rasa sudah tidak sesuai dengan kita. Setahu saya kita semua lahir tanpa agama, mengapa kita harus hidup dan mati dengan agama? Agama is nothing but metode belaka, cuma metode untuk kultivasi spiritualitas manusia. Ada yg merasa cocok dengan metode dari agama dengan teori tentang amal ibadah maupun surga neraka. Ada juga merasa tidak cocok. Kalau tidak cocok, ya ditinggalkan sajalah. Merupakan HAM (Hak Azasi Manusia) untuk beragama apapun maupun untuk tidak beragama apapun. Theist artinya beragama. Atheist artinya tidak beragama, walaupun tidak berarti tidak ber-Tuhan. Siapa bilang orang Atheist tidak ber-Tuhan? Kalau Tuhan benar ada, maka Tuhan adanya di kesadaran tiap manusia, termasuk mereka yg beragama maupun tidak beragama. Kalau Tuhan memang ada, maka agama apapun tidak akan menjadi masalah sebab, menurut saya, Tuhan itu tidak jualan agama. Tuhan tidak jualan agama "terakhir dan sempurna". Yg jualan agama "terakhir dan sempurna" adalah manusia yg ingin diakui sebagai nabi which is his or her right. Merupakan HAM Kebebasan Berbicara (Free Speech) bagi siapapun untuk jualan agama "terakhir dan sempurna", termasuk Lia Eden. Kita menginjak-injak HAM yg ada di diri Lia Eden kalau kita bilang bahwa Lia Eden salah karena mengaku-ngaku sebagai nabi. So, siapapun berhak untuk mengaku sebagai nabi, dan tidak perlu mengakibatkan Allah kebakaran jenggot dan protes tidak punya anak. On the other hand, kalau ternyata Allah itu tetap tidak mau terima dan terus protes bahwa dirinya tidak punya anak, maka itu juga merupakan HAM yg ada di Allah. Namanya HAM Kebebasan Berbicara. Biar saja Allah protes, memang ada hubungannya dengan kita? Isa (Yesus) tidak pernah mengakui Allah sebagai bapaknya. Yg diakui sebagai "abba" atau bapak oleh Isa adalah JHVH (Yahveh). Isa bilang: "Yahveh dan aku adalah satu". Yahveh yg muncul di Musa 1,200 tahun sebelum Isa bilang bahwa: "Aku adalah aku". Pedahal kita tahu bahwa Yahveh tidak lain dan tidak bukan adalah kesadaran tinggi yg adanya di Musa. Ternyata Isa juga mengerti. Sama seperti Musa, Isa mengerti bahwa yg namanya God itu adalah kesadaran tinggi yg adanya di diri kita semua. Makanya Isa mengajarkan prinsip kesatuan antara kesadaran manusia dan kesadaran tinggi yg ada di dirinya dengan kata-kata yg sangat sederhana: "Aku hidup di dalam Bapa, dan Bapa di dalam aku." Apa yg berlaku bagi Isa tentu saja berlaku bagi semua manusia karena Isa itu manusia biasa, tidak ada bedanya dengan kita semua. Al Hallaj bilang: "Ana al haq". Rumi bilang: "Dari permulaan sampai akhir perjalanan, cuma ada aku sendiri saja." Syech Siti Jenar bilang: "Kulo gusti." Ya, dari Musa sampai Isa semuanya mengajarkan manunggaling kawula gusti. Itu essensi dari agama-agama semit yg, konon, merupakan orang tua yg tidak bertanggung jawab dari agama "terakhir dan sempurna" yg bernama Islam. Tetapi untungnya sebagian kalangan Islam juga bisa mencapai essensi itu. Kaum sufi itu bisa mengerti essensi dari ajaran Monotheisme semit yg tidak lain dan tidak bukan tentang Tuhan yg adanya di dalam diri kita sendiri. Tentang Allah sebagai kesadaran tinggi (higher self) yg adanya di dalam kesadaran tiap orang dari kita. Leo @ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

